Krisis Moneter Iran: Rial Rontok 2.200% di Tengah Gejolak Politik

3 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

12 January 2026 11:22

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran sedang bergejolak di tengah tekanan ekonomi yang kian menghimpit warganya, setelah nilai tukar rial terpuruk dan inflasi tinggi menggerus daya beli sehingga memicu gelombang protes anti-pemerintah yang meluas sejak pekan lalu.

Aksi massa dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, disertai bentrokan dengan aparat serta insiden kebakaran di beberapa lokasi, sementara otoritas merespons dengan pengetatan penindakan dan pembatasan akses informasi.

Pemerintah Iran pun merespons dengan memperketat dengan melakukan penindakan dan memberlakukan pemadaman internet sejak Kamis (8/1/2026), namun pembatasan tersebut disebut tidak menghentikan demonstrasi.

Berdasarkan berbagai video yang beredar menunjukkan ribuan orang masih turun ke jalan di Teheran hingga Sabtu pagi. Adapun, dari Washington, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ikut angkat bicara dengan menyatakan dukungan terhadap para demonstran dan menyinggung kesiapan AS untuk membantu, sembari memperingatkan Teheran agar tidak meningkatkan kekerasan terhadap warga.

Gelombang protes ini tidak muncul tiba-tiba. Di balik eskalasi di jalanan dan respons keras pemerintah, akar ketegangan juga dipicu oleh tekanan ekonomi yang kian menjerat warga Iran.

Mulai dari merosotnya daya beli hingga lonjakan biaya hidup. Pelemahan tajam nilai tukar rial dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu pemicu utama yang kemudian mempercepat kenaikan harga dan memperburuk sentimen masyarakat Iran terhadap pemerintahan.

Nilai Tukar Rial Jatuh Hingga Inflasi Meningkat

Melansir dari beberapa media, pada akhir Desember 2025, Iran Rial (IRR) sempat jatuh ke level terendah dalam sejarah sekitar IRR 1,4 juta per dolar Amerika Serikat (AS) di open market.

Adapun, melansir data t pada perdagangan Jumat (9/1/2026) nilai tukar rial Iran berada di level IRR 1.000.010/US$ padahal di awal perdagangan 2026, nilai tukarnya sempat dibuka di level IRR 42.000/US$, artinya nilai tukar rial Iran telah melemah sekitar 2.280,98% secara year to date/ytd.

Permintaan dolar AS melonjak seiring inflasi yang tinggi terus menggerus tabungan masyarakat Iran. Rumah tangga hingga pelaku usaha pun bergegas melindungi aset yang mereka miliki dengan membeli dolar atau emas.

Langkah ini dinilai rasional sekaligus bersifat memperkuat diri sendiri, mengingat banyak harga di Iran baik secara langsung maupun tidak langsung, terkait dengan pergerakan dolar AS. Kondisi tersebut pada akhirnya ikut menekan nilai tukar rial.

"Selama inflasi tetap menjadi masalah kronis dalam perekonomian, berharap nilai tukar yang stabil tidaklah realistis," ujar ekonom Mohammad Kohandal, dikutip dari Tasnim News Agency.

Tekanan pada rial juga datang dari faktor eksternal. Sanksi yang terkait dengan program nuklir Iran membatasi ekspor minyak dan menghambat akses ke perbankan internasional, sehingga mengurangi kemampuan negara tersebut untuk memperoleh dan memindahkan valuta asing.

Isolasi ini menambah tekanan pada rial, meski kebijakan pemerintah yang buruk memperparah dampaknya. Pada Desember 2025, otoritas mengizinkan importir barang kebutuhan pokok untuk mengakses pasar valuta asing terbuka alih-alih melalui jalur bersubsidi.

Di saat yang sama, inflasi telah memperkuat ekspektasi kenaikan harga lanjutan. Statistical Center of Iran melaporkan inflasi point-to-point sebesar 52,6% pada akhir Desember, naik 3,2% dari bulan sebelumnya, sementara inflasi tahunan rata-rata meningkat menjadi 42,2%. Tekanan biaya hidup yang berkepanjangan ini mendorong rumah tangga mencari pengaman pada dolar, yang makin mempercepat kejatuhan mata uang tersebut.

Ketidakpastian keamanan dan politik juga ikut memperdalam tekanan.

Risiko tensi regional, ditambah peringatan publik dari pejabat Iran mengenai kemungkinan sanksi Barat, memperkuat kekhawatiran bahwa akses terhadap valuta asing akan semakin mengetat.

Kekhawatiran eskalasi yang melibatkan Iran dan Israel, diplomasi nuklir yang mandek, serta menurunnya kepercayaan terhadap perekonomian mempercepat aksi jual rial di pasar informal.

Dampaknya terasa dengan cepat. Harga pangan pokok seperti beras, minyak goreng, dan daging melonjak tajam, begitu pula biaya obat-obatan serta pasokan medis impor. Para pedagang semakin kesulitan menetapkan harga barang atau mengisi kembali persediaan tanpa menanggung kerugian, karena biaya penggantian stok jauh lebih mahal dibandingkan harga yang berlaku.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |