Anggaran Militer AS Makin Garang, Saham Pabrik Senjata Terbang

15 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

09 January 2026 18:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor pertahanan di bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street merespons agresif pernyataan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengajukan proposal anggaran militer senilai US$ 1,5 triliun (sekitar Rp 25.000 triliun) untuk tahun fiskal 2027. Angka ini merupakan lonjakan signifikan dari proyeksi anggaran 2026 yang berada di kisaran US$ 901 miliar.

Sentimen ini menciptakan anomali menarik di pasar. Di satu sisi, investor melihat peluang guyuran dana segar bagi kontraktor pertahanan. Di sisi lain, terdapat narasi efisiensi ketat yang dipimpin oleh "Department of Government Efficiency" (DOGE) di bawah arahan Elon Musk dan Vivek Ramaswamy yang berambisi memangkas pemborosan birokrasi.

Berdasarkan data perdagangan historis per 8 Januari 2026, pasar tampaknya telah memilih pemenangnya: perusahaan teknologi pertahanan berbasis drone dan kecerdasan buatan (AI) mencatat kenaikan jauh lebih tinggi dibandingkan raksasa kontraktor konvensional.

Dream Military vs Efisiensi Biaya

Dalam pernyataan resminya, Trump menegaskan perlunya membangun Dream Military untuk menghadapi ancaman global yang semakin kompleks. Usulan kenaikan anggaran hampir dua kali lipat ini bertujuan memperkuat hegemoni militer AS di tengah ketegangan geopolitik.

Namun, kebijakan ini bertabrakan dengan mandat efisiensi DOGE. Pasar membaca situasi ini sebagai sinyal pergeseran belanja: Pentagon tidak akan sekadar membeli lebih banyak pesawat tempur mahal, melainkan beralih ke sistem senjata yang lebih murah, massal, dan berteknologi tinggi (cost-effective). Inilah mengapa saham-saham "New Defense" menjadi primadona baru menggantikan "Old Defense".

Kratos dan AeroVironment Juara di Lantai Bursa

Data pergerakan harga saham sejak berita ini mencuat (7 Januari 2026) hingga penutupan 8 Januari 2026 menunjukkan divergensi yang tajam.

Kratos Defense & Security Solutions (KTOS) muncul sebagai top performer dengan kenaikan fantastis sebesar 13,8% hanya dalam tempo satu hari perdagangan pasca-berita. Kratos, yang dikenal dengan drone tempur otonom (seperti XQ-58A Valkyrie), dianggap sebagai solusi sempurna bagi doktrin militer baru: canggih namun jauh lebih murah dibandingkan jet tempur berawak.

Menyusul di posisi kedua adalah AeroVironment (AVAV) dengan kenaikan 8,3%. Sebagai produsen "drone kamikaze" Switchblade yang telah teruji di medan perang Ukraina, AVAV diuntungkan oleh inisiatif "Replicator" Pentagon yang menargetkan pengadaan ribuan sistem otonom dalam waktu singkat.

Kedua emiten ini dinilai paling selaras dengan visi Trump (militer kuat) sekaligus visi Musk (teknologi efisien).

Nasib Berbeda Raksasa Pertahanan

Sementara saham teknologi terbang tinggi, kontraktor pertahanan tradisional mencatatkan kenaikan yang lebih moderat. Lockheed Martin (LMT), produsen jet tempur F-35, mencatatkan kenaikan solid sebesar 4,3%. Northrop Grumman (NOC), yang memegang proyek strategis pembom nuklir B-21 Raider, naik 2,4%.

Kenaikan ini wajar mengingat posisi mereka sebagai tulang punggung alutsista AS yang sulit digantikan, meski tidak menawarkan pertumbuhan eksplosif seperti sektor drone.

RTX Corp Tertekan Ancaman Intervensi

Sorotan negatif tertuju pada RTX Corp (RTX), induk usaha Raytheon. Saham ini menjadi laggard (tertinggal) dengan kenaikan tipis hanya 0,8% pasca-berita.

Performa lambat ini merupakan respons langsung pasar terhadap peringatan keras Trump. Presiden terpilih tersebut secara spesifik mengancam akan memblokir aksi pembelian kembali saham (stock buyback) dan pembayaran dividen RTX jika perusahaan tidak segera membenahi masalah kapasitas produksi rudal mereka.

Ketidakpastian regulasi ini membuat investor institusi mengambil sikap wait and see, meskipun RTX sebenarnya merupakan penerima manfaat utama dari kebutuhan "isi ulang" stok rudal global.

Korelasi Pendapatan dan Pertumbuhan Harga

Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pasar tidak sedang membeli besaran pendapatan, melainkan membeli growth story. Ada korelasi terbalik yang menarik antara skala pendapatan perusahaan dengan persentase kenaikan harga sahamnya dalam dua hari terakhir.

Perusahaan raksasa (Large Cap) seperti Lockheed Martin dan RTX Corp memiliki basis pendapatan tahunan yang sangat besar (di atas US$ 60 miliar), namun pertumbuhannya cenderung stagnan di single digit growth.

Sebaliknya, perusahaan "New Defense" seperti Kratos dan AeroVironment memiliki pendapatan jauh lebih kecil, namun memiliki ruang ekspansi fiskal yang sangat luas berkat doktrin perang murah (drone/AI).

Tabel berikut merangkum anomali tersebut:

Prospek ke Depan

Peta pergerakan saham ini memberikan sinyal jelas bagi investor yaitu Wall Street sedang melakukan rotasi portofolio. Fokus beralih dari sekadar emiten berkapitalisasi besar ke emiten yang menawarkan inovasi teknologi dengan biaya produksi rendah.

Jika anggaran US$ 1,5 triliun ini disetujui Kongres, emiten seperti Kratos dan AeroVironment diprediksi akan terus mengungguli pasar, didorong oleh kontrak pengadaan massal yang menjadi prioritas baru Pentagon. Di sisi lain, raksasa seperti RTX harus membuktikan efisiensi operasional mereka sebelum dapat kembali menarik minat dana institusi besar.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |