Aisha Mayra, CNBC Indonesia
27 May 2026 20:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran melahirkan pola baru yakni banyaknya serangan terhadap fasilitas energi. Serangan ini tentu saja memperparah pasokan energi yang pada akhirnya memicu kekhaawatiran dunia.
Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026 atau tiga bulan lalu, puluhan fasilitas dan infrastruktur energi sudah hancur.
Ketika konflik meningkat di Timur Tengah, yang ikut tegang bukan cuma kawasan Teluk. Harga minyak bisa langsung naik, perusahaan pelayaran mulai mengubah rute, dan pasar global bergerak lebih hati-hati.
Beberapa hari terakhir, kekhawatiran itu kembali muncul setelah serangan dan ancaman terhadap fasilitas energi di kawasan Gulf meningkat di tengah konflik Iran. Jalur tanker diawasi ketat, sementara pelaku pasar mulai menghitung kemungkinan gangguan pasokan minyak dan gas dunia.
Reaksinya sering sangat cepat. Bahkan sebelum kerusakan besar benar-benar terjadi, harga energi biasanya sudah lebih dulu bergerak karena pasar mulai menghitung risiko terhadap aliran energi global.
Jalur Energi Paling Sensitif di Dunia
Sebagian besar perhatian global biasanya langsung tertuju pada Selat Hormuz, jalur laut sempit di antara Iran dan Oman yang menangani sekitar 20% perdagangan minyak dunia setiap hari.
Bukan hanya minyak. Qatar, salah satu eksportir LNG terbesar dunia, juga sangat bergantung pada jalur tersebut untuk mengirim gas alam cair ke Asia dan Eropa.
Karena itu, ketika ketegangan meningkat di sekitar Hormuz, pasar energi global hampir selalu ikut bereaksi.
Kilang dan Terminal Minyak
Ruwais, UEA
Salah satu kompleks kilang terbesar dunia ini mengalami beberapa kebakaran akibat puing intersepsi pertahanan udara pada 5 April, menurut pemerintah Abu Dhabi.
Ras Tanura, Arab Saudi
Saudi Aramco sempat menghentikan sementara operasi di fasilitas pemrosesan minyak terbesar kerajaan dengan kapasitas sekitar 550.000 barel per hari setelah serangan drone di awal perang.
Samref, Arab Saudi
Drone dilaporkan jatuh di kilang Samref pada 19 Maret. Fasilitas ini sebagian dimiliki Exxon Mobil.
Bapco Energies, Bahrain
Kilang berkapasitas sekitar 400.000 barel per hari ini mengalami kerusakan dan sempat mendeklarasikan force majeure pada sebagian operasi yang terdampak.
GPIC, Bahrain
Beberapa unit operasional Gulf Petrochemical Industries Co. terbakar setelah serangan drone pada 5 April.
Fasilitas KPC, Kuwait
Kuwait Petroleum Corporation mengatakan sejumlah fasilitas Kuwait National Petroleum Co. dan Petrochemical Industries Co. mengalami kerusakan signifikan setelah serangan pada 5 April.
Mina Al-Ahmadi, Kuwait
Serangan drone memicu kebakaran di sejumlah unit operasional pada 3 April. Fasilitas ini juga sempat terkena serangan dalam dua hari berturut-turut bulan lalu.
Mina Abdullah, Kuwait
Kebakaran di fasilitas Mina Abdullah berhasil dipadamkan setelah serangan pada 19 Maret.
Lanaz, Irak
Operasi di fasilitas Lanaz di Erbil dihentikan sementara setelah kebakaran akibat serangan drone, menurut Reuters.
Gas dan LNG
Ras Laffan, Qatar
QatarEnergy mengatakan fasilitas LNG Ras Laffan terkena rudal Iran yang memicu kebakaran dan kerusakan besar, termasuk di pabrik gas-to-liquids milik Shell.
QatarEnergy juga mendeklarasikan force majeure pada sebagian kontrak pasokan LNG jangka panjang.
Habshan, UEA
Abu Dhabi menghentikan operasi di fasilitas pemrosesan gas terbesar negara itu setelah serangan memicu kebakaran.
10 Perusahaan Gas Terbesar di Dunia, Pesta di Tengah Perang Iran Foto: 10 Perusahaan Gas Terbesar di Dunia, Pesta di Tengah Perang Iran/Aristya Rahadian
South Pars, Iran
Israel menyerang fasilitas South Pars pada 18 Maret. Kebakaran membuat beberapa unit produksi dihentikan, menurut Tasnim.
Isfahan, Iran
Stasiun pengatur tekanan gas dan bangunan administratif terkait di Isfahan menjadi target serangan AS-Israel, menurut Fars.
Shah, UEA
Operasi dihentikan setelah serangan drone Iran pada 16 Maret memicu kebakaran di ladang gas Shah.
Das Island LNG, UEA
Fasilitas LNG Das Island beroperasi pada level rendah akibat kesulitan ekspor melalui Selat Hormuz.
Ladang Minyak dan Industri
Majnoon, Irak
Kementerian Minyak Irak mengatakan ladang minyak Majnoon menjadi target serangan, meski tanpa detail tambahan.
Shaybah, Arab Saudi
Ladang minyak berkapasitas sekitar 1 juta barel per hari ini beberapa kali menjadi target drone, meski belum ada laporan kerusakan besar.
Bushehr, Iran
Proyektil menghantam area PLTN Bushehr pada 27 Maret, menurut Fars. Iran mengatakan tidak ada kerusakan pada fasilitas utama.
Al Taweelah, UEA
Emirates Global Aluminium mengatakan fasilitas Al Taweelah mengalami "kerusakan signifikan" akibat serangan Iran pada 28 Maret.
Alba, Bahrain
Aluminium Bahrain mengatakan sedang mengevaluasi tingkat kerusakan setelah serangan Iran.
Mobarakeh, Iran
Mobarakeh Steel menghentikan seluruh produksi setelah serangan merusak sejumlah unit penting, menurut Nour News.
Pelabuhan dan Jalur Pelayaran
Yanbu, Arab Saudi
Aktivitas pemuatan di pelabuhan Laut Merah Yanbu kembali dibuka pada 19 Maret setelah sempat dihentikan akibat serangan Iran.
Fujairah, UEA
Pelabuhan Fujairah beberapa kali menghentikan operasi akibat serangan drone. Lokasinya penting karena berada di luar Selat Hormuz.
Jebel Ali, UEA
DP World sempat menghentikan sementara operasi di pelabuhan kontainer terbesar Dubai sebagai langkah pencegahan.
Khor Fakkan, UEA
Puing intersepsi pertahanan udara jatuh di pelabuhan Khor Fakkan pada 5 April dan memicu kebakaran.
Sohar, Oman
Pelabuhan Sohar kembali beroperasi setelah sebelumnya ditutup akibat serangan drone.
Mina Al Fahal, Oman
Terminal ekspor minyak Mina Al Fahal kembali dibuka pada 12 Maret setelah sempat ditutup sebagai langkah pencegahan.
Salalah, Oman
Pelabuhan Salalah menghentikan operasi setelah serangan pada 28 Maret, menurut Inchcape Shipping Services.
Khalifa Bin Salman, Bahrain
Unit APM Terminals milik Maersk menghentikan operasi di pelabuhan ini pada 12 Maret.
Shahid Haghani, Iran
Serangan AS-Israel menargetkan pelabuhan Shahid Haghani di Bandar Abbas dekat Selat Hormuz, menurut Tasnim.
Kenapa Pasar Langsung Panik?
Harga minyak sering naik bahkan sebelum kerusakan besar benar-benar terjadi.
Pasar biasanya langsung menghitung kemungkinan terburuk: apakah ekspor akan terganggu, apakah tanker bisa lewat dengan aman, dan apakah Selat Hormuz berpotensi ditutup.
Itu sebabnya, ancaman terhadap fasilitas energi Gulf saja sering cukup untuk mengguncang pasar global.
Pada 2019, serangan terhadap fasilitas Abqaiq Saudi Aramco sempat memangkas sekitar 5% pasokan minyak global dalam waktu singkat.
"Energy markets trade on fear as much as actual disruption," kata Bob McNally, pendiri Rapidan Energy Group.
Dunia Masih Sangat Bergantung pada Energi Teluk
Di tengah pertumbuhan kendaraan listrik dan energi terbarukan, kawasan Gulf tetap menjadi salah satu pusat energi paling penting di dunia.
Konsumsi minyak global masih berada di atas 100 juta barel per hari. Qatar masih memasok LNG untuk Asia dan Eropa, sementara Arab Saudi dan UEA tetap menjadi pemain utama energi global.
Itu sebabnya, gangguan di beberapa titik energi di kawasan gurun Timur Tengah masih bisa terasa sampai ke harga bensin, biaya logistik, dan inflasi dunia.
"Banyak orang bicara soal akhir era minyak, tetapi ekonomi global saat ini masih berjalan menggunakan energi fosil," kata Helima Croft dari RBC Capital Markets.
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia? Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian
(mae/mae)
Addsource on Google


















































