IHSG-Rupiah Mencoba Bangkit di Tengah Gempuran Kabar Buruk dari AS

5 hours ago 1
  • Pasar keuangan Indonesia ambruk, bursa saham dan rupiah melemah kemarin
  • Wall Street bangkit setelah tiga hari terpuruk
  • Data ekonomi dan perkembangan perang akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah Rabu kemarin. Bursa saham melemah sementara rupiah jatuh.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bangkit pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis pada perdagangan Rabu (2/9/2026), di tengah pergerakan pasar yang volatil.

IHSG turun 4,16 poin atau 0,06% ke level 6.595,78. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.561,00-6.629,54, setelah dibuka di level 6.625,39.

Nilai transaksi saham mencapai Rp16,80 triliun dengan volume perdagangan 64,4 miliar saham dan frekuensi 2,45 juta kali. Sebanyak 282 saham menguat, 321 saham melemah, dan 186 saham stagnan.

Dari 11 sektor, enam sektor berakhir menguat. Sektor konsumer non-primer menjadi penguat utama dengan kenaikan 1,75%, diikuti sektor teknologi 0,85% dan keuangan 0,77%.

Sebaliknya, sektor bahan baku menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 1,45%, disusul utilitas yang terkoreksi 1,31%.

Saham Penopang IHSG

Sejumlah saham menjadi penopang utama indeks. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) memberikan kontribusi terbesar, yakni 8,49 poin, disusul PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) sebesar +5,91 poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar +4,69 poin, danPT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar +2,74 poin.

Di sisi lain, sejumlah saham komoditas dan saham berkapitalisasi besar menjadi penekan IHSG.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 4,33 poin, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebeasar -3,59 poin, PT Astra International Tbk (ASII) sebesar: -3,03 poin, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebesar -2,72 poin, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebsar -2,66 poin.

Investor asing mencatatkan net sell Rp26,61 miliar di seluruh pasar pada perdagangan Rabu kemarin. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Selasa di mana asing mencatat net buy lebih dari Rp 2 triliun.

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026), rupiah mesti mengalami pelemahan sebesar 0,23% dan terperosot ke posisi Rp17.750/US$. Rupiah melemah 40 poin dibandingkan penutupan Selasa (1/9/2026) di posisi Rp17.710/US$,

Tekanan terhadap rupiah datang ketika pelaku pasar kembali memburu dolar AS sebagai aset aman menyusul memanasnya konflik antara AS dan Iran.

AS kembali melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa waktu setempat. Eskalasi tersebut mendorong harga minyak melonjak lebih dari 4%, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Konflik tersebut juga memicu aksi jual di pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh posisi tertinggi sejak Januari 2025, sedangkan yield obligasi Jepang tenor yang sama mencapai 3% untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.

Tingginya imbal hasil obligasi AS meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin terbatas.

Tekanan terhadap imbal hasil juga dialami Surat Berharga Negara (SBN). Imbal hasil SBN tenor 10 tahun meloncat ke 7,23% pada perdagangan Rabu kemarin. Posisi ini adalah yang tertinggi sejak 7 Agustus 2026.

Imbal hasil yang naik menandai harga SBN yang tengah turun karena dijual investor.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |