Jakarta, CNBC Indonesia - Isu borosnya listrik dan air akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) masih menjadi perbincangan hangat. Namun, CEO OpenAI, Sam Altman, membantah anggapan bahwa sistem seperti ChatGPT menghabiskan sumber daya secara berlebihan.
Berbicara di sela-sela India AI Impact Summit dalam wawancara dengan The Indian Express, Altman menyebut klaim yang beredar di internet bahwa ChatGPT menggunakan galon air untuk setiap pertanyaan sebagai informasi keliru.
"Klaim itu sepenuhnya tidak benar, benar-benar gila, dan tidak ada hubungannya dengan kenyataan," ujarnya, dikutip dari CNBC International, Rabu (25/2/2026).
Pusat data secara tradisional menggunakan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan komponen elektronik agar tidak mengalami overheating. Namun, teknologi pusat data terus berkembang dan sebagian fasilitas baru bahkan tidak lagi bergantung pada air sebagai sistem pendingin utama.
Meski efisiensi terus meningkat, laporan bulan lalu dari perusahaan teknologi air Xylem dan Global Water Intelligence memproyeksikan bahwa air yang digunakan untuk pendinginan akan meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam 25 tahun ke depan seiring naiknya permintaan komputasi, sehingga memberi tekanan pada sistem air.
Meski menepis isu air, Altman mengakui konsumsi energi merupakan perhatian yang valid. Menurutnya, persoalan bukan terletak pada satu kali permintaan, melainkan pada skala penggunaan AI secara global.
"Bukan per pertanyaan, tetapi secara total, karena dunia menggunakan begitu banyak AI, dan kita perlu beralih ke nuklir atau angin dan surya dengan sangat cepat," katanya.
Altman juga menanggapi perbandingan yang sebelumnya disampaikan pendiri Microsoft, Bill Gates, mengenai efisiensi energi otak manusia.
Ia menilai perbandingan yang kerap berfokus pada energi pelatihan model AI tidak sepenuhnya adil.
"Salah satu hal yang selalu tidak adil dalam perbandingan ini adalah orang berbicara tentang berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk melatih model AI. Tetapi melatih manusia juga membutuhkan banyak energi," ujar Altman.
"Butuh sekitar 20 tahun kehidupan, dan semua makanan yang Anda makan sebelum waktu itu, sebelum Anda menjadi pintar," imbuhnya.
Menurut dia, perbandingan yang lebih relevan adalah menghitung energi yang dibutuhkan AI untuk menjawab satu pertanyaan setelah model dilatih, atau yang dikenal sebagai inference. Pada tahap ini, ia mengklaim AI kemungkinan sudah menyamai bahkan melampaui efisiensi energi manusia jika diukur dengan cara itu.
Komentar Altman, khususnya perbandingan AI dengan manusia, memicu perdebatan daring di tengah meningkatnya kecemasan tentang kemampuan AI menggantikan pekerjaan manusia.
Sridhar Vembu, salah satu pendiri dan kepala ilmuwan perusahaan perangkat lunak India Zoho Corporation, yang hadir di acara tersebut, mengkritik penyamaan manusia dan AI.
"Saya tidak ingin melihat dunia di mana kita menyamakan sepotong teknologi dengan seorang manusia," ujar miliarder itu dalam unggahan di X.
Di sisi lain, ekspansi pusat data untuk menopang kebutuhan komputasi AI terus memicu perdebatan. Sejumlah komunitas di Amerika Serikat menolak pembangunan fasilitas baru karena khawatir membebani jaringan listrik dan meningkatkan tarif listrik.
Beberapa waktu yang lalu, Dewan Kota San Marcos, Texas menolak proyek pusat data senilai US$1,5 miliar setelah berbulan-bulan mendapat penolakan warga.
Di tengah penolakan tersebut, banyak pemimpin teknologi, termasuk Altman, berpendapat bahwa pusat data akan membutuhkan lebih banyak produksi energi dari berbagai sumber, termasuk energi terbarukan dan nuklir.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































