BNPB Ungkap Situasi Karhutla di Sumatera, Kalimantan hingga Papua Barat

12 hours ago 1

Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap sebaran titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi hingga kini. Disebutkan titik api masih terdeteksi di sejumlah provinsi di Sumatera dan Kalimantan, hingga Papua Barat.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan kondisi di beberapa wilayah saat ini cukup kritis. Salah satumya di Kalimantan Barat yang kualitas udaranya masuk kategori berbahaya.

"Kami sampaikan update penanganan karhutla di enam provinsi prioritas dan satu provinsi tambahan yaitu Papua Barat. Perhatian kami terhadap Kalimantan Barat sangat besar karena lahan gambut yang terbakar sangat tebal," kata Berton di Graha BNPB, Jakarta Timur, Jumat (4/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berton menyebut terdeteksi 61 titik api dengan luas lahan terbakar mencapai 802 hektare di Kalbar. Sejauh ini, 432 hektare berhasil dipadamkan.

"Kami menemukan untuk hari kemarin ada 61 titik api dengan luas terbakar sebesar 802 hektar lebih. Luas lahan yang berhasil dipadamkan sebesar 432 hektar lebih," ucapnya.

Selain itu, dia menyoroti kualitas udara di Kalbar yang sudah masuk level berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 kilometer.

Kemudian, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan titik api terbanyak, yakni 70 titik. Luas lahan terbakar mencapai 225 hektare dengan 197 hektare di antaranya sudah berhasil dipadamkan.

"Kita menemukan 70 titik api dengan luas lahan terbakar sebesar 225 hektar (di Kalteng). Lahan yang dapat dipadamkan itu 197 hektar, kualitas udara tidak sehat dengan jarak pandang hanya 2,5 kilometer," lanjut Berton.

Berton melanjutkan di Kalimantan Selatan ditemukan 56 titik api dengan luas lahan terbakar 305 hektare. Adapun luas lahan yang berhasil dipadamkan 112 hektar lebih.

"Kualitas udara (di Kalsel) dari sedang sampai tidak sehat, sedangkan jarak pandang hanya di bawah 5 kilometer," paparnya.

Di wilayah ini, Satgas menggunakan teknologi baru berupa drone thermal untuk mendeteksi api di dalam tanah (bawah permukaan) dan melakukan injeksi surfaktan agar lahan gambut tetap basah.

"Operasi modifikasi cuaca tidak bisa dilakukan karena memang tidak berpotensi menimbulkan hujan ataupun tidak ada titik-titik awan yang ditemukan di atmosfer," jelas Berton.

"Jadi kami menggunakan hal yang baru saat ini dengan drone thermal yang bisa menemukan nanti titik-titik api di bawah permukaan yang tidak terlihat," lanjutnya.

Sedangkan di Pulau Sumatera, khususnya Riau terdeteksi 30 titik api dengan luas lahan terbakar 172 hektare. Petugas berhasil memadamkan 42 hektare.

Selanjutnya, di Jambi ditemukan 20 titik api dengan luas lahan terbakar 47 hektare. Sejauh ini, 37 hektare lahan telah dipadamkan.

"Titik api ditemukan hanya 20, dan tentu ini 20 juga sudah banyak sebenarnya untuk sebuah provinsi di Jambi. Kualitas udara tidak sehat dan jarak pandang 6 kilometer," ungkap Berton.

Dia melanjutkan, di wilayah Sumatera Selatan terdapat 26 titik api dengan luas lahan terbakar 171 hektare.

"Titik api ditemukan di 26 titik dengan luas lahan terbakar sebesar 171 hektar lebih. Luas lahan yang berhasil dipadamkan 56,8 hektar, kualitas udara kategori sedang sampai tidak sehat dan jarak pandang di bawah 7 kilometer," sambung dia.

Berton menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumsel terancam tidak bisa dilanjutkan dalam waktu dekat karena ketiadaan bibit awan di atmosfer berdasarkan data BMKG.

Selain di Sumatera dan Kalimantan, karhutla juga dideteksi di Papua Barat dengan 18 titik api. Luas lahan yang terbakar di wilayah ini mencapai 223 hektare, di mana baru 15 hektare yang berhasil dipadamkan.

"Di Papua Barat ditemukan 18 titik dan lahan yang terbakar itu sebesar 223 hektar lebih dengan lahan yang berhasil dipadamkan 15 hektar," ucapnya.

Terkait itu, BNPB mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Dia juga meminta masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya titik api di lingkungan sekitar.

"Kami mengimbau seluruh masyarakat Indonesia, terutama di wilayah terdampak, untuk menggunakan masker. Kami juga meminta masyarakat tidak melakukan hal yang memicu kebakaran seperti membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan," imbau Berton.

Selain itu, bagi masyarakat yang melakukan aktivitas wisata alam atau camping, diminta memastikan api unggun telah padam sempurna sebelum meninggalkan lokasi.

Dia juga mendorong pemerintah daerah untuk memperketat implementasi Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Serta Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dalam Kondisi Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan.

"Salah satu pesan yang penting adalah dilarang membuka lahan dengan cara membakar. Waspadai potensi kebakaran," pungkasnya.

Tonton juga video "Polri Tetapkan 112 Tersangka Karhutla, Modusnya Buka Lahan"

(ond/idn)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |