Jakarta, CNBC Indonesia - Kebocoran data dalam skala besar kembali terjadi. Kali ini menimpa nasabah Lloyd Banking Group. Kejadian pada awal Maret 2026 ini membuat hampir 450 ribu pelanggan menjadi korban.
Komite Keuangan Inggris melaporkan korban kebocoran data bank asal Inggris itu mencapai 447.936 pelanggan. Aksi tersebut berhasil membuka transaksi pengguna, detail rekening hingga nomor asuransi nasional.
Pihak bank juga telah memberikan kompensasi terkait kasus ini. Besarannya mencapai 139 ribu pounsterling (Rp 3,1 miliar) kepada 3.625 pelanggan.
Lloyds mengatakan belum ada pelanggan yang mengalami kerugian finansial sejauh ini, dikutip dari Reuters, Senin (30/3/2026).
Pelanggaran itu, Lloyds menjelaskan terjadi karena adanya cacat pada perangkat lunak selama update. Pelanggan yang terdampak bukan hanya di Lloyds, namun juga di Halifax dan Bank of Scotland.
Dalam laporan Reuters, 114.182 orang telah mengklik transaksi. Aktivitas ini membuat informasi pribadi dari pengguna lain terungkap.
Komite Keuangan Inggris juga telah meminta Lloyd memberikan penjelaskan lebih lanjut soal kasus tersebut pada awal bulan ini.
Reuters melaporkan pihak bank harus memberikan pembaruan informasi kepada komite. Ini dilakukan dalam rentang waktu satu bulan serta enam bulan kemudian.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































