Dilema Bos Baru The Fed: Menyenangkan Trump atau Menjaga Ekonomi AS?

2 hours ago 4

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

10 June 2026 15:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa bulan lalu, argumen untuk menurunkan suku bunga terlihat masuk akal.

Lonjakan inflasi pasca pandemi mulai mereda. Pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda melemah. Di berbagai negara, bank sentral mulai membuka ruang untuk pelonggaran kebijakan.

Investor pun mulai membayangkan dunia dengan biaya pinjaman yang lebih murah.

Hari ini, gambaran itu mulai memudar.

Ekonomi Amerika belum benar-benar mendingin. Inflasi masih bertahan di atas target. Dan kabar yang ingin didengar pasar menjadi semakin sulit disampaikan.

Selama dua tahun terakhir, fokus utama Federal Reserve adalah mengendalikan inflasi.

Suku bunga dinaikkan ke level tertinggi dalam beberapa dekade dengan satu tujuan: memperlambat permintaan dan menurunkan tekanan harga.

Ketika inflasi mulai bergerak turun, ekspektasi pasar ikut berubah. Investor mulai bertaruh bahwa langkah berikutnya bukan lagi kenaikan suku bunga, melainkan pemangkasan.

Pandangan itu bahkan menjadi bagian dari logika di balik penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve pada Januari lalu. Saat itu, pasar tenaga kerja terlihat melunak dan inflasi tampak semakin dekat ke target.

Masalahnya, data setelahnya tidak mengikuti skenario tersebut.

Ekonomi yang Tak Kunjung Dingin

Sejak Maret hingga Mei, ekonomi Amerika menambah rata-rata 188.000 pekerjaan per bulan. Angka itu jauh di atas pertumbuhan angkatan kerja pada saat migrasi berada di level rendah atau bahkan negatif.

Tingkat pengangguran yang sempat naik perlahan hingga akhir tahun lalu kini bertahan di 4,3%.

Pertumbuhan ekonomi juga tetap solid. Model GDPNow milik Federal Reserve Atlanta memperkirakan ekonomi tumbuh dengan laju tahunan sekitar 3% pada kuartal kedua.

Optimisme terlihat pula di pasar keuangan. Indeks saham masih berada di dekat rekor tertinggi, ditopang kombinasi pemotongan pajak dan euforia investasi teknologi.

Dengan kata lain, ekonomi Amerika belum terlihat seperti ekonomi yang membutuhkan stimulus tambahan.

Semakin kuat data yang muncul, semakin tipis pula alasan untuk segera memangkas suku bunga.

Inflasi yang Belum Menyerah

Masalahnya bukan hanya pertumbuhan yang masih kuat.

Inflasi juga belum benar-benar kembali ke tempat yang diinginkan Federal Reserve.

Target bank sentral adalah 2%. Sementara inflasi saat ini berada di 3,8%, sebagian didorong kenaikan harga energi setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam kondisi normal, bank sentral sering mengabaikan lonjakan harga minyak yang bersifat sementara. Namun kondisi saat ini berbeda.

Inflasi telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun. Semakin lama situasi itu berlangsung, semakin besar risiko rumah tangga dan pelaku usaha menganggap kenaikan harga sebagai sesuatu yang normal.

Bagi bank sentral, ancaman terbesar bukan hanya inflasi hari ini. Melainkan inflasi yang mulai tertanam dalam ekspektasi masyarakat.

Argumen yang Mulai Kehilangan Daya Tarik

Warsh sempat berpendapat bahwa peningkatan produktivitas berkat kemajuan teknologi akan membantu menekan inflasi dan membuka ruang bagi suku bunga yang lebih rendah.

Sejauh ini, yang terlihat justru sebaliknya.

Lonjakan investasi, pembangunan pusat data, dan optimisme pasar membantu menjaga konsumsi serta aktivitas ekonomi tetap kuat. Alih-alih mendinginkan ekonomi, gelombang investasi baru justru ikut menopang pertumbuhan.

Banyak pejabat Federal Reserve kini mengingatkan bahwa produktivitas yang lebih tinggi tidak otomatis berarti suku bunga lebih rendah. Dalam sejumlah kondisi, hasilnya bahkan bisa berlawanan.

Warsh juga pernah mengusulkan pengurangan kepemilikan obligasi Federal Reserve sebagai kompensasi bagi penurunan suku bunga.

Namun pendekatan itu dinilai memiliki dampak yang terbatas. Stephen Miran, salah satu pendukung gagasan tersebut, memperkirakan pengurangan neraca sebesar 5% dari PDB hanya akan memberikan efek yang kira-kira setara dengan kenaikan suku bunga seperempat poin persentase.

Tidak cukup besar untuk mengubah arah cerita.

Ketika Pasar dan Bank Sentral Berbeda Kepentingan

Pasar hampir selalu menyukai suku bunga yang lebih rendah. Biaya pinjaman turun, valuasi aset naik, dan uang menjadi lebih murah.

Tetapi Federal Reserve tidak bertugas menjaga harga saham. Tugasnya adalah menjaga stabilitas harga.

Karena itu, ketika harapan investor bertabrakan dengan data ekonomi, bank sentral biasanya lebih memilih mengikuti data.

Dan saat ini, data belum banyak mendukung gagasan pemangkasan suku bunga.

Kabar yang Tidak Ingin Didengar

Selama beberapa bulan terakhir, investor terbiasa membayangkan dunia dengan suku bunga yang lebih rendah.

Dunia itu mungkin masih datang.

Hanya saja tidak secepat yang diharapkan.

Ekonomi sering kali mengabaikan narasi yang paling disukai pasar. Ketika pertumbuhan tetap kuat, pasar tenaga kerja tetap kokoh, dan inflasi masih bertahan di atas target, kabar yang paling tidak ingin didengar investor bisa jadi justru kabar yang paling masuk akal bagi bank sentral.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |