Bursa Asia Menguat, Beda Arah dengan Wall Street

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Rabu (11/2/2026), melanjutkan reli meski sentimen global masih dibayangi kekhawatiran terkait kecerdasan buatan (AI) serta data ekonomi Amerika Serikat yang melemah.

Mengutip CNBC.com, laporan penjualan ritel AS Desember menunjukkan belanja konsumen stagnan, jauh di bawah ekspektasi kenaikan 0,4% secara bulanan. Data tersebut memicu kehati-hatian investor di Wall Street dan menekan indeks saham teknologi.

Di Asia, perhatian pelaku pasar tertuju pada data inflasi China Januari. Inflasi konsumen diperkirakan melandai ke 0,4% dari 0,8% pada Desember. Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) China diproyeksikan masih berada di zona deflasi untuk bulan ke-40 berturut-turut, di kisaran -1,5%, meski membaik dari -1,9% bulan sebelumnya.

Sejumlah bursa Asia mencatat pergerakan positif pada awal perdagangan. Australia menjadi salah satu penopang, dengan indeks S&P/ASX 200 menguat sekitar 0,9% di awal sesi.

Korea Selatan juga melanjutkan tren kenaikan, di mana indeks Kospi naik tipis dan berpeluang mencatatkan kenaikan hari ketiga beruntun, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turut menguat.

Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng berada di atas level penutupan sebelumnya, mengindikasikan potensi pembukaan yang stabil hingga menguat. Sementara itu, pasar Jepang libur seiring perayaan hari libur nasional.

Sebaliknya, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan semalam. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,33%, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,59% seiring tekanan pada saham-saham teknologi di tengah isu AI.

Namun, Dow Jones Industrial Average justru naik 0,1% dan menorehkan rekor penutupan baru di 50.188,14, setelah sebelumnya menembus level psikologis 50.000 untuk pertama kalinya pekan lalu.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |