Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga avtur membuat maskapai meminta tambahan untuk menutup ongkos keberangkatan jemaah haji tahun ini. Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf Hasyimz (Gus Irfan) bercerita, saat itu Garuda Indonesia meminta tambahan anggaran sekitar Rp 7 juta per jamaah, sedangkan Saudia Airlines US$ 485 per (Rp 8,31 juta/US$ 17.142).
Gus Irfan menjelaskan, biaya penerbangan memang menjadi isu krusial saat ini. Sebagai catatan, harga Avtur naik dari Rp 13.656 per liter menjadi Rp 23.551 per liter.
"Sepuluh hari lalu adalah sepuluh hari yang krusial buat kami karena Garuda Indonesia minta perubahan harga dari jemaah haji waktu itu, kita tanyakan Saudia juga karena avtur naik," kata Gus Irfan di Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa tambahan biaya yang diperlukan untuk Garuda Indonesia dan Saudia Airlines mencapai Rp 1,77 triliun. Kemudian dia melaporkan hal tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto.
"(Presiden) bilang penambahan ini jangan dibebankan kepada jemaah. Ini komitmen presiden ke jemaah haji," ujar Gus Irfan.
Seperti diketahui, Prabowo memutuskan untuk kembali memangkas ongkos haji sebesar Rp 2 juta pada tahun 2026. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan dana sebesar Rp 1,77 triliun sebagai tambahan subsidi atau kompensasi biaya haji di tengah kenaikan harga avtur.
Dia memerinci, saat itu Garuda Indonesia meminta tambahan anggaran sebesar Rp 7 juta per jamaah, sementara Saudia US$ 485 per jamaah. Namun menurut Gus Irfan, pihaknya tetap akan melakukan perundingan meskipun pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 1,77 triliun untuk mengkompensasi harga avtur.
Lebih lanjut, menurutnya, tidak menutup kemungkinan bahwa biaya yang harus disubsidi oleh pemerintah ini bisa lebih rendah dari dihitung saat ini.
"Sekarang kan harga avtur turun, mereka ajukan ini sebelum gencatan senjata, pada saat angka harga minyak sedang berada di tiitik puncaknya," tuturnya.
(miq/miq)
Addsource on Google


















































