Rupiah Dibuka Perkasa, Dolar AS Jadi Rp16.750

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (11/2/2026), seiring dolar AS yang masih tertekan di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di posisi Rp16.750/US$ atau menguat 0,24%. Penguatan ini melanjutkan kinerja pada penutupan perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup naik tipis 0,03% di level Rp16.790/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,01% di level 96,796.

Tren penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir ditopang sentimen eksternal, terutama pelemahan dolar AS.

Indeks dolar kembali melemah menjelang rilis laporan tenaga kerja AS periode Januari yang sempat tertunda. Pasar memperkirakan ekonomi AS menambah 70.000 pekerjaan pada Januari setelah bertambah 50.000 pada Desember 2025, dengan tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,4%.

Data yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi kembali menekan sentimen risiko, terlebih setelah data penjualan ritel terbaru dilaporkan stagnan dan mengindikasikan tekanan pada kelompok konsumen berpendapatan rendah hingga menengah.

Dolar juga masih dibayangi kekhawatiran menurunnya permintaan asing terhadap aset AS, menyusul laporan bahwa regulator China mengimbau lembaga keuangan membatasi kepemilikan US Treasuries.

Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset berdenominasi dolar dan melirik aset safe haven maupun pasar negara berkembang.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah melalui langkah intervensi yang terukur.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan, BI akan konsisten berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah lewat strategi smart intervention.

"BI selalu sampaikan bahwa BI tetap di pasar menjaga stabilitas rupiah dan BI lakukan smart intevention di pasar spot, NDF, DNDF dan saat ada outflow BI lakukan intervensi agar menjaga kestabilan," tegas Destry dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2026, dikutip Rabu (11/2/2026).

Destry menambahkan, BI juga berupaya menjaga daya tarik aset rupiah agar tetap memberikan imbal hasil menarik ditopang fundamental yang kuat serta komunikasi kebijakan yang jelas.

"Jaminannya ekonomi tumbuh dan sustain," kata Destry, merujuk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2025 yang mencapai 5,39% dan menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |