Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Investasi atau Badan Kordinator Penanaman Modal (BKPM) menyebut bahwa tenaga surya menjadi potensi yang paling besar di Indonesia. Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM, Heldy Satrya Putera menyampaikan, dari potensi 3.700 GW yang dimiliki Indonesia, 2.600 GW berasal dari tenaga surya.
"Karena memang paling besar potensi kita untuk renewable energy itu di tenaga surya. Oleh karena itu, kami mendorong bagaimana industri untuk equipment yang akan digunakan tenaga surya itu bisa diproduksi di Indonesia," rinci Heldy dalam Energy Outlook 2026 CNBC Indonesia, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, Indonesia punya sumber daya yang sangat besar untuk bisa memproduksi equipment yang dibutuhkan itu. Untuk tenaga surya saat ini sudah terbangun industri-industri baru. Jadi dari total kebutuhan komponen tenaga surya itu kurang lebih sudah 60% sudah dibuat di Indonesia. Heldy berharap, pada masa mendatang juga bisa membangun industri untuk equipment yang lainnya.
"Apalagi energi surya ini bukan hanya untuk pembangkit listrik namun juga untuk bahan bakar. Oleh karena itu, dilakukan hilirisasi. Kita ubah fosil menjadi yang lebih sustainable," jelas Heldy.
Selain potensi tenaga surya, BPKM juga mencatat bahwa cukup banyak negara yang tertarik menanamkan investasinya di sektor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Untuk mendukung itu, BPKM sekarang sedang melakukan penyederhanaan aturan. Hal ini supaya pengembangan Pembangkit Nuklir di Indonesia bisa lebih menarik dibandingkan negara-negara lainnya.
"Mudah-mudahan bisa lebih advance dari negara lain, sudah ada jangka waktunya, tapi masih ada yang belum, sehingga dibuat sistem, kalau sudah lebih dari waktunya akan otomatis diterbitkan, untuk tarik investor, selain sumber daya dan advantage yang kita lakukan," ungkap Heldy.
(bul/bul)
[Gambas:Video CNBC]


















































