BPOM Kantongi WLA, Industri Farmasi RI Makin Dipercaya Dunia

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Keberhasilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia mendapatkan status WHO Listed Authority (WLA) oleh World Health Organization (WHO) membawa dampak positif bagi industri farmasi nasional. WLA merupakan bentuk pengakuan tertinggi atas kualitas, integritas, dan kredibilitas sistem regulasi obat dan makanan suatu negara.

Pengakuan ini menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas regulator terkemuka yaitu negara-negara maju di dunia, seperti Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia. Negara yang memperoleh status WLA akan mendapatkan pengakuan internasional, sehingga produk farmasi dan vaksinnya dapat dimasukkan ke dalam daftar produk yang direkomendasikan oleh WHO.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar menuturkan, Indonesia menjadi negara berkembang pertama yang masuk ke daftar WLA. Mengingat, biasanya negara yang mendapat status WLA berasal dari negara maju.

"Jadi itu kebanggaan saya kira. Oleh karena itu ada manifestasi dampak dari WLA ini, karena tidak mudah mendapatkannya dan tidak semua negara bisa mendapatkannya, maka kita masuk dalam klub elit. Elit untuk mengatur standarisasi pengawasan obat dan makanan global. Jadi dengan demikian keuntungan pertamanya tentu adalah kebanggaan," ujar Taruna dalam Health Forum dengan tema "BPOM Raih Status WLA, Apa Untungnya Bagi Pelaku Usaha?", dikutip Selasa (3/3/2026).

WLA menjadi bukti pengakuan bahwa Indonesia telah memiliki standar pengawasan obat dan makanan yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara lainnya. Indonesia mampu mengungguli sejumlah negara besar seperti China, India, dan Rusia yang sampai saat ini belum mendapat status WLA.

Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM William Adi Teja menyebut, beberapa negara berminat untuk belajar ke Indonesia yang sudah memperoleh status WLA.

"Sudah banyak negara yang datang ke BPPOM, misalnya negara di Timur Tengah, di Asia yang ingin belajar bagaimana supaya bisa masuk WHO Listed Authority. Mereka ingin belajar baik itu Jepang, Singapura, Pakistan, negara Afrika, bagaimana masuk ke dalam WLA sebagaimana efisien negara untuk masuk atau diakui WHO," papar William.

Dia memaparkan bahwa melalui status ini, BPOM tidak hanya sukses menjalankan perannya sebagai regulator, melainkan juga mampu berkontribusi terhadap perekonomian nasional yang ditargetkan tumbuh 8%. Terlebih lagi, pertumbuhan kinerja sektor farmasi nasional pada tahun lalu mencapai 10%.

Dari situ, sektor farmasi diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada masa mendatang. Untuk itu, William juga berharap keberadaan WLA akan memudahkan produsen atau industri farmasi lokal untuk menjangkau pasar global.

Dampak Bagi Pelaku Industri Farmasi Nasional

Sementara itu, Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Shadiq Akasya mengatakan, status WLA adalah sebuah kebanggaan bagi Indonesia. WLA pun menjadi bukti kesetaraan yang memastikan kualitas obat Indonesia diakui di luar negeri.

"WLA bisa menjadi percepatan bagi Bio Farma, bukan hanya yang sudah eksisiting kami berpikir ke depan, produk yang akan kami kembangkan dan ekspor akan lebih mudah. Dan ini bukan cuma soal bisnis, namun berarti ekosistem, bahwa produk Indonesia bisa diterima di negara lain," tegas dia.

Keberadaan WLA diyakini akan berdampak pada perbaikan efisiensi pengembangan produk farmasi baru. Sebab, ke depannya, pelaku usaha hanya perlu mengumpulkan berkas dokumen saja ketika ada inspeksi dari WHO. Shadiq pun berharap status WLA yang diperoleh BPOM akan memperkuat kemandirian kesehatan nasional, baik di sektor hulu maupun hilir.

Secara rinci, Shadiq mengatakan di sektor hulu, Indonesia membutuhkan usaha yang lebih besar. Sedangkan di hilir, Biofarma sekarang sudah bisa produksi 20 antigen dan melakukan ekspor ke 150 negara di dunia.

"Tentunya dengan WLA ini akan sangat menarik, karena produk-produk akan lebih dipercaya dan ini harga yang mahal. Sekarang dengan WLA standar kita juga makin mudah karena standarnya dekati ke situ. Ini juga mungkin upaya yang lebih meningkatkan hulunya untuk dikembangkan," ungkap Shadiq.

Menurut Shadiq, status WLA yang diraih BPOM akan membuka peluang bisnis yang lebih menjanjikan terkait pengembangan produk-produk baru. Dia percaya, setelah ada WLA, Indonesia akan makin dipercaya oleh negara mitra, bukan hanya terkait produk baru, namun juga penyediaan layanan clinical trial atau uji klinis. Mengingat, Bio Farma memiliki fasilitas uji klinis yang kompeten.

Tak ketinggalan, Shadiq menegaskan bahwa status WLA akan membuat tingkat kepercayaan dunia internasional terhadap pelaku industri farmasi nasional meningkat, termasuk Bio Farma.

"Pemerintah bisa turun mendukung agar perusahaan Indonesia bisa masuk ke negara lain. WLA seperti ini tentu kita harus meningkatkan diri kita sendiri. WLA bukan sesuatu yang pasti tapi ini saringan yang ketat dari BPOM. WLA dapat memperluas rantai pasok mengajak kita lebih luas lagi," terang dia.

Sebagai catatan, saat ini Bio Farma aktif melakukan ekspor obat dan vaksin dengan porsi kontribusi mencapai 54% dari seluruh pendapatan perusahaan tersebut.

Lebih lanjut, Direktur Utama Biotis Pharmaceuticals Indonesia FX Sudirman mengungkapkan, keberhasilan BPOM mendapatkan status WLA semakin menegaskan kualitas industri farmasi Tanah Air. Dengan begitu, industri farmasi dalam negeri semakin mantap dalam memenuhi kebutuhan obat-obatan dan mewujudkan kemandirian terutama untuk suplai vaksin.

"Tapi dengan status WLA kita memiliki positioning yang unik. Indonesia sebagai negara berkembang satu-satunya yang mendapatkan itu dan bisa mendorong kita untuk ekspansi pasar," jelas FX Sudirman.

Dia melanjutkan, status Indonesia sebagai negara anggota G20 juga menjadi kesempatan emas untuk mengukuhkan posisinya di industri vaksin global. Untuk itu, FX Sudirman menegaskan Biotis akan terus memperbaiki sistem dan memperluas pasarnya.

"Jadi WLA ini bisa kita jadikan titik balik untuk mendeklarasikan bahwa target market kita selain memenuhi kemandirian bangsa kita tapi juga bisa ekspansi," katanya.

Di sisi lain, Director of Corporate Relations, PT Etana Biotechnologies Indonesia, Andreas Donny Prakasa menyatakan, WLA bisa dimanfaatkan untuk mendukung teknologi yang semakin canggih dan bekerja sama dengan negara-negara lain untuk transfer teknologi.

"Penting untuk transfer teknologi, China ini pasarnya paling besar, bagaimana kita bisa meng-grab pasar China, ya dengan kolaborasi, bisa dengan produksi dengan Public Private Partnership (PPP)," pungkas Andreas.

(rah/rah)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |