Apa Dampak Deal Dagang Terbaru AS-RI, Menguntungkan RI 100%?

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) resmi disepakati. Lalu apakah ini membawa keuntungan ke RI 100%?

Kesepakatan ini dinilai membuka akses pasar ekspor Indonesia ke AS secara lebih stabil. Namun di saat yang sama membawa risiko ekonomi, industri, hingga geopolitik yang tidak kecil. 

Hal ini setidaknya disampaikan oleh ekonom Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Deni Friawan. Ia menilai ART tidak bisa dipahami semata sebagai perjanjian penurunan hambatan tarif.


"ART ini bukan sekadar perjanjian dagang biasa. Ia memadukan perdagangan, investasi, teknologi, dan keamanan ekonomi dalam satu kerangka strategis," kata Deni dalam analisisnya, kepada CNBC Indonesia, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, membaca ART hanya dari sisi tarif merupakan penyederhanaan yang keliru. Kesepakatan ini mencerminkan penataan ulang posisi Indonesia dalam arsitektur ekonomi global yang semakin terfragmentasi dan sarat rivalitas geopolitik.

Dari sisi peluang, ART memberikan kepastian akses ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat. Risiko perubahan tarif resiprokal dinilai berkurang, sehingga meningkatkan stabilitas hubungan dagang dengan ekonomi terbesar dunia.

"Dengan ART, akses ekspor ke pasar AS menjadi lebih pasti. Ini membuka peluang ekspansi produk unggulan Indonesia seperti CPO, kakao, kopi, tekstil, garmen, dan alas kaki," ujar Deni.

Selain itu, ART berpotensi memperdalam integrasi Indonesia dalam rantai pasok strategis AS, terutama pada sektor mineral kritis dan energi transisi seperti kendaraan listrik, baterai, dan rare earth. Dalam konteks perlambatan ekonomi global dan meningkatnya proteksionisme, kepastian hubungan dagang tersebut dinilai memiliki nilai keamanan ekonomi.

"Ini bisa membantu Indonesia mendiversifikasi pasar ekspor mineralnya agar tidak hanya bergantung pada China," tambahnya.

Deni juga menilai komitmen dalam ART terkait transparansi regulasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta fasilitasi perdagangan digital berpotensi memperbaiki iklim investasi jangka panjang di Indonesia. Jika dikelola dengan tepat, ART dapat menjadi momentum upgrading industri dan mendorong arus investasi asing langsung (FDI), tidak hanya dari AS tetapi juga negara lain.

Industri Lokal?

Namun, di balik peluang tersebut, risiko ekonomi dinilai membesar. ART secara nyata mempersempit ruang kebijakan industri Indonesia. Pembatasan kewajiban transfer teknologi, pelonggaran kepemilikan asing di sektor strategis, serta komitmen penyelarasan terhadap rezim ekspor dan sanksi AS dinilai mengurangi fleksibilitas kebijakan nasional.

"Bagi negara yang masih dalam tahap catching-up seperti Indonesia, ruang kebijakan adalah aset yang sangat berharga. Menguranginya tanpa strategi kompensasi yang jelas berisiko menghambat industrialisasi," tegas Deni.

Dampak sektoral juga menjadi perhatian. Pembukaan impor produk pertanian dan pangan dari AS berpotensi menekan produsen domestik jika tidak diimbangi peningkatan produktivitas dan program adaptasi yang memadai. Liberalisasi yang tidak diiringi penguatan daya saing dinilai dapat memicu tekanan sosial.

Dalam jangka menengah, risiko ketidakseimbangan perdagangan juga mengemuka apabila impor tumbuh lebih cepat dibanding ekspor bernilai tambah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah.

Aspek geopolitik menjadi dimensi paling sensitif dalam ART. Kewajiban penyelarasan terhadap kebijakan keamanan ekonomi AS, termasuk kontrol ekspor dan pembatasan terhadap entitas negara ketiga, dinilai berpotensi menggeser posisi netral Indonesia di tengah rivalitas global.

"Ini mempersempit ruang manuver Indonesia ketika dinamika global semakin terpolarisasi, padahal ketahanan ekonomi sangat bergantung pada fleksibilitas strategis," ujarnya.

Deni menegaskan, ART pada dasarnya hanyalah instrumen. Dampaknya akan sangat ditentukan oleh kualitas strategi domestik Indonesia dalam mengelola implementasinya.

"Tanpa penguatan kapasitas industri, peningkatan produktivitas, dan kebijakan kompensasi bagi sektor rentan, ART berisiko menjadi mekanisme integrasi pasif. Sebaliknya, dengan strategi industri yang terukur, ART bisa menjadi platform transformasi struktural," tutupnya.

(sef/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |