BPBD DKI Sebut 5 Kelurahan Ini Paling Rawan Kebakaran, 80% Dipicu Korsleting

4 hours ago 7

Jakarta -

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat lima kelurahan dengan frekuensi kebakaran tertinggi dalam kurun 2021-2025. Kelima wilayah tersebut adalah Kapuk, Cengkareng Timur, Penjaringan, Pegadungan, dan Pulo Gebang.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta Muhannad Yohan mengatakan tingginya angka kebakaran di wilayah tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang memiliki pola serupa.

"BPBD DKI Jakarta mencatat selama tahun 2021 sampai 2025, 5 kelurahan yang paling sering dilaporkan mengalami kebakaran adalah Kapuk, Cengkareng Timur, Penjaringan, Pegadungan, dan Pulo Gebang," kata Yohan dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara umum, ada beberapa faktor utama yang menjadi pemicu tingginya frekuensi kebakaran di wilayah-wilayah tersebut," lanjutnya.

Ia menjelaskan masalah kelistrikan menjadi penyebab dominan kebakaran di Jakarta. Berdasarkan data, sekitar 70-80 persen insiden kebakaran dipicu korsleting listrik.

Di sejumlah wilayah, seperti Kapuk dan Penjaringan, kondisi ini diperparah oleh penggunaan listrik yang melebihi kapasitas serta instalasi yang tidak sesuai standar, terutama di kawasan permukiman padat.

Selain itu, kepadatan bangunan menjadi faktor utama. Banyak rumah yang berdempetan dengan material mudah terbakar, seperti kayu dan tripleks, sehingga api cepat merambat dan sulit dikendalikan.

"Jarak antar bangunan yang sangat dekat membuat perambatan api menjadi sangat cepat sebelum petugas tiba di lokasi," ujarnya.

BPBD juga menyoroti aktivitas industri rumahan dan pergudangan di wilayah seperti Cengkareng Timur, Pegadungan, dan Pulo Gebang. Penyimpanan bahan mudah terbakar seperti kain, plastik, hingga bahan kimia tanpa sistem proteksi yang memadai meningkatkan risiko kebakaran berskala besar.

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah kondisi geografis dan infrastruktur. Akses jalan yang sempit serta keterbatasan sumber air kerap menghambat proses pemadaman, sehingga api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran besar.

Di sisi lain, faktor kelalaian manusia juga masih menjadi penyebab signifikan. Penggunaan kompor yang tidak diawasi serta praktik pembakaran sampah menjadi pemicu yang kerap terjadi di lapangan.

Untuk menekan angka kebakaran, BPBD bersama Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta telah melakukan sejumlah langkah mitigasi. Di antaranya melalui pembentukan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) serta pemasangan Lampu Otomatis Pemutus Arus (LOVA) guna mengantisipasi korsleting listrik.

"Upaya mitigasi terus dilakukan, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi, agar risiko kebakaran dapat ditekan," tutupnya.

(bel/dek)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |