Jakarta, CNBC Indonesia - Isu kecerdasan buatan (AI) yang disebut-sebut akan menggantikan peran manusia di berbagai sektor industri menjadi perdebatan. Namun, PT Telkom Indonesia Tbk menilai kekhawatiran tersebut perlu dilihat secara lebih komprehensif.
Executive General Manager Digital Product Telkom Indonesia, Komang Budi Aryasa, menegaskan bahwa gelombang disrupsi AI justru akan menciptakan lebih banyak peluang kerja baru dibandingkan pekerjaan yang hilang.
"Jadi dibandingkan dengan pekerjaan yang terdisrupsi, lebih banyak pekerjaan baru yang tercipta. Kita juga memprediksi di dunia AI ini seperti itu," ujarnya saat Business Update Telkom di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Komang menekankan, narasi bahwa AI akan menggantikan manusia tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, yang sebenarnya terjadi adalah pergeseran kompetensi.
"Bukan AI yang menggantikan orang. Kita akan digantikan oleh orang yang lebih pintar menguasai AI dari kita," kata Komang.
Ia menjelaskan, individu yang paling rentan terdampak adalah mereka yang tidak mau beradaptasi dan tidak menguasai teknologi AI. Karena itu, peningkatan kapabilitas menjadi kunci utama agar tetap relevan di pasar kerja.
"Orang yang akan terdistrupsi adalah orang yang tidak menguasai AI," tegasnya.
Telkom mendorong masyarakat, termasuk para profesional di berbagai bidang, untuk aktif mempelajari dan memanfaatkan tools AI yang tersedia saat ini.
"Usaha kita ke depan, harus belajar AI. Harus belajar meningkatkan kapabilitas kita terhadap tools-tools AI yang ada. Jadi jangan diam," ujar Komang.
Ia mencontohkan profesi jurnalis yang juga perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
"Misalnya di dunia jurnalis, ya belajar juga tools-tools AI yang sekarang ada," katanya.
Komang mengakui, pekerjaan yang bersifat repetitif atau berulang memang berpotensi digantikan oleh sistem otomatisasi dan AI. Fenomena ini, menurutnya, sudah lama terjadi di sektor manufaktur.
"Karena pada saat nanti pekerjaan-pekerjaan yang repeat ya, berulang, digantikan oleh AI, seperti di pabrik-pabrik itu kan sudah digantikan dengan robot ya," ujarnya.
Namun, ia melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk naik kelas ke peran yang lebih strategis dan bernilai tambah lebih tinggi.
Dengan menguasai tools AI, tenaga kerja dinilai bisa berkontribusi di industri lain atau mengambil peran baru yang sebelumnya tidak ada.
Komang merangkum pandangan Telkom dalam dua poin utama. Pertama, meski sebagian pekerjaan akan tergantikan, AI diyakini menciptakan lebih banyak jenis pekerjaan baru.
Kedua, ancaman sebenarnya bukan berasal dari teknologinya, melainkan orang yang menguasi AI yang akan menggantikan pekerjaan.
"Bukan AI yang menggantikan kita, tapi orang yang menguasai AI yang akan menggantikan kita," pungkasnya.
(hsy/hsy)
Addsource on Google


















































