Di Tengah Perang dan Rupiah Ambruk, Investor Menanti Jurus BI

2 hours ago 2

Polling CNBC Indonesia

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 March 2026 12:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI), pelaku pasar memperkirakan BI masih akan kembali menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini.

Bank Indonesia dijadwalkan menggelar RDG bulan ini pada Senin-Selasa (16-17/3/2026), dengan hasil keputusan yang akan diumumkan pada Selasa (17/3/2026).

Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga/institusi menunjukkan hasil yang kompak. Seluruh responden memproyeksikan BI akan kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada RDG kali ini.

Pada pertemuan RDG terakhir pada 18-19 Februari 2026, BI kembali memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% dan Lending Facility sebesar 5,50%.

Keputusan tersebut membuat BI telah lima kali berturut-turut menahan suku bunga acuannya hingga Februari 2026. Bila kembali dipertahankan pada Maret ini, maka langkah tersebut akan menjadi kali keenam secara beruntun.

Dalam pernyataan resminya pada Februari lalu, BI menegaskan keputusan tersebut sejalan dengan fokus kebijakan pada penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, sembari tetap mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, dalam RDG kali ini BI diperkirakan masih akan menahan suku bunga guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Secara bulanan (month-to-date/mtd) hingga Senin (16/3/2026) pukul 09.37 WIB, rupiah tercatat melemah 1,26% ke posisi Rp16.972/US$ atau hampir menembus level psikologisnya di Rp17.000/US$.

Tekanan ini terutama datang dari faktor global, khususnya penguatan indeks dolar AS yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.

Di tengah memanasnya perang di Timur Tengah, investor kembali memburu aset safe haven, termasuk dolar AS. Kondisi ini kemudian mempersempit ruang gerak mata uang lain, termasuk rupiah, yang cenderung tertekan.

Hal ini sejalan dengan pandangan Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, yang menilai BI masih akan memilih menahan suku bunga pada Maret 2026 seiring tertekannya nilai tukar rupiah.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Maret 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global dan dampak meningkatnya tensi geopolitik, yakni perang Iran-Israel dan AS," ujar Juniman.

Juniman juga menyoroti tekanan inflasi yang meningkat pada Februari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76%, atau berada di atas target BI, sementara inflasi inti tercatat 2,63% secara tahunan.

Menurut dia, kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan BI untuk belum mengubah arah kebijakan suku bunga. Meski demikian, Juniman menilai ruang penurunan suku bunga tetap terbuka ke depan, mengingat tekanan inflasi inti domestik masih relatif rendah.

"Namun, BI tetap memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan ke depan, mengingat tekanan inflasi inti domestik masih rendah. Inflasi inti pada Februari 2026 tercatat 2,63% secara tahunan," kata Juniman.

Ia menambahkan, pelonggaran suku bunga pada waktu yang tepat masih berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi domestik.

Dengan demikian, fokus utama BI pada RDG Maret kali ini diperkirakan masih akan tertuju pada upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global. Di sisi lain, peluang pemangkasan suku bunga belum sepenuhnya tertutup, tetapi kemungkinan baru akan lebih terbuka setelah tekanan eksternal mereda dan kondisi pasar keuangan menjadi lebih stabil.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |