Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kinerja intermediasi perbankan nasional tetap berada dalam kondisi stabil dan resilien hingga akhir 2025, serta berpeluang berlanjut secara solid pada 2026, meski dibayangi ketidakpastian eksternal.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae mengatakan bahwa pada tahun depan, OJK memproyeksikan kinerja perbankan nasional tetap stabil dan solid, dengan pertumbuhan kredit dan DPK yang berkelanjutan. Namun, realisasinya akan sangat bergantung pada permintaan pembiayaan dari dunia usaha, dinamika perekonomian nasional, serta kondisi global.
"Faktor eksternal tetap menjadi perhatian, namun aspek penopang domestik akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan intermediasi perbankan ke depan," tegas Dian dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK Desember 2025, Jumat (9/1/2026).
Sementara itu, hingga November 2025, pertumbuhan kredit perbankan terbilang melambat bila dibandingkan dengan kuartal I-2025.
"Intermediasi perbankan stabil, profil risiko terjaga, dan likuiditas berada di level memadai. Pada November 2025, kredit tumbuh 7,74% secara tahunan (yoy), meningkat dibanding bulan sebelumnya 7,46%, dengan total kredit mencapai sekitar Rp8.314 triliun," ujar Dian
OJK mencatat, akselerasi kredit cenderung semakin kuat menjelang akhir tahun, sehingga pertumbuhan kredit 2025 diperkirakan berada di atas batas bawah target yang telah ditetapkan regulator.
Dari sisi jenis kredit, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi pada November 2025 sebesar 17,98% yoy, mencerminkan masih berjalannya ekspansi dunia usaha. Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 6,76% yoy, dan kredit modal kerja meningkat 2,04% yoy.
Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh solid sekitar 12% yoy. Namun, OJK mengakui segmen UMKM masih menghadapi tantangan dan tercatat masih mengalami kontraksi, seiring penyesuaian aktivitas usaha dan daya serap pembiayaan yang belum sepenuhnya pulih.
Adpaun dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh 12,03% yoy pada November 2025, meningkat dari bulan sebelumnya 11,48%, dengan total DPK mencapai sekitar Rp9.800 triliun.
Sejalan dengan kondisi likuiditas yang longgar, suku bunga perbankan juga menunjukkan tren penurunan. Suku bunga kredit turun 26 basis poin menjadi 8,96%, sementara suku bunga DPK berada di level 2,77%, dengan penurunan terbesar terjadi pada suku bunga deposito.
Likuiditas perbankan dinilai tetap sangat memadai, tercermin dari rasio AL/NCD sebesar 131,4% dan AL/DPK sebesar 29,67%, jauh di atas ambang batas. Selain itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level tinggi 210,38%.
Dari sisi kualitas aset, OJK mencatat perbaikan berkelanjutan. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross turun menjadi 2,21% dari sebelumnya 2,25%, sementara NPL net membaik ke 0,86%. Indikator risiko kredit lainnya, yakni Loan at Risk (LAR), juga menurun menjadi 9,22% dari 9,41%.
Ketahanan perbankan juga ditopang oleh permodalan yang kuat. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat di level 26,05%, meski sedikit turun dari 26,38%, namun tetap menjadi bantalan yang solid dalam menghadapi potensi risiko ke depan.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]


















































