IHSG Resmi Masuk Level Bersejarah 9.000, Ini Alasan Saham RI Menggila

23 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

08 January 2026 10:56

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Kamis (8/1/2026), resmi mencetak sejarah baru dengan menembus level psikologis 9.000.

Capaian ini menjadi pembuktian ketangguhan pasar modal Indonesia yang sempat babak belur hingga ke level 5.800-an pada April 2025 lalu. Kenaikan drastis ini didorong oleh kombinasi kebijakan fiskal pro-pertumbuhan, derasnya arus dana asing, serta dominasi investor ritel domestik yang semakin solid.

IHSG juga telah menyentuh 8.000 pada tanggal 15 Agustus 2025 pada saat Pidato Presiden Prabowo Subianto dan sekarang telah menjadi 9.000 dalam kurun waktu hanya 146 hari dan naik sebesar 12,5% dalam waktu yang sangat singkat.

Bangkit dari 'Liberation Day' Donald Trump

Jika menilik ke belakang, perjalanan IHSG menuju 9.000 penuh dengan drama. Pada April 2025, pasar saham tanah air sempat ambruk menyentuh titik terendah di area 5.800.

Pemicu utamanya adalah sentimen negatif global bertajuk "Liberation Day" dari Presiden AS Donald Trump, yang saat itu menebar ketakutan perang dagang dan proteksionisme agresif. Namun, kepanikan itu terbukti hanya sesaat.

Fundamental ekonomi Indonesia yang kuat berhasil membalikkan keadaan, membawa IHSG rebound secara signifikan hingga ke posisi puncaknya hari ini.

'Purbaya Effect' dan Perombakan Fiskal Pro-Growth

Salah satu motor penggerak utama pemulihan ini adalah serangkaian kebijakan ekonomi strategis yang dikenal pelaku pasar sebagai "Purbaya Effect". Kebijakan yang digulirkan oleh tim ekonomi di bawah arahan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai sangat pro-growth.

Langkah konkret seperti pengetatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) serta pengaturan ulang bea keluar untuk komoditas emas dan batubara, terbukti ampuh memperkuat cadangan devisa tanpa mematikan industri.

Selain itu, keputusan pemerintah untuk membatalkan kenaikan cukai rokok juga memberikan angin segar bagi emiten sektor consumer goods. Kebijakan ini dinilai tepat sasaran dalam menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah, yang pada akhirnya menjaga roda konsumsi domestik tetap berputar kencang di tengah tantangan global.

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa berbincang dengan Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Foto: Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa berbincang dengan Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Optimisme APBN dan Arus Masuk Asing

Sentimen positif juga datang dari persepsi para analis. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menilai lonjakan IHSG ini tidak lepas dari optimisme pelaku pasar terhadap rilis realisasi APBN 2025. Kinerja anggaran negara yang solid memberikan kepercayaan diri bahwa pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menstimulasi ekonomi tahun ini.

Hal ini sejalan dengan data perdagangan yang menunjukkan adanya foreign inflow (arus dana asing masuk) yang deras sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026 hari ini.

Investor asing kembali melirik aset-aset Indonesia yang dinilai memiliki valuasi menarik dan prospek pertumbuhan laba emiten yang menjanjikan dibandingkan negara emerging market lainnya karena menariknya kenaikan PDB Indonesia di tengah dinamika geopolitik yang tidak pasti ini.

Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan IHSG akhirnya bisa melewati target 9.000 dengan baik, meskipun hanya menyentuh 9.002.

"Hal ini memberikan peluang yang lebih besar bagi IHSG untuk dapat menyentuh 10.000. Meskipun ada tensi geopolitik yang tengah terjadi saat ini, pelaku pasar lebih cenderung terhadap sikap optimis," ujar Nico kepada CNBC Indonesia.

Dia menambahkan ada beberapa isu yang menjadi perhatian pelaku pasar dan investor. Di antaranya akselerasi perekonomian Indonesia, optimalisasi program andalan, ruang pemangkasan tingkat suku bunga Bank Indonesia, dan ruang pemangkasan tingkat suku bunga The FEd

Namun bukan berarti sentimen ini positif terus. Dia mengingatkan tensi geopolitik masih menjadi ancaman pelaku pasar dan investor, seperti Taiwan dan China.

"Kalaupun IHSG mengalami koreki diharapkan jangan sampai dibawah 8.775 untuk menjaga harpaan kembali ke 9.000," ujarnya.

Ritel Jadi Tuan Rumah dan Sinyal Dovish The Fed

Yang menarik dari rekor 9.000 ini adalah peran krusial investor domestik. Berbeda dengan era sebelumnya yang sangat bergantung pada asing, saat ini investor ritel memegang kendali signifikan dengan porsi transaksi mencapai kurang lebih 50% dari total perdagangan harian. Kekuatan ritel ini menjadi bantalan utama yang menjaga likuiditas pasar tetap terjaga saat asing sempat keluar di awal tahun lalu.

Pesta di pasar saham ini semakin lengkap dengan sentimen global yang mulai melunak. Konsensus pasar kini meyakini bahwa era suku bunga tinggi akan segera berakhir.

Bank Sentral AS (The Fed) diproyeksikan akan memangkas suku bunga acuan sebanyak dua kali tahun depan. Pelonggaran moneter global ini menjadi katalis positif, karena akan memicu aliran dana murah (cheap money) kembali membanjiri pasar negara berkembang, termasuk Indonesia walaupun ada resiko geopolitik global yang kian memanas setiap harinya.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |