Dunia Mau Hancur, "Jam Kiamat" Tinggal 85 Detik Menuju Tengah Malam

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia dinilai berada pada titik paling berbahaya dalam sejarah modern, seiring meningkatnya konfrontasi antarnegara besar dan melemahnya kerja sama global untuk menekan risiko eksistensial umat manusia.

Peringatan itu disampaikan sekelompok ilmuwan pada Selasa (27/1/2026), ketika mereka memajukan "Doomsday Clock", jam simbolik kiamat, menjadi 85 detik menuju tengah malam, yang melambangkan kehancuran umat manusia.

Bulletin of the Atomic Scientists menyatakan keputusan tersebut mencerminkan meningkatnya ancaman dari konflik nuklir, perubahan iklim, perkembangan bioteknologi, serta pesatnya ekspansi kecerdasan buatan yang dinilai belum diimbangi dengan pengamanan memadai. Tahun lalu, jarum jam kiamat masih berada di posisi 89 detik menuju tengah malam.

"Kesepahaman global yang dibangun dengan susah payah kini runtuh," demikian pernyataan kelompok tersebut, seraya menyoroti makin tajamnya persaingan kekuatan besar dan terkikisnya kerja sama internasional yang dibutuhkan untuk menghadapi ancaman bersama.

Para ilmuwan menunjuk risiko eskalasi yang melibatkan negara-negara pemilik senjata nuklir sebagai salah satu faktor utama. Mereka menyinggung perang Rusia di Ukraina, kembali memanasnya ketegangan antara India dan Pakistan pada awal tahun ini, serta kekhawatiran terhadap kemampuan nuklir Iran setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada musim panas 2025.

Ketua Dewan Sains dan Keamanan Buletin Ilmuwan Atom Daniel Holz mengatakan polarisasi yang kian dalam antarnegara membuat hasil bencana semakin mungkin terjadi.

"Jika dunia terpecah menjadi pendekatan 'kami versus mereka' yang bersifat zero-sum, maka kemungkinan kita semua kalah menjadi semakin besar," kata Holz, dilansir Newsweek.

Selain ancaman nuklir, kelompok ilmuwan itu juga menyoroti dampak perubahan iklim yang terus meningkat, mulai dari kekeringan yang lebih sering, gelombang panas ekstrem, hingga banjir.

Mereka mengkritik apa yang disebut sebagai minimnya aksi global untuk menekan emisi gas rumah kaca. Dalam laporannya, buletin tersebut secara khusus menyinggung dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memperluas produksi bahan bakar fosil dan memangkas dukungan terhadap energi terbarukan, yang dinilai merusak upaya iklim internasional.

Risiko lain yang dinilai semakin mengkhawatirkan datang dari bioteknologi dan kecerdasan buatan. Para ilmuwan memperingatkan potensi penyalahgunaan kedua bidang tersebut, seraya menilai bahwa kemajuan teknologinya bergerak jauh lebih cepat dibandingkan pengembangan norma global maupun kerangka regulasi untuk mencegah penyalahgunaan.

Adapun Bulletin of the Atomic Scientists didirikan pada 1945 oleh para ilmuwan yang terlibat dalam Proyek Manhattan. Pada 1947, kelompok ini memperkenalkan Jam Kiamat sebagai cara simbolik untuk menyampaikan urgensi bahaya nuklir kepada publik.

Pada titik terjauh dari tengah malam, setelah berakhirnya Perang Dingin, jarum jam tersebut pernah berada di posisi 17 menit menuju tengah malam.

Dalam beberapa tahun terakhir, waktu tersisa dari Jam Kiamat ini beralih dari satuan menit ke detik untuk mencerminkan risiko global yang memburuk dengan cepat.

Meski penilaiannya suram, para ilmuwan menegaskan jarum jam masih bisa dijauhkan dari tengah malam. Menurut mereka, hal itu hanya mungkin jika para pemimpin dunia bertindak secara kolektif untuk mengurangi ancaman nuklir, menghadapi perubahan iklim, serta menetapkan pengendalian yang efektif terhadap teknologi baru.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |