Jakarta, CNBC Indonesia - Kilau batu akik di Pasar Rawa Bening, Jatinegara kini tinggal kenangan. Satu dekade lalu, deretan kios penjual batu akik maupun batu mulia dipadati oleh para pembeli hingga kolektor.
Sayangnya, saat ini nasib para penjual batu akik tampak memprihatinkan. Batu akik kini semakin sulit terjual secara optimal.
Tak sedikit penjual batu akik yang memilih untuk menutup kiosnya, karena tidak sanggup membayar listrik atau uang sewa bangunan.
Salah satu pedagang batu akik, Arif mengaku kondisi pasar kurang begitu ramai dalam beberapa waktu terakhir. Terbukti, setelah pandemi Covid-19 melanda, penjual membutuhkan waktu lima sampai tujuh hari untuk dapat menjual batu akik kepada pelanggan. Bahkan, saat ini ada kalanya batu akik belum tentu laku terjual dalam waktu satu bulan.
Pada akhirnya, jumlah pembeli yang menyusut membuat beberapa kios batu akik memilih untuk tutup saja ketimbang terus merugi. "Banyak yang tutup karena enggak bisa bayar listrik," katanya saat ditemui CNBC Indonesia, Rabu (8/7/2926).
Untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, Arif pun terpaksa harus menjual batu akik miliknya dengan harga yang jauh lebih murah. Sebagai gambaran, batu akik yang tadinya dihargai Rp 5-7 juta terpaksa dijual dengan harga Rp 500 ribu karena desakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
"Tapi kadang-kadang ya, kalau sudah 1 bulan, 2 bulan buat makan, yang harga 5 juta itu masih ada lagi barangnya kami jual saja. Karena kami tahu kami butuh. Mau enggak mau sudah lah jatuh dulu harganya, demi bisa bertahan," ungkap dia.
Sama halnya dengan kondisi pengelola kios batu akik bernama Jeje. Ia juga memandang penjualan produk tersebut sudah turun drastis sejak pandemi dan belum mampu pulih hingga kini. Saat ini, ada masanya Jeje tak mampu sekalipun menjual satu cincin batu akik. Dari situ, ia menjelaskan penjual batu akik yang masih bisa mendapatkan omzet harian sebenarnya sudah terbilang untung.
"Kalau masih bisa bilang omzet per hari, itu sudah bagus sekali menurut saya," ujar dia.
Di tempatnya berjualan, Jeje menawarkan cincin batu akik yang sangat variatif. Ia mengklaim 99% bahan batunya berasal dari Indonesia seperti Jawa atau Sumatra. Dalam hal ini, ia membanderol harga cincin batu akik sesuai dengan kualitasnya. Semakin bagus kualitasnya, maka akan semakin mahal pula harganya.
Sementara itu, Pedagang Batu Akik, Sandi Shadewo mengaku, dirinya bersyukur jika ada dua atau tiga buah cincin batu akik yang terjual. Mengingat, daya beli masyarakat untuk batu akik beberapa waktu terakhir mengalami penurunan.
Di sisi lain, kondisi ketidakpastian global juga turun memengaruhi keuangan masyarakat. Sebab, kebutuhan pokok rata-rata naik dan untuk sebagian masyarakat mengerem pengeluaran untuk produk yang bersifat tersier atau hobi.
"Paling saya dapat 2-3 biji sudah cukup saya. Kadang ada yang Rp 200 ribu, ada yang Rp 100 ribu. Kadang juga ada yang Rp 300 ribu, ya kalau memang rezeki lagi hoki dapat sejuta lebih, Rp 1,3 juta," ungkapnya.
Melihat kondisi itu, ia pun ingin ada bantuan dari pemerintah melalui Kementerian Pariwisata untuk mengenalkan warisan budaya ini kepada para wisatawan lokal maupun mancanegara. Upaya ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan pendapatan pengrajin batu akik di Pasar Rawa Bening.
(arj/arj)
Addsource on Google


















































