Jakarta -
Anggota MPR RI dari Kelompok DPD RI Daerah Pemilihan Sulawesi Utara (Dapil Sulut) Ir Stefanus BAN Liow secara resmi membuka Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tingkat Provinsi di Manado.
Kompetisi tersebut menjadi bagian dari upaya MPR RI memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan sekaligus menjawab tantangan era digital yang semakin kompleks.
Sebanyak sembilan sekolah menengah atas dan sederajat terbaik dari berbagai daerah di Sulut tampil dalam babak final tingkat provinsi setelah melalui proses seleksi yang ketat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesembilan sekolah tersebut ialah SMAS Dian Harapan Manado, SMA Katolik Rex Mundi Manado, SMAN 2 Tomohon, SMAN 1 Tahuna, SMA Kristen Eben Haezar Manado, MAN 1 Bolaang Mongondow Plus Keterampilan, SMAN 1 Pinogaluman, SMAN 2 Bitung, serta SMAS Katolik Theodorus Kota Kotamobagu.
Para peserta dibagi ke dalam tiga grup untuk mengikuti tiga babak penyisihan sebelum melaju ke final. Setiap pertandingan meliputi kategori Wawasan Empat Pilar, Tematik Empat Pilar, dan babak rebutan.
Juara tingkat Provinsi Sulut nantinya akan mewakili daerah pada Grand Final Nasional LCC Empat Pilar MPR RI yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 di Gedung MPR RI, Jakarta.
Dewan juri terdiri atas Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (FISIP UNSRAT) Dr Ferry Laud Liando, Wakil Dekan (Wadek) Bidang Akademik dan Kerja Sama Fakultas Hukum (FH) UNSRAT Dr Dani R Pinasang, serta Lektor Kepala Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Manado (FISH UNIMA) Dr Julien Biringan.
Menjawab Tantangan Generasi Digital
Dalam sambutannya, Stefanus menegaskan LCC Empat Pilar bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan sarana strategis untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih relevan terhadap perkembangan zaman.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut melalui Dinas Pendidikan Daerah beserta seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Menurut Stefanus, Indonesia kini memasuki era ketika lanskap demokrasi berubah sangat cepat seiring perkembangan teknologi digital. Generasi Z dan awal Generasi Alpha yang kini duduk di bangku SMA merupakan kelompok digital native yang mendominasi lebih dari seperempat populasi Indonesia.
Kondisi itu menghadirkan tantangan baru berupa derasnya arus informasi, hoaks, dan disinformasi.
Berdasarkan evaluasi kuantitatif dan survei nasional yang melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi, lebih dari 80% generasi muda Indonesia memiliki kebanggaan tinggi terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, mereka membutuhkan metode pembelajaran kebangsaan yang lebih segar, dinamis, dan partisipatif.
"Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar hadir bukan sebagai doktrinasi satu arah, melainkan metode pembelajaran yang edukatif, kompetitif, sekaligus menyenangkan," ujar Stefanus.
Stefanus menjelaskan melalui kompetisi tersebut peserta tidak hanya dituntut menghafal materi, tetapi juga dilatih berpikir kritis, bekerja sama dalam tim, mengambil keputusan secara cepat, serta menjunjung tinggi nilai demokrasi, sportivitas, dan kejujuran.
Stefanus juga mengungkapkan penyelenggaraan LCC tahun 2026 menghadirkan berbagai pembaruan, mulai dari digitalisasi sistem bank soal, mekanisme penilaian secara real time, hingga standardisasi tata kelola dewan juri guna menjamin transparansi, profesionalisme, dan keadilan bagi seluruh peserta.
Antusiasme sekolah di Sulut, lanjutnya, meningkat signifikan. Sebanyak 87 sekolah mendaftarkan diri, kemudian 57 sekolah mengikuti seleksi daring yang ketat sebelum akhirnya terpilih sembilan sekolah terbaik.
Ia menilai capaian tersebut menunjukkan meningkatnya literasi kebangsaan pelajar Sulut. Para peserta pun disebut bukan sekadar mewakili sekolah masing-masing, melainkan menjadi representasi generasi muda yang akan mengawal perjalanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Stefanus mengingatkan bahwa materi yang diperlombakan mencakup empat fondasi utama kehidupan berbangsa, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 beserta Ketetapan MPR RI, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
"Empat pilar ini tidak boleh berhenti sebagai hafalan. Nilai-nilainya harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari karena menjadi fondasi yang menjaga Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan global," kata Stefanus.
Stefanus juga menilai Sulut merupakan contoh nyata daerah dengan tingkat toleransi yang tinggi. Menurutnya, kondisi tersebut lahir dari kuatnya modal sosial masyarakat yang diwariskan melalui filosofi 'Torang Samua Basudara' dan 'Si Tou Timou Tumou Tou', yang mengajarkan pentingnya hidup untuk memanusiakan sesama.
Stefanus berharap para peserta membawa pulang semangat nasionalisme ke sekolah dan daerah masing-masing, terlepas dari hasil akhir perlombaan.
Investasi Jangka Panjang bagi Bangsa
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulut Dr Femmy J Suluh menyampaikan apresiasi Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus kepada MPR RI atas konsistensinya membumikan ideologi bangsa melalui LCC Empat Pilar.
Menurut Dr Femmy, berbagai inovasi yang dilakukan MPR RI membuat kompetisi tersebut semakin menarik dan relevan bagi generasi muda.
Setelah sempat hanya berlangsung di tingkat provinsi pada 2024, sejak 2025 para juara kembali memperoleh kesempatan tampil di tingkat nasional, dan pola tersebut berlanjut pada tahun ini.
Dr Femmy menilai LCC Empat Pilar merupakan investasi jangka panjang dalam membangun karakter kebangsaan generasi muda.
"Melalui kompetisi ini kita sedang menanam investasi terbaik bagi masa depan Indonesia. Kehadiran peserta di panggung nasional bukan hanya membangun kebanggaan pribadi, tetapi juga mempererat persatuan bangsa," ujar Dr Femmy.
Dr Femmy berharap para peserta maupun alumni LCC tidak berhenti setelah kompetisi usai, melainkan menjadi duta Pancasila dan konstitusi di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Menurut Dr Femmy, pemahaman terhadap Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika akan membentuk generasi muda yang kritis, tidak mudah terprovokasi, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Pemprov Sulut juga berencana memperluas penyelenggaraan LCC hingga tingkat kabupaten dan kota agar semakin banyak pelajar mendapat kesempatan menjadi Duta Pancasila dan Duta Konstitusi.
Dr Femmy mengapresiasi pemerataan peserta tahun ini yang tidak lagi didominasi sekolah-sekolah di Kota Manado, tetapi juga melibatkan wakil dari Sangihe, Bolaang Mongondow, Minahasa, Tomohon, Bitung, dan daerah lainnya.
Dr Femmy menegaskan keberhasilan peserta tidak semata-mata diukur dari kecepatan menekan bel atau besarnya nilai yang diraih, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai Empat Pilar berakar kuat dalam diri mereka sebagai calon pemimpin Indonesia di masa depan.
Sebagai informasi, kegiatan itu turut dihadiri Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal (Plt Sekjen) MPR RI Siti Fauziah, Kepala Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulsel Dr Femmy J Suluh, para kepala sekolah, guru pembina, dan pendamping peserta.
(anl/ega)

















































