Badai PHK Hantam 'Raja' Peti Kemas Dunia, Mau Potong Ribuan Karyawan

4 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa pelayaran asal Denmark, Maersk, resmi mengumumkan langkah efisiensi besar-besaran dengan memangkas 1.000 karyawan pada tahun ini menyusul kinerja divisi lautnya yang merosot ke zona merah pada kuartal IV-2025. Langkah PHK ini diambil seiring dengan meningkatnya disiplin biaya di agenda korporasi sebagian besar operator global yang menghadapi lingkungan tarif navigasi yang memburuk.

Mengenai pengurangan tenaga kerja tersebut, pihak Maersk menjelaskan bahwa biaya overhead perusahaan akan dikurangi sebesar US$ 180 juta (Rp 3,02 triliun).

"Dari sekitar 6.000 posisi korporat, sekitar 15%, atau sekitar 1.000 posisi, akan ditutup. Proses pemberitahuan dan konsultasi yang diperlukan telah dimulai," ujar perusahaan peti kemas terbesar kedua dunia itu dikutip Riviera, Jumat (6/2/2026).

Divisi laut Maersk melaporkan kerugian EBIT sebesar US$ 153 juta (Rp 2,57 triliun). Angka ini merosot tajam dibandingkan perolehan kuartal sebelumnya yang masih mencatatkan laba US$ 567 juta (Rp 9,52 triliun), dan terjun bebas jika dibandingkan dengan laba US$ 1,6 miliar (Rp 26,88 triliun) yang tercatat pada kuartal IV-2024.

CEO Maersk, Vincent Clerc, mengakui bahwa tahun 2025 merupakan periode di mana rantai pasok dan perdagangan global terus dibentuk ulang oleh apa yang ia sebut sebagai "geopolitik yang terus berkembang".

Meskipun menghadapi tekanan di sektor laut, secara keseluruhan grup yang bermarkas di Kopenhagen ini mencatat pendapatan setahun penuh sebesar US$ 54 miliar (Rp 907,2 triliun). Maersk juga mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai US$ 1 miliar (Rp 16,8 triliun).

"Kami memberikan kinerja yang kuat dan nilai tinggi bagi pelanggan kami di tahun di mana rantai pasokan dan perdagangan global terus dibentuk kembali oleh geopolitik yang berkembang," tutur Clerc.

Sementara itu, kondisi serupa juga dialami oleh operator pelayaran Jepang, Ocean Network Express (ONE). Perusahaan ini melaporkan kerugian operasional sebesar US$ 84 juta (Rp 1,41 triliun) dan kerugian bersih US$ 88 juta (Rp 1,47 triliun) pada kuartal IV-2025.

Analis dari Linerlytica memberikan peringatan bahwa tarif pengiriman terus merosot menjelang hari libur Tahun Baru Imlek.

"Kemampuan operator untuk menghentikan kemerosotan tarif akan terus diuji dalam beberapa bulan mendatang," ujar lembaga konsultan tersebut.

Sejalan dengan itu, analis AlixPartners mendesak operator untuk disiplin. Pasalnya, akan ada permintaan baru dari para konsumen, sementara tarif pengiriman menurun.

"Dengan tarif pengiriman yang kembali ke level terendah sebelum krisis Suez dan pemilik barang menekan operator untuk beralih kembali ke Terusan Suez, operator harus mengeksekusi secara agresif program penghematan biaya sambil mengelola kapasitas melalui pelayaran lambat dan pengangguran kapal," ujar AlixPartners dikutip Splash 247.

"Neraca keuangan operator yang kuat memberikan penyangga yang krusial, tetapi disiplin modal akan diperlukan untuk menghindari pengulangan siklus 'boom-and-bust' yang merusak nilai di masa lalu."

(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |