Harga Emas dan Perak Kompak Loyo, Harapan Damai AS-Iran Jadi Penekan

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia kembali melemah di tengah meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (27/5/2026) ditutup di US$4.457,03 per troy ons atau melemah 1,09%. Pelemahan ini melanjutkan koreksi pada hari sebelumnya yang juga ditutup turun 1,4%.

Harga emas masih bergerak melemah pada pagi hari ini, Kamis (28/5/2026) pukul 06.26 WIB, harga emas berada di posisi US$4.451,88 per troy ons atau turun 0,12%.

Tekanan terhadap emas terjadi meski dolar AS dan harga minyak terpantau melemah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar belum banyak masuk kembali ke emas karena sentimen geopolitik mulai sedikit membaik.

Pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran masih berlangsung, meski Teheran sebelumnya menuduh Washington melakukan pelanggaran serius terhadap gencatan senjata. Tuduhan itu muncul setelah pasukan AS melakukan serangan defensif terbaru yang menargetkan situs rudal dan kapal di sekitar Selat Hormuz pada awal pekan ini.

Namun, pejabat Garda Revolusi Iran pada Rabu menyatakan bahwa perang baru dengan AS kecil kemungkinan terjadi. Meski begitu, Iran menegaskan tetap siap merespons jika kembali mendapat serangan.

Pernyataan tersebut ikut meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi lanjutan di Timur Tengah. Harapan bahwa AS dan Iran pada akhirnya bisa mencapai kesepakatan juga membuat peluang pembukaan kembali Selat Hormuz tetap hidup.

Di sisi lain, emas masih sulit menguat karena pasar kini melihat risiko inflasi dari harga minyak sebagai ancaman yang lebih besar dalam jangka pendek.

Harga energi yang masih tinggi berpotensi menjaga tekanan inflasi global. Kondisi ini membuat bank sentral utama, termasuk Federal Reserve atau The Fed, diperkirakan perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Bagi emas, ekspektasi suku bunga tinggi menjadi sentimen negatif. Sebab, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga cenderung kurang menarik ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi berada di level tinggi.

Latar belakang ekonomi AS juga masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat, sementara inflasi belum turun secara meyakinkan. Hal ini memperkuat pandangan bahwa The Fed belum akan terburu-buru kembali menurunkan suku bunga.

Bahkan jika kesepakatan damai AS-Iran akhirnya tercapai dan Selat Hormuz kembali dibuka, normalisasi jalur pengiriman minyak diperkirakan tidak langsung terjadi. Proses pemulihan arus pelayaran bisa memakan waktu berbulan-bulan, sehingga harga minyak berpeluang tetap tinggi dan kekhawatiran inflasi masih bertahan.

Dengan pasar yang masih memperhitungkan sikap The Fed yang hawkish, harga emas berpotensi tetap bergerak dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek.

Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis waktu setempat. Data ini akan menjadi petunjuk penting untuk membaca arah inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |