Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan di pasar global. Pelemahan ini tercermin dari pergerakan indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia.
Berdasarkan data Refinitiv, DXY melemah 0,85% dan ditutup di level 96,217 pada perdagangan Selasa (27/1/2026). Penurunan tersebut menjadi koreksi harian terdalam sejak April 2025, sekaligus membawa DXY ke posisi terlemah hampir empat tahun atau sejak Februari 2022.
Tekanan terhadap dolar semakin terasa setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai pasar sebagai sinyal bahwa pelemahan dolar tidak dianggap sebagai masalah. Sikap ini membuat pelaku pasar melihat ruang koreksi dolar masih terbuka, sehingga tekanan jual pun bertambah.
Sebenarnya, pelemahan DXY sudah berlangsung sejak sepekan terakhir. Pada Selasa (20/1/2026), indeks turun 0,76% ke level 98,641 dan berlanjut melemah pada hari-hari berikutnya. Pada Jumat (23/1/2026), DXY kembali turun 0,77%. Tren ini kemudian memuncak lewat penurunan tajam pada Selasa kemarin.
Tren melemah ini menunjukkan tekanan pada dolar bukan terjadi tiba-tiba, melainkan akumulasi sentimen yang terus menumpuk. Sejumlah isu, mulai dari geopolitik dan kebijakan Trump ikut memanaskan pasar, hingga akhirnya mempercepat penurunan DXY.
Berikut sejumlah faktor yang mendorong tren pelemahan indeks dolar AS.
Isu Greenland Memanaskan Tensi AS-Eropa dan Memicu Ancaman Tarif
Pelemahan dolar mulai menguat ketika isu Greenland kembali mencuat dan memicu tensi geopolitik di Eropa. Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland dari Denmark. Pernyataan tersebut langsung memantik respons keras karena Denmark merupakan anggota aktif NATO, sehingga isu Greenland dipandang berpotensi melebar menjadi ketegangan yang melibatkan negara-negara sekutu.
Penolakan dari beberapa negara anggota NATO membuat situasi semakin sensitif. Ketegangan ini kemudian bereskalasi setelah muncul ancaman tarif dari Trump terhadap negara-negara yang dianggap menghambat agenda tersebut. Pasar memandang ancaman tarif sebagai peningkatan risiko kebijakan, karena membuka peluang konflik dagang yang dapat mengganggu perdagangan dan investasi lintas kawasan.
Saat ketidakpastian kebijakan meningkat, investor cenderung mengurangi posisi pada aset yang dinilai paling terdampak. Dalam episode ini, sumber risikonya dipandang melekat pada arah kebijakan AS, sehingga dolar tidak otomatis menjadi tempat berlindung. Akibatnya, tekanan terhadap dolar ikut membesar.
Sell America Membuat Dana Global Mulai Mengurangi Eksposur ke Aset AS
Setelah tensi kebijakan meningkat, pasar global kembali diramaikan oleh narasi sell America. Ini terjadi ketika sebagian investor mulai mengurangi konsentrasi pada aset-aset AS, baik dolar, saham AS, maupun obligasi pemerintah AS.
Ketika arus keluar dari aset AS membesar, permintaan terhadap dolar ikut menurun. Mekanismenya sederhana. Dana yang keluar dari pasar AS biasanya diikuti konversi mata uang dan penyesuaian portofolio, sehingga kebutuhan memegang dolar berkurang. Jika proses ini terjadi bertahap dan konsisten, pelemahan dolar menjadi lebih lengket karena didorong reposisi portofolio, bukan sekadar reaksi harian.
Penguatan Yen Menekan DXY karena Bobotnya Besar dalam Keranjang Indeks
Faktor berikutnya datang dari yen Jepang. Yen memiliki bobot besar dalam perhitungan DXY, sehingga pergerakannya cepat terasa pada indeks dolar. Ketika yen menguat, pasangan USD/JPY turun, dan itu secara otomatis menekan DXY.
Spekulasi bahwa akan ada langkah untuk menahan pelemahan yen membuat pelaku pasar lebih berhati-hati terhadap posisi yang bertaruh dolar menguat terhadap yen. Banyak trader memilih menutup posisi lebih cepat untuk mengurangi risiko lonjakan volatilitas. Penutupan posisi ini menciptakan permintaan yen dan menekan dolar.
Efeknya membesar karena pasar USD/JPY sangat likuid dan sering menjadi barometer sentimen global. Ketika pergerakan di pasangan ini tajam, dampaknya cepat menjalar ke pasar lain dan memperkuat tekanan pada dolar yang sudah terjadi lebih dulu.
Komentar Trump Memperkuat Kekhawatiran Pasar
Faktor terakhir datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang justru membuat pasar semakin gelisah.
Saat ditanya apakah dolar sudah melemah terlalu jauh, Trump menilai nilai dolar masih sangat baik. Respon ini menambah tekanan pada greenback yang sudah lebih dulu melemah.
Masalahnya, pasar tidak hanya fokus pada kalimat bahwa dolar masih bagus, tetapi pada pesan yang lebih luas, yakni tidak terlihat urgensi oleh Trump untuk meredam pelemahan ini.
Di tengah kondisi yang sudah sensitif, sikap tersebut membuat investor bertanya-tanya seberapa besar toleransi pemerintah terhadap dolar yang melemah. Ketika batas toleransi dianggap tidak jelas, pelaku pasar cenderung mengambil langkah defensif lebih cepat.
Trump juga mengatakan ia tidak sedang menginginkan nilai dolar turun lebih jauh dan ingin dolar bergerak mencari levelnya sendiri. Namun bagi pasar, pernyataan ini tetap meninggalkan ruang interpretasi, karena tidak memberi sinyal stabilisasi yang tegas. Akibatnya, tekanan jual pada dolar tidak mereda, malah cenderung berlanjut.
Setelah komentar Trump, penurunan DXY semakin cepat hingga sempat menyentuh level terendah dalam empat tahun sejak Februari 2022.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)


















































