Ini Bocoran RKAB Pertambangan Batu Bara, Emiten Mana Paling Untung?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia Beredar bocoran hasil Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang disebut memangkas signifikan produksi batu bara. Mayoritas emiten mengalami pemangkasan produksi, tetapi kami mencatat tiga emiten cenderung masih bertahan. Siapa saja mereka?

RI Siap Pangkas Produksi Batu bara

Pemerintah menyepakati pengetatan suplai melalui persetujuan RKAB 2026, yang sekaligus menandai kembalinya mekanisme persetujuan RKAB tahunan, menggantikan skema tiga tahunan sebelumnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui penurunan target produksi batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun sekitar 24% atau hampir 200 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 790 juta ton.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan penyesuaian ini dilakukan sesuai kebutuhan industri dan ditujukan untuk membantu menstabilkan harga komoditas global.

Sebagai catatan, perdagangan batu bara global pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 1,3 miliar ton per tahun, dengan kontribusi Indonesia sekitar 514 juta ton.

Pada Januari hingga September 2025, produksi batu bara Indonesia tercatat turun 15% secara tahunan menjadi 509 juta ton, sementara ekspor melemah 4,7% menjadi sekitar 285 juta ton.

Pengiriman ke pasar utama seperti China dan India masing-masing turun 16% dan 12%, mencerminkan melambatnya permintaan seiring meningkatnya produksi domestik dan percepatan transisi energi.

Dalam penghitungan kami, jika Indonesia mengurangi 24% suplai produksi dan dua pertiga-nya masih diekspor, suplai batu bara di pasar global akan berkurang sekitar 10% pada tahun ini.

Terimakasih Indonesia x China! Harga Batu bara Ngebut

Prospek pemangkasan produksi batu bara Indonesia membuat ketidakpastian akan suplai meningkat.

Di satu sisi, demand batu bara mulai meningkat, setelah China diperkirakan akan meluncurkan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara tahun ini, di samping lebih dari 400 unit yang saat ini masih dalam tahap konstruksi.

Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa konsumen batu bara termal terbesar di dunia tersebut akan tetap bergantung pada batu bara, meskipun sebelumnya sempat memberi sinyal preferensi terhadap energi terbarukan.

Menurut pantauan kami, harga batu bara dunia (ICE Newcastle) berhasil terbang 5 persen pada akhir pekan lalu, Jumat (30/1/2026) ke posisi US$ 117 per ton, mengakumulasi kekuatan sejak awal tahun sebesar 11 persen, sekaligus menandai posisi tertinggi sejak Agustus 2025.

Bocoran RKAB 2026 Beredar

Di kalangan investor saat ini beredar pembahasan mengenai bocoran RKAB 2026 yang mengindikasikan adanya pemangkasan produksi batu bara nasional sekitar 26%. Kondisi ini berpotensi memperketat suplai global, sehingga secara teori dapat mendorong kenaikan harga batu bara.

Namun, dari pemantauan kami, tidak semua produsen terdampak kebijakan tersebut. Ada tiga emiten yang relatif berada di "zona aman" karena volume produksinya tidak mengalami pemotongan berarti. Dengan operasional yang tetap berjalan normal, ketiganya justru berpeluang menikmati ekspansi margin apabila harga batu bara kembali menguat. Emiten tersebut adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

Untuk AADI, tulang punggung produksi masih berasal dari tambang utama Adaro dengan kapasitas sekitar 60 juta ton per tahun. Salah satu anak usaha yang lebih kecil memang mengalami pemangkasan hingga sekitar 50%, sehingga kontribusinya turun menjadi kurang lebih 5,2 juta ton. Meski demikian, dampaknya terhadap grup relatif terbatas. Secara agregat, produksi AADI tahun ini masih diperkirakan berada di kisaran 65 juta ton.

Sementara itu, BUMI tetap solid karena dua aset utamanya tidak terkena pengurangan kuota. Kaltim Prima Coal diproyeksikan memproduksi sekitar 54 juta ton, sedangkan Arutmin Indonesia sekitar 20 juta ton.

Dengan demikian, total produksi BUMI tahun ini masih berada di level kurang lebih 74 juta ton. Posisi ini membuat BUMI menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan, karena dapat mempertahankan skala produksi besar ketika pemain lain harus menahan volume.

Adapun INDY juga termasuk dalam kelompok yang lolos dari pemangkasan. Melalui tambang Kideco di Kalimantan Timur, produksi batu bara INDY tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 30 juta ton, dengan fokus pada batu bara bituminous berkadar sulfur rendah.

Singkatnya, ketika pasokan nasional berpotensi menyusut akibat kebijakan RKAB, ketiga emiten ini justru masih mampu menjaga output. Kombinasi antara suplai yang lebih ketat dan produksi yang stabil membuka peluang peningkatan profitabilitas, terutama bila harga batu bara bergerak naik.

Lantas bagaimana kinerja keuangan dan valuasi mereka?

Menilik dari kinerja keuangan ketiga emiten itu cenderung bervariasi.

Dari sisi valuasi, BUMI saat ini menjadi yang paling mahal dengan current PBV sekitar 3,13x-jauh di atas AADI (1,09x) maupun INDY (0,74x), sekaligus berada signifikan di atas rerata historisnya. Premium valuasi ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap keberlanjutan volume produksi BUMI di tengah pengetatan suplai nasional, mengingat perusahaan ini memperoleh porsi produksi terbesar tahun ini melalui KPC dan Arutmin.

Meski valuasinya paling tinggi, BUMI juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan paling kuat, dengan nilai pendapatan sampai September 2025 tumbuh sekitar +15,7% yoy. Ini menjadikannya satu-satunya dari ketiga emiten yang masih membukukan ekspansi top line positif, seiring tetap terjaganya volume penjualan saat produsen lain mulai terdampak pembatasan produksi.

Namun demikian, dari sisi profitabilitas, kinerja BUMI masih tertekan. Laba bersih turun tajam sekitar 75% yoy, menandakan bahwa kenaikan pendapatan belum sepenuhnya terkonversi menjadi bottom line, kemungkinan akibat tekanan biaya, kualitas batubara, maupun faktor operasional lainnya.

Untuk INDY, valuasi terlihat relatif wajar dengan PBV 0,74x, sedikit di atas rata-rata historisnya. Meski begitu, kinerja fundamental jangka pendek masih lemah lantaran pendapatan sampai September 2025 turun sekitar 16,4% yoy dan laba bersih merosot hampir habis (-98,6% yoy).

Sementara itu, AADI tampil sebagai yang paling murah secara relatif. Current PBV berada di bawah rerata 5 tahunnya, mencerminkan valuasi yang lebih konservatif. Dari sisi operasional, AADI masih mampu menjaga skala produksi grup di kisaran 65 juta ton meskipun ada pemangkasan pada salah satu tambang minor.

Namun, tekanan harga batu bara sebelumnya tercermin pada kinerja keuangan, dengan pendapatan turun sekitar 7,9% yoy dan laba bersih terkoreksi sekitar 43,5% yoy.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |