Harga Emas Naik Lagi, Tapi Ada Dua "Badai" di Depan yang Bikin Ngeri

18 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas bangkit dengan menguat pada perdagangan Kamis, Namun, pasar emas menghadapi dua ancaman ke depan yakni rilis data nonfarm payrolls dan pengangguran Amerika Serikat (AS) serta "badai" rebalancing.

Data ini sangat penting dan dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed). Di sisi lain, tekanan jangka pendek dari proses penyesuaian indeks komoditas global masih menahan laju penguatan logam mulia.

Harga emas ditutup di posisi US$ 4478,27 per troy ons atau menguat 0,58% pada perdagangan Kamis (8/1/2025). Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harga emas ambruk 1% pada Rabu.

Emas masih melemah pada hari ini. Pada Jumat (9/1/2025) pukul 06.31 WIB, harga emas melemah 0,07% ke US$ 4475,04 per troy ons.

Pasar komoditas tengah menghadapi rebalancing tahunan di mana ada penyesuaian bobot komoditas agar tetap selaras dengan kondisi pasar terkini. Proses ini kerap memicu volatilitas jangka pendek, terutama pada emas dan perak.

"Untuk beberapa sesi ke depan akan ada tekanan pada emas dan perak selama penyesuaian indeks komoditas berlangsung," kata Bob Haberkorn, senior market strategist di RJO Futures, kepada Reuters.

"Setelah situasi mereda hingga pertengahan pekan depan, itu akan menjadi peluang bagus bagi posisi long untuk kembali masuk ke pasar ini."imbuhnya.

Fokus investor kini tertuju pada data nonfarm payrolls AS yang akan dirilis hari ini, Jumat. Jajak pendapat Reuters memperkirakan penambahan 60.000 lapangan kerja pada Desember, lebih rendah dibanding 64.000 pada November. Tingkat pengangguran diproyeksikan turun tipis ke 4,5% dari 4,6%.

Ekspektasi tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan di pasar tenaga kerja AS mulai mereda. Saat ini, pasar memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed sepanjang tahun ini. Ini sejalan dengan sentimen yang secara historisnya mendukung kinerja emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding).

Data terbaru juga menunjukkan klaim pengangguran AS meningkat moderat pekan lalu. Sebelumnya, laporan JOLTS mencatat jumlah lowongan kerja turun lebih besar dari perkiraan pada November, sementara pertumbuhan payroll sektor swasta Desember berada di bawah proyeksi analis.

Dari sisi geopolitik, ketegangan global tetap menjadi faktor penopang harga emas dalam jangka menengah. Amerika Serikat dilaporkan menyita dua kapal tanker minyak yang terkait Venezuela di Samudra Atlantik, sementara dinamika geopolitik lainnya terus menambah ketidakpastian global.

Sejalan dengan itu, HSBC memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$5.000 per ons pada paruh pertama 2026, didorong oleh risiko geopolitik yang berkelanjutan serta meningkatnya beban utang fiskal global.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |