IMF Minta BI dan Fed Cs Tak Buru-buru Naikin Suku Bunga Tahun Ini

15 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional atau IMF menilai, bank sentral di berbagai negara tak perlu terburu-buru menaikan suku bung acuan untuk merespons potensi tekanan inflasi akibat perang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Iran di Timur Tengah.

Sebagaimana diketahui, peperangan itu turut mengganggu salah satu jalur utama perdagangan komoditas energi dunia, yakni Selat Hormuz. Gangguan ini menyebabkan harga minyak mentah dunia, gas, hingga pupuk mengalami gejolak yang tinggi.

Meskipun dari berbagai skenario risiko konflik itu akan mendorong tekanan inflasi global di atas level normal kisaran 2-3%, namun IMF menganggap, bank sentral memiliki banyak opsi untuk menekan ekspektasi kenaikan harga di negaranya masing-masing.

"Saya menekankan bahwa tentu saja bank sentral tidak dapat berbuat banyak terhadap harga minyak, tetapi mereka dapat mengambil langkah untuk mencegah munculnya spiral upah-harga serta terlepasnya jangkar ekspektasi inflasi," kata Penasihat Ekonomi dan Direktur Riset IMF Pierre‑Olivier Gourinchas dalam taklimat media IMF Spring Meetings, dikutip Rabu (15/4/2026).

"Artinya, bank sentral tidak harus langsung melakukan pengetatan secara agresif. Bank-bank sentral utama-baik Federal Reserve, European Central Bank, Bank of Japan, maupun Bank of England-tidak selalu perlu segera menaikkan suku bunga," tegasnya.

Ketimbang menaikkan suku bunga, ia berpendapat, bank sentral di berbagai belahan dunia dapat berkolaborasi dengan pemerintah untuk mencari cara mendiversifikasi sumber energi, serta lebih mengandalkan sumber energi yang dapat diproduksi di dalam negeri, seperti energi terbarukan.

Hal ini, kata Gourinchas, merupakan salah satu pelajaran kuat dari kondisi stagflasi yang mengganggu aktivitas ekonomi dunia pada era 1970. Pada era itu, dunia juga dihadapkan pada masalah terganggunya rantai pasokan komoditas energi, yang membuat tekanan inflasi tinggi saat ekonomi tengah melamah.

Adapun pada saat ini, risiko stagflasi menurut Gourinchas akan menjadi buruk bila konflik yang mengganggu Selat Hormuz itu berlanjut hingga tahun depan, dengan ketidakstabilan makro yang lebih besar. Dengan skenario terburuk itu, maka pertumbuhan global kata dia akan turun menjadi 2% tahun ini dan tahun depan, sementara inflasi melebihi 6%.

Skenario beratnya ialah bila perang itu terus mengganggu harga energi dan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi serta kondisi keuangan yang lebih ketat sepanjang tahun ini. Dengan kondisi itu, maka pertumbuhan turun menjadi 2,5% tahun ini dan inflasi naik menjadi 5,4%.

Sedangkan untuk skenario moderat berdasarkan perhitungan IMF ialah bila konflik akan selesai dalam jangka pendek dan kenaikan harga energi moderat sebesar 19% pada 2026, pertumbuhan global turun menjadi 3,1% tahun ini, penurunan dari perkiraan Januari, dan inflasi utama naik menjadi 4,4%.

"Namun, dalam skenario dasar kami, tekanan ini diperkirakan akan mereda pada tahun depan, dan pada 2027 kita akan kembali berada pada jalur disinflasi seperti yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir," ujar Gourinchas.

"Namun, apabila mereka (bank sentral) mulai melihat tanda-tanda bahwa inflasi semakin menguat, munculnya spiral upah-harga, atau ekspektasi rumah tangga dan pelaku usaha terhadap inflasi yang lebih permanen dan persisten, maka mereka perlu mengambil tindakan. Ini merupakan salah satu pelajaran penting yang kita peroleh dari dekade 1970-an dan tidak boleh kita lupakan," tegasnya.

(arj/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |