Kisah Glodok, Chinatown Terbesar RI yang Berakar dari Kolonial Belanda

5 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan pecinan Glodok di Tamansari, Jakarta Barat, tidak dapat dilepaskan dari aroma dupa, arsitektur kelenteng tua, dan hiruk-pikuk perdagangan yang khas. Namun sebagai Chinatown terbesar di Indonesia, Glodok menyimpan narasi sejarah yang panjang, berakar dari kebijakan tata kota era kolonial Belanda.

Co-Founder SANA Kenal Kota Abimantra Pradhana menceritakan, sejarah Glodok tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Batavia pada masa pemerintahan VOC. Menurutnya, kawasan ini menjadi titik penting dalam perjalanan komunitas Tionghoa di Jakarta dan menjadi ruang pertemuan berbagai budaya yang kemudian melahirkan identitas khas kota.

"Glodok bukan hanya kawasan perdagangan. Ia adalah ruang sejarah yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Tionghoa beradaptasi, membangun kehidupan, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal selama ratusan tahun. Dari sinilah kita bisa melihat proses akulturasi budaya yang membentuk Jakarta modern," ujar Abimantra saat acara Media Experience: Jalan Jajan Petak ke Petak dari Gojek, Kamis (25/6/2026).

Menurut Abimantra, Glodok mulai dikenal sebagai pecinan setelah pemerintah kolonial Belanda menetapkan wilayah tersebut sebagai area permukiman bagi etnis Tionghoa pada abad ke-18. Kebijakan itu muncul setelah peristiwa besar yang melibatkan komunitas tersebut di Batavia pada tahun 1740.

Sejak saat itu, Glodok berkembang menjadi pusat perdagangan, permukiman, serta aktivitas sosial dan budaya masyarakat Tionghoa. Sementara itu, pemilihan Glodok sebagai pemukiman baru bukan tanpa alasan. Kawasan ini ternyata dilewati oleh aliran sungai dan kanal yang menjadi urat nadi transportasi logistik.

"Saat itu Glodok dekat dengan jalur air yang memudahkan masyarakat Tionghoa untuk melakukan aktivitas bongkar muat barang. Saat terjadi isolasi komunitas tersebut membangun ekosistem perdagangan mandiri yang kuat, mulai dari pasar tradisional, toko obat herbal, hingga kuliner," paparnya.

Abimantra menyebut kawasan Glodok adalah laboratorium visual yang hidup. Di sini, arsitektur hibrida yang memadukan gaya Tionghoa Selatan dan kolonial masih bisa dijumpai di gang-gang sempitnya, seperti di kawasan Petak Sembilan dan Gang Gloria.

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk tidak hanya melihat Glodok sebagai pusat belanja elektronik atau destinasi kuliner semata, melainkan sebagai bagian penting dari mosaik identitas Jakarta. Ia menilai bahwa kawasan ini merupakan warisan hidup yang masih menjalankan fungsi sosial, budaya, dan ekonomi hingga sekarang.

"Glodok mengajarkan bahwa Jakarta dibangun oleh banyak kelompok masyarakat dengan latar belakang berbeda. Sejarah kawasan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah bagian penting dari identitas kota," katanya.

Jalan JajanHead of Marketing Gojek Marsela Renata (kiri) dan Co-Founder SANA Kenal Kota Abimantra Pradhana. (CNBC Indonesia/Linda Sari Hasibuan)

Liburan lebih praktis
Dalam kesempatan yang sama, Head of Marketing Gojek Marsela Renata mengungkapkan, tren terkini wisatawan nusantara yang semakin banyak memilih perjalanan jarak dekat dengan durasi singkat, rata-rata selama tiga malam. Didukung infrastruktur transportasi yang semakin terhubung, masyarakat semakin mudah mengeksplorasi destinasi yang berada di dalam maupun sekitar kota tempat mereka tinggal.

"Terbaru di Gojek kami menghadirkan "Jalan Jajan", yaitu merupakan kumpulan rekomendasi destinasi wisata dan kuliner yang telah dikurasi di aplikasi Gojek. Pelanggan dapat langsung terhubung ke layanan GoRide dan GoCar untuk mengunjungi destinasi pilihan maupun memesan rekomendasi kuliner melalui GoFood, sehingga pengalaman berlibur menjadi lebih praktis dan nyaman," kata Marsela.

Menurut dia, Jalan Jajan sudah hadir di lima kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Bali. Melalui program tersebut, Gojek ingin membantu masyarakat menikmati liburan dengan lebih praktis, berkesan dan relevan dengan tren perjalanan saat ini, sekaligus mendukung geliat ekonomi lokal melalui peningkatan kunjungan ke destinasi wisata dan kuliner lokal di berbagai kota.

"Kami mengamati adanya tren menarik terkait mobilitas masyarakat di momen libur sekolah, baik untuk berwisata maupun melakukan petualangan kuliner. Melalui Jalan Jajan masyarakat dapat menjelajahi ruang-ruang komunal, destinasi lokal yang menjadi tren, hingga menikmati kuliner autentik dan viral di setiap kota," ujar Marsela.

(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |