Asia Ramai-Ramai Taklukkan Dolar, Rupiah Menangis Sendiri

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia mayoritas menguat pekan ini. Namun, rupiah justru tersungkur.

Nilai tukar rupiah ditutup tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (17/4/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah harus mengakhiri perdagangan jelang akhir pekan di zona merah dengan koreksi sebesar 0,32% ke level Rp17.180/US$. Level tersebut menjadi posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang masa yang baru. Kondisi ini juga membuat rupiah semakin mendekati level psikologis Rp17.200/US$. Sepanjang pekan ini, rupiah ambles 0,56%.

Pelemahan rupiah hari ini terutama dipengaruhi faktor eksternal, khususnya penguatan dolar AS di pasar global yang kembali menekan mata uang negara lain, termasuk rupiah. 

Kinerja rupiah berbanding terbalik dengan mata uang Asia lainnya. Hampir semua mata uang Asia menguat sepekan ini. Penguatan terbesar ditorehkan won yang melonjak 1,23%.

"Tekanan terhadap rupiah datang dari hampir semua arah: arus keluar modal di obligasi Indonesia, minimnya amunisi bank sentral, dan fakta bahwa negara ini adalah eksportir energi bersih di tengah situasi geopolitik yang sangat tidak pasti," kata Glenn Yin, direktur riset di broker ACCM, dikutip dari Reuters.

Rupee juga sudah membaik setelah terguncang hebat di awal April.

"Dalam jangka pendek, rupee diperkirakan bergerak di kisaran 92,50-94 per dolar AS karena langkah-langkah bank sentral telah menahan tekanan pelemahan satu arah," kata seorang tenaga penjual valas di bank asing.

Setelah sempat berada di posisi terbawah mata uang Asia hingga akhir Maret, rupee telah menguat sekitar 2% sejak paket kebijakan pertama diumumkan pada 27 Maret, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik kedua di antara mata uang utama Asia dalam periode tersebut.

Namun sepanjang 2026 sejauh ini, rupee masih menjadi yang terlemah di kawasan karena investor terus mencermati lemahnya arus modal serta risiko terhadap ekonomi akibat tingginya harga energi.

Sebaliknya, India, Filipina, dan Indonesia berada lebih dekat pada garis patahan ekonomi, dengan bantalan yang lebih tipis dan sensitivitas lebih besar terhadap biaya energi impor," tulis analis ING dalam catatannya.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |