Analisis Pakar soal Taiwan dan Akhir Perang Iran Usai Jumpa Trump-Xi Jinping

4 hours ago 5
Jakarta -

Pertemuan bersejarah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah terjadi di Beijing. Momen bersuanya dua pemimpin negara adidaya ini diprediksi memiliki dampak pada dinamika politik global.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, mengatakan pertemuan Trump dan Xi Jinping baik bagi kestabilan dunia. Momen itu menjadi ruang bagi kedua negara dalam mengendurkan ketegangan setelah merasa menjadi pesaing satu sama lain.

"KTT kedua negara adi kuasa ini baik bagi dunia karena menghindari kesalahpahaman jika keduanya bersaing dan saling mengalahkan. Padahal, keduanya masih menyimpan potensi kerja sama," kata Teuku saat dihubungi, Senin (18/5/2026).

Teuku mengatakan Amerika sangat membutuhkan China dalam menekan Iran. Dalam pertemuan itu, China dan Amerika juga sepakat mengenai larangan Iran dalam memiliki senjata nuklir. Menurut Teuku, China juga berpotensi menjadi fasilisator dalam mendamaikan Amerika dan Iran.

"Sebagai adi kuasa yang sedang naik daun, China cukup mengetahui permintaan Amerika Serikat, namun dalam praktiknya nanti, akan menyaring seluruh butir permintaan Amerika Serikat, dalam sebuah bingkai yang fleksibel, guna selanjutnya dikomunikasikan dengan Iran," jelas Teuku.

"Bingkai tersebut memuat kepentingan nasional jangka panjang China, berisi prinsip-prinsip hukum internasional yang berbasis peradaban dunia yang tinggi, yang dimengerti oleh Iran sebagai sesama negara yang juga berperadaban tinggi," sambungnya.

Meski melihat ada secercah asa terkait perang Iran, Teuku menilai pertemuan Trump dan Xi Jinping membuat posisi Amerika terjepit dalam pusaran konflik China dan Taiwan. Dia mengatakan pertemuan hangat kedua pemimpin itu membuat Amerika kini sulit mendukung Taiwan secara militer.

"Karena AS telah melihat kebangkitan China yang luar biasa secara ekonomi, diplomasi, dan pertahanan keamanan. Dengan demikian, akan semakin sulit bagi AS mendukung Taiwan secara militer, termasuk melakukan latihan militer dengan Taiwan dan sekutunya di Jepang dan Korea Selatan," katanya.

Dia menambahkan, Amerika kini hanya bisa bersikap diplomatis dalam merespons ketegangan China dan Taiwan.

"Kebijakan paling aman bagi AS saat ini adalah melarang Taiwan memproklamirkan kemerdekaan, serta sangat membatasi kunjungan pejabat tinggi AS ke Taiwan," jelas Teuku.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah melakukan kunjungan kerja ke China, dan menggelar pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping. Trump melontarkan pujian untuk Xi.

Ini merupakan kunjungan pertama Presiden AS ke China dalam 10 tahun terakhir. Trump menemui Xi untuk meningkatkan hubungan perdagangan kedua negara di tengah potensi gesekan terkait Taiwan dan Iran.

Trump bertolak dari Washington DC pada Selasa (12/5) waktu AS. Dia tiba di Beijing pada Rabu (13/5) waktu setempat.

Dalam kunjungan itu, Trump melontarkan pujian untuk Xi. Trump menilai Xi merupakan pemimpin hebat.

Trump juga mengaku optimistis untuk masa depan hubungan China dan AS. Trump mengaku merasa terhormat berteman dengan Xi.

"Suatu kehormatan untuk bersama Anda. Suatu kehormatan untuk menjadi teman Anda, dan hubungan antara China dan AS akan menjadi lebih baik dari sebelumnya," kata Trump, dilansir Anadolu Agency dan TRT World, Kamis (14/5).

"Kita memiliki hubungan yang fantastis. Kita tetap akur ketika ada kesulitan, kita menyelesaikannya," sambung Trump kepada Xi.

Saksikan Live DetikPagi:

(ygs/gbr)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |