Emas Masuk Pekan Berbahaya, Level US$5.000 Tak Lagi Aman

6 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas langsung ambruk di awak pekan ini di tengah besarnya tekanan dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk Refintiv, harga emas pada Senin (16/3/2026) puku 06.32 WIB ada di posisi US$ 4988,69 atau turun 0,6%.

Pelemahan ini memperburuk laju emas yang juga jatuh 1,2% ke US$5018,4277 pada perdagangan Jumat pekan lalu.

Biasanya, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah membuat emas semakin menarik sebagai aset safe haven. Namun kali ini dampaknya berbeda. Dengan situasi di Iran dan Selat Hormuz yang hampir tertutup, harga minyak justru melonjak menuju US$120 per barel, memicu kekhawatiran akan gelombang inflasi global baru.

Alih-alih beralih ke emas, banyak investor justru memilih dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury). Mereka memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.

Perubahan ini membuat emas lebih sulit bersaing. Ketika yield Treasury 10 tahun meningkat, banyak manajer dana menilai memegang emas menjadi kurang menarik. Saat ini, investor yang mencari aset aman terbagi antara dolar AS dan emas, namun dolar untuk sementara unggul.

Dalam sepekan ke depan, hubungan antara harga minyak Brent dan dolar AS kemungkinan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas.

Pekan Berat Buat Emas: Menguji Level Psikologis US$5.000

Harga emas diperkirakan akan menghadapi cobaan berat pekan ini. Investor menunggu hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu pekan ini.

Proyeksi FedWatch menunjukkan pelaku pasar mempertaruhkan 99% potensi suku bunga di tahan. Pasar bahkan kini memperkirakan The Fed hanya akan sekali memangkas suku bunga.

Kondisi ini membuat dolar AS terbang. Dolar AS pada Jumat lalu ditutup di posisi 100,36 atau posisi tertingginya sejak Mei 2025.

Pembelian emas global dikonversi dalam dolar AS sehingga kenaikan dolar akan membuat permintaan emas tertekan.

Dengan berkaca pada pergerakan tersebut maka koreksi harga emas masih berpotensi berlanjut. Emas baru-baru ini turun di bawah pola segitiga simetris yang semakin menyempit, yang biasanya menandakan tekanan jual lebih lanjut.

Saat ini harga emas kesulitan kembali naik di atas US$5.047, yang sebelumnya merupakan level support namun kini berubah menjadi resistance.

Jika tekanan jual mendorong emas turun di bawah US$5.000 pada akhir hari, harga berpotensi melemah lebih jauh. Level support berikutnya berada di sekitar US$4.960, dan dalam skenario terburuk emas dapat menguji rata-rata pergerakan 50 hari di sekitar US$4.842.

Sebaliknya, agar pembeli kembali menguasai pasar, emas perlu menembus di atas US$5.130, yang akan menunjukkan bahwa penurunan saat ini hanyalah koreksi sementara.

Meski harga sempat berfluktuasi, prospek jangka panjang emas tetap kuat. Banyak bank sentral, terutama di negara berkembang, semakin cepat mengurangi ketergantungan pada cadangan dolar AS.

Para ahli memperkirakan permintaan emas dari bank sentral akan stabil sekitar 60 ton per bulan hingga 2026. Pembelian yang konsisten dari pemerintah ini membantu menahan penurunan harga emas, bahkan jika The Fed menaikkan suku bunga.

Lembaga keuangan besar seperti Goldman Sachs dan analis berpengalaman seperti Ed Yardeni tetap optimistis. Mereka memprediksi harga emas bisa mencapai US$5.400 hingga US$6.000 pada akhir tahun.

Menurut mereka, tren peralihan ke aset yang tidak terkait dengan mata uang tradisional akan berlangsung selama bertahun-tahun, sehingga penguatan dolar dalam jangka pendek tidak akan mengubah arah tren tersebut.

Bagi investor yang mencermati pasar, fluktuasi harga minggu ini hanyalah bagian dari perjalanan menuju potensi kenaikan emas pada 2026.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |