Jakarta, CNBC Indonesia- Penduduk negeri tirai bambu akan kembali bergerak dalam skala masif.
Menurut laporan Kementerian Transportasi China pada 1 Januari 2026 saja, 207 juta perjalanan domestik tercatat dalam satu hari libur Tahun Baru, melonjak 20,3% secara tahunan.
Angka statistik libur panjang ini indikator awal bahwa mesin konsumsi, tenaga kerja, dan mobilitas internal China kembali berputar penuh menjelang Chinese New Year.
Lonjakan itu terutama digerakkan oleh transportasi darat yang mengangkut 186,3 juta penumpang, namun sinyal terkuat justru datang dari kereta api.
Dalam satu hari, 18,6 juta penumpang menggunakan layanan rel, melonjak 67,9% year-on-year. Pola ini konsisten dengan karakter mobilitas pekerja dan pelaku usaha jarak menengah, serta memperlihatkan bahwa perjalanan bukan semata rekreasi, melainkan bagian dari siklus kerja dan distribusi tenaga kerja.
Pergerakan awal tahun ini menjadi pembuka menuju Chunyun 2026, periode migrasi tahunan terbesar di dunia.
Foto: REUTERS/Aly Song
Penumpang menunggu untuk naik kereta api di Stasiun Kereta Hongqiao Shanghai saat liburan musim semi Festival tahunan dimulai menjelang Imlek Tahun Baru Imlek di Shanghai, China 12 Februari 2018. REUTERS / Aly Song
Urbanisasi cepat selama empat dekade memusatkan lapangan kerja di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen. Libur Imlek memaksa jutaan pekerja meninggalkan pusat produksi secara bersamaan. Menurut Xinhua, pabrik-pabrik manufaktur bahkan cenderung tutup lebih awal, mendorong pekerja pulang sebelum puncak libur resmi. Akibatnya, arus manusia, barang, dan modal terhenti hampir serempak.
Tekanan ini langsung merembet ke dunia usaha dan rantai pasok. DSV menyebut bahwa Chinese New Year 2026 yang jatuh pada 17 Februari akan kembali memangkas kapasitas logistik Asia.
Libur resmi berlangsung 15-23 Februari, namun banyak pabrik menutup operasi lebih dari dua minggu, sementara pemulihan produksi berjalan lambat setelah pekerja kembali. Dampaknya berupa keterlambatan pengiriman, pembatalan penerbangan kargo, blank sailings, hingga lonjakan biaya logistik.
Kondisi ini diperparah oleh faktor eksternal. Melansir CNBC International, yang menyoroti ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat. Kombinasi antara penutupan pabrik Imlek dan potensi perubahan rezim tarif membuat perusahaan global terdorong melakukan front-loading pengiriman, mempersempit kapasitas angkut justru di periode paling sensitif.
Di dalam negeri, efek ekonominya dua arah. Mobilitas tinggi berarti konsumsi meningkat. VisaHQ mencatat estimasi analis bahwa setiap perjalanan domestik menyumbang sekitar RMB 300 belanja langsung. Dengan 207 juta perjalanan dalam satu hari, perputaran uang diperkirakan mencapai RMB 6 miliar. Namun di sisi lain, kepadatan ekstrem menaikkan biaya transportasi, menekan ketersediaan tiket, dan mengganggu efisiensi distribusi tenaga kerja.
Pemerintah China merespons dengan pendekatan teknokratis. Untuk musim liburan, operator kereta menambah lebih dari 1.000 perjalanan tambahan, maskapai mengoperasikan pesawat berbadan lebar di rute domestik utama, serta menguji sistem peringatan kepadatan real-time, alokasi kursi dinamis, dan layanan jalan pintar. Inovasi ini ditujukan untuk menjaga prediktabilitas mobilitas, faktor krusial bagi dunia usaha dan pekerja migran.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

















































