Harga Minyak Dunia Mulai Mendidih, Tersulut Kemelut AS-Iran

3 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

18 January 2026 15:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (16/1/2026).

Apresiasi harga ini didorong oleh langkah antisipatif para pelaku pasar yang melakukan penutupan posisi jual menjelang libur panjang di Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data pasar, harga minyak mentah berjangka Brent ditutup menguat 0,58% ke level US$ 64,13 per barel. Sejalan dengan itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turut mengalami kenaikan sebesar 0,42%, menutup perdagangan di level US$ 59,44 per barel.

Kenaikan ini terjadi di tengah volume perdagangan yang dipengaruhi oleh faktor teknikal, di mana investor cenderung menghindari risiko memegang open position selama libur peringatan Martin Luther King Jr. Day, yang menyebabkan pasar AS tutup sementara waktu.

Eskalasi Geopolitik dan Risiko Distribusi

Sentimen utama yang menopang harga minyak adalah spekulasi pasar mengenai potensi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran.

Laporan mengenai pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln menuju kawasan Teluk Persia telah memicu kembali kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan regional.

John Kilduff, mitra di Again Capital LLC, menyatakan bahwa manuver militer tersebut memberikan sinyal ketidakpastian bagi pasar.

Fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang memfasilitasi distribusi sekitar seperempat dari total pasokan minyak laut global. Gangguan sekecil apapun pada jalur ini dikhawatirkan dapat memicu lonjakan harga yang signifikan.

Keseimbangan Fundamental Pasokan

Meskipun risiko geopolitik memberikan dorongan positif terhadap harga, kenaikan lebih lanjut tertahan oleh fundamental pasokan global yang dinilai masih sangat memadai (ample supply).

Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, menyoroti bahwa pasokan minyak global tetap stabil.

Kekhawatiran awal mengenai membanjirnya pasokan minyak dari Venezuela belum sepenuhnya terealisasi secara masif, namun aliran pasokan dari negara tersebut secara bertahap mulai kembali ke pasar global, yang berfungsi sebagai penyeimbang harga.

Sejumlah analis memproyeksikan bahwa harga minyak akan bergerak dalam rentang terbatas (range-bound) sepanjang tahun ini.

Tanpa adanya pemulihan permintaan yang signifikan dari China atau gangguan fisik pada rantai pasok, harga minyak jenis Brent diprediksi akan bergerak di kisaran US$ 57 hingga US$ 67 per barel.

Meneropong Arah Pasar: Tren Bearish vs Rebound Sesaat

Berdasarkan tinjauan data historis setahun terakhir, pasar minyak sedang mengalami pergeseran struktur harga yang signifikan. Secara tahunan, terjadi koreksi tajam di mana harga minyak saat ini diperdagangkan jauh di bawah level tahun lalu.

Sebagai perbandingan, pada Januari 2025, harga Brent masih stabil di kisaran US$ 80 - US$ 82 per barel, sedangkan pada Januari 2026 harga tergerus ke level US$ 60 - US$ 64 per barel.

Penurunan struktural ini mengonfirmasi bahwa pasar global telah beralih dari kondisi pasokan ketat menjadi surplus pasokan. Namun, dalam jangka pendek, pasar menunjukkan ketahanan teknikal.

Pemulihan harga dari level terendah US$ 59,96 pada awal Januari menjadi US$ 64,13 pada penutupan pekan ini menunjukkan bahwa level psikologis US$ 60 berfungsi sebagai support yang solid.

Dengan demikian, pasar saat ini dapat dikatakan berada dalam fase konsolidasi. Tarik-menarik antara sentimen geopolitik yang mendongkrak harga dan realitas pasokan melimpah yang menekan harga akan menciptakan volatilitas jangka pendek, namun dengan ruang gerak yang terbatas.

Namun secara jangka panjang apabila proyek Venezuela dan Amerika Serikat berjalan lancar maka harga minyak dunia akan condong menurun mengingat supply yang akan semakin berlimpah seiring dengan berjalannya waktu.

(gls/gls)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |