Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi sebagian besar orang, warisan harta senilai puluhan triliun rupiah adalah tiket menuju kehidupan yang nyaman dan serba mewah. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Ven Ajahn Siripanyo. Putra dari salah satu orang terkaya di Malaysia ini justru memilih jalan hidup yang 180 derajat berbeda. Ia memilih meninggalkan gemerlap harta demi menjadi seorang biksu.
Siripanyo diketahui merupakan putra tunggal dari Ananda Krishnan, konglomerat legendaris asal Negeri Jiran. Mengutip laporan South China Morning Post (SCMP) via Economic Times, sang ayah memiliki imperium bisnis yang menggurita dan diperkirakan mengantongi kekayaan bersih mencapai kisahan Rp90 triliun. Dengan status anak laki-laki satu-satunya, Siripanyo secara otomatis berada di garis depan untuk mewarisi takhta bisnis tersebut.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih mengelola korporasi besar, ia justru memilih mengenakan jubah saffron dan hidup dalam kesederhanaan spiritual.
Keputusan besar ini diambil Siripanyo sejak usia muda. Ia memilih melepaskan seluruh hak materialnya dan mengadopsi prinsip hidup sebagai biksu hutan (Ajahn) dalam tradisi Theravada.
Sebagai seorang biksu, keseharianSiripanyo kini jauh dari kemewahan masa lalunya. Ia hidup dengan mengandalkan derma atau sedekah makanan
dari masyarakat setempat, tidur di tempat yang bersahaja, dan fokus pada meditasi serta pembersihan jiwa.
"Pilihan Ajahn Siripanyo sepenuhnya adalah pilihannya sendiri, dan itu dihormati dalam keluarga," tulis laporan tersebut.
Meski telah memutuskan hubungan dengan kehidupan materialistis, Siripanyo dikabarkan tidak sepenuhnya memutus tali silaturahmi dengan keluarganya. Dalam beberapa kesempatan, ia sesekali tetap meluangkan waktu untuk mengunjungi sang ayah. Kunjungan tersebut dilakukan dengan tetap menjaga batasan ketat dan prinsip-prinsip ajaran Buddha yang ia peluk.
Mirip Kisah Finansial Fiktif, Tapi Nyata
Menariknya, kisah hidup Ajahn Siripanyo kerap disandingkan oleh para pengamat dengan karakter fiktif Julian Mantle dalam buku best-seller karya Robin Sharma, "The Monk Who Sold His Ferrari".
Bedanya, jika Julian Mantle adalah tokoh cerita fiksi, apa yang dilakukan Siripanyo adalah sebuah realita. Ini adalah kisah nyata tentang seseorang yang secara sadar menolak takhta dan memilih jalan asketis, membuktikan bahwa di dunia yang serba materialistis ini, kedamaian batin terkadang tidak bisa dibeli dengan angka-angka di rekening bank.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































