Daftar Maskapai Penerbangan yang Naikkan Harga Tiket Pesawat

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri penerbangan global tengah menghadapi tekanan berat. Sejumlah maskapai di berbagai negara mulai menaikkan harga tiket hingga memangkas jadwal penerbangan seiring lonjakan tajam harga bahan bakar pesawat.

Lonjakan ini dipicu kenaikan harga minyak dunia yang berkaitan dengan konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Berdasarkan data International Air Transport Association (IATA), harga rata-rata jet fuel global melonjak menjadi US$197 per barel pada pekan yang berakhir 20 Maret.

Angka ini naik drastis dari US$157,41 dua pekan sebelumnya, dan hampir dua kali lipat dibandingkan US$95,95 pada 20 Februari. Sementara itu, harga minyak mentah acuan global Brent sempat menyentuh US$119 per barel, mendekati level tertinggi sejak konflik berlangsung.


Maskapai Ramai-Ramai Naikkan Harga Tiket

Sejumlah maskapai mulai menerapkan kenaikan tarif, meski besarannya berbeda-beda tergantung rute dan kebijakan masing-masing. Cathay Pacific mengumumkan kenaikan harga tiket melalui penerapan fuel surcharge untuk pembelian mulai 1 April

"Situasi yang terus bergejolak di Timur Tengah terus berdampak signifikan pada harga bahan bakar jet dan ini memberikan tekanan yang cukup besar pada maskapai penerbangan di seluruh dunia," kata maskapai tersebut dikutip Newsweek, Selasa (7/4/2026).

Kebijakan ini berlaku pada sejumlah rute jarak jauh, termasuk penerbangan dari Hong Kong ke Amerika Utara, Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika.

Maskapai asal Selandia Baru, Air New Zealand, juga menaikkan tarif +NZ$10 untuk rute domestic, +NZ$20 untuk rute jarak pendek, dan +NZ$90 untuk penerbangan jarak jauh.

Sementara itu, Air France-KLM mengenakan biaya tambahan sebesar 50 euro per perjalanan pulang-pergi untuk rute jarak jauh. Dari Australia, Qantas turut mengonfirmasi kenaikan tarif pada jaringan penerbangan internasionalnya.

Maskapai Thailand, Thai Airways, bahkan menaikkan harga tiket sebesar 10% hingga 15% untuk menutup lonjakan biaya bahan bakar, di tengah lonjakan permintaan perjalanan ke Eropa.

Di sisi lain, maskapai berbiaya rendah AirAsia mengakui kenaikan tarif tidak bisa dihindari. Namun CEO Tony Fernandes menyebut pihaknya akan berusaha menjaga harga tetap kompetitif.

"Kami tidak akan membatalkan penerbangan karena permintaan bagus. Kami melakukan yang terbaik untuk menjaga harga tiket serendah mungkin, tetapi kami membutuhkan dukungan dari bagian lain dari ekosistem penerbangan," kata Fernandes.

"Harga tiket harus naik; tidak ada cara lain, tetapi harga tiket kami akan naik jauh lebih sedikit daripada yang lain," imbuhnya.

Jadwal Penerbangan Dipangkas

Tak hanya menaikkan harga, sejumlah maskapai juga mulai mengurangi jumlah penerbangan untuk menekan biaya operasional.

United Airlines berencana memangkas sekitar 5% jadwal penerbangannya dalam waktu dekat. CEO Scott Kirby memperkirakan lonjakan harga bahan bakar dapat menambah biaya hingga US$11 miliar per tahun.

Maskapai asal Skandinavia, Scandinavian Airlines, akan membatalkan setidaknya 1.000 penerbangan pada April, setelah sebelumnya memangkas ratusan penerbangan di Maret.

Sementara itu, Air New Zealand juga mengurangi kapasitas sebesar 5%, dengan membatalkan sekitar 1.100 penerbangan antara 16 Maret hingga 3 Mei.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |