Ekonomi Korsel Kontraksi, Seberapa Bahaya Efeknya Buat RI?

1 hour ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

22 January 2026 14:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Korea Selatan mengalami kontraksi pada kuartal IV-2025. Produk domestik bruto (PDB) Negeri Ginseng itu tercatat terkontraksi 0,3% secara kuartalan (quarter-to-quarter/QoQ) pada periode Oktober-Desember 2025, menjadi perlambatan terdalam sejak kuartal IV-2022.

Meski begitu, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ekonomi Korea Selatan masih membukukan pertumbuhan.

Melansir pada publikasi Bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BOK) pada Kamis (22/1/2026) mencatat PDB tumbuh 1,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal IV-2025. Namun, angka tersebut berada di bawah proyeksi ekonom 1,9% dan lebih lambat dibanding kuartal III-2025 yang tumbuh 1,8% YoY.

Pelemahan ekonomi kuartal IV-2025 terutama dipicu anjloknya investasi konstruksi dan meredanya ekspor. Investasi konstruksi menyusut 3,9% dibanding kuartal sebelumnya seiring turunnya aktivitas pembangunan gedung maupun pekerjaan sipil. Investasi fasilitas juga turun 1,8%, dipimpin penurunan pada peralatan transportasi.

Dari sisi perdagangan, ekspor Korea Selatan terkoreksi 2,1% qoq, terutama karena pengiriman kendaraan bermotor dan mesin melemah. Pada saat yang sama, produksi manufaktur turun 1,5% qoq, sedangkan pasokan utilitas mengalami tekanan lebih dalam.

Di tengah tekanan tersebut, konsumsi domestik masih memberi bantalan meski terbatas. Konsumsi rumah tangga naik 0,3% qoq didorong belanja jasa, sementara belanja pemerintah meningkat 0,6% qoq seiring naiknya manfaat layanan kesehatan.

Secara keseluruhan sepanjang 2025, ekonomi Korea Selatan tumbuh 1% dan menjadi laju tahunan paling lambat sejak 2020, ketika output terkontraksi 0,7% saat pandemi.

Ke depan, prospek ekonomi Korea Selatan tetap dibayangi isu tarif, terutama pada sektor semikonduktor yang menjadi tulang punggung ekspor.

Tahun 2025, ekspor Korea Selatan mencetak rekor US$709,7 miliar atau naik 3,8% dibanding tahun sebelumnya, ditopang lonjakan pengiriman semikonduktor sebesar 22% di tengah permintaan chip kecerdasan buatan yang menguat.

Namun, pekan lalu Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif 25% untuk sejumlah chip AI impor, sementara Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick sempat menyatakan produsen chip Korea Selatan dan Taiwan bisa menghadapi tarif hingga 100% jika tidak meningkatkan komitmen produksi di Amerika.

Dari sisi stabilitas makro, inflasi Korea Selatan tetap relatif jinak, melandai ke 2,1% pada 2025 dari 2,3% pada 2024, sejalan dengan target 2% BOK.

Bank sentral juga mempertahankan suku bunga acuannya di 2,5%, dengan fokus pada stabilitas keuangan di tengah won yang melemah tajam dan arus keluar modal yang meningkat.

Won tercatat melemah lebih dari 6% terhadap dolar AS sejak Juli 2025 dan turun hampir 2% sepanjang tahun ini hingga Kamis, menjadikannya salah satu mata uang berkinerja terburuk di Asia.

Dampak Pertumbuhan Ekonomi Korea Selatan Bagi Indonesia

Korea Selatan memang bukan mitra dagang terbesar Indonesia, tapi pergerakannya tetap penting. Begitu ekonomi Korea melambat, efeknya bisa terasa ke Indonesia lewat dua jalur utama, perdagangan terutama ekspor nonmigas dan investasi asing.

Saat ekonomi Korea melemah, biasanya permintaan industri dan proyek konstruksi ikut melambat. Kalau itu terjadi, kebutuhan impor bahan baku dan komoditas dari luar negeri cenderung turun. Artinya, peluang ekspor nonmigas Indonesia ke Korea bisa ikut tertahan.

Sebaliknya, ketika manufaktur Korea lagi kencang, permintaan bahan baku biasanya naik dan ekspor Indonesia punya ruang ikut menguat.

Data ekspor nonmigas Indonesia ke Korea Selatan sempat melesat pascapandemi. Nilainya naik dari US$5,60 miliar pada 2020 menjadi US$7,95 miliar pada 2021, lalu mencapai puncak US$10,65 miliar pada 2022.

Namun memasuki 2025, tekanannya mulai terlihat karena pada Januari hingga November 2025 nilai ekspor nonmigas RI ke Korea tercatat US$7,98 miliar, lebih rendah dibanding Januari hingga November 2024 yang US$8,34 miliar.

Kalau dilihat dari bobotnya terhadap total ekspor nonmigas Indonesia, porsi ekspor ke Korea selama ini cenderung stabil di kisaran 3% sampai 4%.

Pada 2024 porsinya sekitar 3,67% dari total ekspor nonmigas Indonesia. Namun pada Januari hingga November 2025, bobotnya turun menjadi sekitar 3,26% dari total ekspor nonmigas Indonesia. Mengecilnya porsi ini jadi sinyal bahwa permintaan dari Korea mulai melemah dibanding laju total ekspor nonmigas Indonesia.

Selain jalur dagang, jalur lain yang juga perlu dipantau adalah investasi. BKPM mencatat realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada 2025 masih dipimpin Singapura dengan US$17,4 miliar, disusul Hongkong US$10,6 miliar, dan China US$7,5 miliar. Korea Selatan berada di peringkat ketujuh dengan realisasi sekitar US$1,98 miliar.

Tren investasi Korea Selatan ke Indonesia cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Setelah berada di US$1,6 miliar pada 2018 dan turun ke US$1,07 miliar pada 2019, nilainya kembali naik dan sempat menembus puncak US$2,98 miliar pada 2024. Namun pada 2025, realisasinya turun lagi menjadi US$1,98 miliar.Namun pada 2025 realisasinya turun ke US$1,98 miliar.

Artinya, saat ekonomi Korea melambat, risiko buat Indonesia bukan cuma ekspor yang melambat, tapi juga investasi yang jadi lebih hati-hati.

Perusahaan Korea bisa menunda ekspansi, menggeser jadwal proyek, atau menahan pencairan modal sambil menunggu kondisi global lebih jelas. Walau begitu, turunnya realisasi 2025 tidak otomatis berarti Korea mundur dari Indonesia, hanya saja arusnya bisa lebih kecil dalam jangka pendek, jadi proyek yang sudah jalan dan rencana baru sama-sama perlu dijaga momentumnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |