Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
18 January 2026 09:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan harga perak dunia (Silver Spot) kembali menjadi sorotan utama pasar komoditas global pada pekan kedua Januari 2026.
Logam mulia ini mencatatkan lonjakan harga yang signifikan dan ditutup pada level US$ 89,90 per troy ons pada perdagangan Jumat (16/1/2026).
Berdasarkan data perdagangan sepekan terakhir, harga perak mencatatkan apresiasi sekitar 12,4% jika dibandingkan dengan posisi penutupan Jumat pekan sebelumnya (9/1) yang berada di level US$ 79,95.
Volatilitas pasar terlihat sangat tinggi, dimulai dengan pembukaan gap up pada awal pekan di level US$ 84,95, hingga menyentuh level tertinggi mingguan di US$ 92,75 pada Rabu (14/1), sebelum akhirnya mengalami koreksi wajar menjelang akhir pekan.
Di tengah tren kenaikan yang agresif ini, institusi keuangan global Bank of America (BofA) merilis laporan riset yang memberikan pandangan kontras terkait valuasi perak.
Strategis Komoditas BofA, Michael Widmer, menilai harga perak saat ini sudah berada di wilayah overvalued atau di atas nilai wajarnya.
Disparitas Fundamental vs Pasar
Dalam analisisnya, Widmer menyoroti bahwa jika mengacu pada fundamental murni-yakni keseimbangan antara suplai tambang dan permintaan industri manufaktur-nilai wajar perak seharusnya berada di kisaran US$ 60 per troy ons.
Dengan harga pasar yang kini bertengger di kisaran US$ 90, terdapat selisih premium yang sangat besar. BofA menilai lonjakan harga ini tidak lagi didorong oleh kebutuhan industri semata, melainkan oleh faktor sentimen investasi yang kuat.
Dominasi Investor Ritel
BofA mengidentifikasi bahwa motor penggerak utama reli perak saat ini adalah gelombang masuknya investor ritel global. Berbeda dengan siklus sebelumnya yang sering dipimpin oleh institusi keuangan, kali ini investor perorangan mengakumulasi perak fisik dan ETF secara agresif.
Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global. Investor ritel menjadikan perak sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap risiko depresiasi mata uang fiat dan kekhawatiran terhadap stabilitas sistem perbankan.
Narasi perak sebagai "uang riil" yang lebih terjangkau dibandingkan emas menjadi katalis utama aksi beli tersebut.
Foto: REUTERS/Brendan McDermid
FILE PHOTO: A Bank of America logo is seen on the entrance to a Bank of America financial center in New York City, U.S., July 11, 2023. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo
Skenario Bullish: Target US$ 170
Meskipun memperingatkan bahwa harga saat ini tergolong mahal secara fundamental, BofA tidak menutup kemungkinan harga akan terus mendaki.
Dalam skenario bullish, jika tren akumulasi oleh investor ritel terus berlanjut dengan intensitas yang sama seperti kuartal sebelumnya, BofA memproyeksikan harga perak dapat mencapai US$ 170 per troy ons dalam dua tahun ke depan.
"Target ini mungkin terdengar ambisius, namun dapat terealisasi jika investor ritel terus meningkatkan eksposur mereka secara konsisten tanpa mempedulikan valuasi fundamental," tulis laporan tersebut.
Bagi investor domestik, kondisi pasar saat ini menuntut kehati-hatian ekstra. Meskipun tren jangka panjang masih terlihat positif, kesenjangan antara harga pasar (US$ 90) dan nilai fundamental (US$ 60) menyisakan risiko volatilitas tinggi sewaktu-waktu.
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

















































