Jakarta, CNBC Indonesia - Perjalanan membangun bisnis keluarga tidak selalu mulus. Hal itu dialami keluarga Link, pemilik raksasa snack daging Jack Link's, yang sempat menghadapi ancaman kebangkrutan sebelum akhirnya berkembang menjadi perusahaan makanan ringan global dengan valuasi sekitar US$4 miliar atau sekitar Rp 71 triliun (kurs Rp17.800 per dolar AS).
Kisah tersebut diungkap oleh Troy Link, CEO Link Snacks sekaligus pemimpin generasi kedua perusahaan, dalam wawancaranya di podcast How Success Happens. Troy menceritakan bagaimana usaha keluarganya yang bermula dari rumah jagal sederhana di Wisconsin, Amerika Serikat, berhasil berubah menjadi salah satu pemain terbesar di industri camilan protein dunia.
Di bawah kepemimpinan Troy Link, Link Snacks mempercepat ekspansi internasional, memperluas lini produk, serta membangun kerja sama pemasaran berskala besar. Salah satu strategi yang meningkatkan popularitas merek adalah keterlibatan Jack Link's dalam berbagai ajang olahraga, termasuk balapan NASCAR melalui Jack Link's 500.
Berikut rangkuman dan tips jatuh bangun Troy dalam menjalankan bisnis melansir Entrepreneur.
Jack links. (Dok. Jacklinks) Foto: (Dok. Jacklinks)
1. Manfaatkan Apa yang Dimiliki Bahkan Saat Semuanya Gagal
Troy dibesarkan dalam keluarga yang berkecimpung di bisnis daging, ia bekerja di departemen daging dan rumah potong hewan milik kakeknya. Troy menyaksikan ayahnya berjuang melawan suku bunga tinggi dan akhirnya mengalami kebangkrutan dalam bisnis daging mereka.
Alih-alih menyerah, ayahnya melihat apa yang mereka miliki.
"Kami memiliki ribuan kilogram daging, dan kami memiliki rumah pengasapan dan pengetahuan. Jadi begitulah awalnya, murni kewirausahaan," paparnya.
Produk dendeng dimulai sebagai kebutuhan dalam mengubah operasi yang gagal dan kelebihan daging menjadi produk baru dan berkembang. Ini menjadi salah satu merek camilan protein terbesar di dunia.
Troy menggambarkan ayahnya sebagai pengusaha fenomenal dan pebisnis startup fenomenal, tidak ada yang lebih baik dalam mengelola laporan laba rugi dasar.
2. Fokus dan Tekun
Saat ditanya mengenai "resep rahasia" di balik kesuksesan Jack Link's, Troy menjawab bahwa semuanya berawal dari tiga pertanyaan sederhana.
"Bisakah Anda melakukannya? Apakah Anda ingin melakukannya? Dan apakah Anda memiliki ketekunan untuk melakukannya?" ujarnya.
Prinsip tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, dipadukan dengan pengetahuan mendalam mengenai pengolahan daging serta keyakinan bahwa protein alami akan selalu memiliki tempat di pasar.
Alih-alih mengikuti setiap tren makanan yang muncul, Jack Link's memilih tetap fokus pada produk camilan berbasis protein. Menurut Troy, perusahaan tidak pernah merasa perlu mengejar tren diet yang terus berubah.
"Kami tidak pernah benar-benar harus mengejar tren karena protein alami selalu didasarkan pada manfaatnya bagi kesehatan," katanya.
Sementara itu, sang ayah memiliki jawaban yang jauh lebih sederhana ketika ditanya soal rahasia kesuksesan perusahaan.
"Saus spesial kami sebenarnya adalah sabun dan air di fasilitas kami."
Ungkapan tersebut menggambarkan pentingnya standar kebersihan yang sangat tinggi dalam proses produksi. Dengan menjaga kualitas dan sanitasi layaknya fasilitas medis, perusahaan mampu memproduksi camilan hanya dengan tiga bahan utama serta penggunaan bahan pengawet yang sangat minim.
Bagi Troy, konsistensi terhadap kualitas jauh lebih penting dibanding terus mengikuti perubahan tren pasar.
3. Berani Mengambil Taruhan Besar-Investasikan pada Diri Sendiri Terlebih Dahulu
Selain fokus terhadap produk, Troy juga menilai keberanian mengambil risiko menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan perusahaan.
Jack Link's baru-baru ini menggelontorkan investasi besar dengan membangun pabrik baru senilai US$450 juta, memperluas fasilitas produksi di Jerman, melakukan otomatisasi di tiga pabrik, sekaligus meningkatkan kapasitas produksi dendeng sapi secara besar-besaran.
Menurut Troy, keputusan tersebut memang mengandung risiko tinggi. Namun, ia percaya bisnis keluarga tidak akan berkembang apabila terlalu takut mengambil langkah besar.
"Jika Anda takut risiko, Anda akan menjual bisnisnya, bukan? Itulah mengapa banyak bisnis keluarga tidak berkembang dan menjadi besar karena Anda mulai mempertimbangkan risiko," ujarnya.
Keputusan investasi tersebut dipicu oleh pengalaman selama pandemi COVID-19 ketika permintaan produk melonjak tajam, sementara kapasitas produksi perusahaan tidak mampu mengimbanginya.
Saat itu, Jack Link's mengalami kehabisan stok sehingga tidak dapat memenuhi seluruh permintaan pelanggan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi perusahaan.
"Kami akan berinvestasi pada diri kami sendiri ke depannya," kata Troy.
Karena mengendalikan seluruh rantai pasok, mulai dari pengolahan sapi hingga produk sampai ke tangan konsumen, Jack Link's memilih memperbesar kapasitas produksi lebih awal agar tidak lagi kehilangan peluang akibat keterbatasan pasokan.
Kisah Troy Link menunjukkan bahwa membangun perusahaan besar tidak selalu berarti harus mengikuti setiap tren yang sedang populer. Sebaliknya, fokus pada keunggulan utama, menjaga kualitas produk, serta memiliki keberanian berinvestasi ketika peluang datang justru menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Bagi Troy, perusahaan yang ingin terus berkembang harus berani mengambil keputusan besar. Mengelola risiko memang penting, tetapi pada titik tertentu, pertumbuhan hanya bisa dicapai dengan keberanian melangkah lebih jauh dibanding para pesaing.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































