Akhir Polemik Candaan Pandji soal Budaya Toraja

1 hour ago 1
Makassar -

Komika Pandji Pragiwaksono telah menjalani sidang adat buntut candaannya terkait budaya Toraja. Pandji disanksi denda satu ekor babi dan lima ekor ayam.

Melansir detikSulsel, Sabtu (14/2/2026), peradilan adat untuk Pandji berlangsung di Tongkonan Kaero Sangalla, Tana Toraja. Sanksi denda adat untuk Pandji ini merupakan tradisi masyarakat Toraja sebagai permohonan maaf kepada leluhur.

"Jadi sebagai permohonan maaf kepada leluhur kami, (sanksi denda Pandji) 1 ekor babi, 5 ekor ayam," kata hakim adat Toraja, Sam Barumbun di hadapan Pandji dan masyarakat Toraja, Selasa (10/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Candaan Pandji, menurut Sam, tidak hanya melukai harkat dan martabat suku Toraja, tapi juga leluhur. Sekalipun video yang dipermasalahkan pertama kali direkam pada 2013 silam.

"Saudara Pandji dalam materi stand up komedi yang pertama kali dilakukan pada tahun 2013, dan setelah itu dihapus. Kemudian 2021 itu dibuka kembali dan menjadi viral. Ini melukai dan menyakiti hati kami semua," ujarnya.

Sam juga menekankan kepada Panji bahwa kematian di Toraja adalah bagian terpenting dalam kehidupan mereka. Kematian disebut menjadi momentum untuk mengembalikan pemberian sang pencipta.

"Saudara Pandji, mati di Toraja menjadi adalah bagian terpenting dari kehidupan kami. Sehingga mati di Toraja menjadi sangat mahal. Karena di situlah kami mengembalikan sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan sang pencipta kami kepada Tuhan kembali," ucap Sam.

Karena itu, kata Sam, masyarakat Toraja berupaya mengembalikan pemberian Tuhan sebaik mungkin. Dia sekali lagi menekankan itulah mengapa kematian di Toraja mahal.

"Sehingga kami berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikan pemberian yang terbaik dari sang pencipta itu. Jadi sekali lagi, kenapa mati di Toraja itu mahal karena mengembalikan seseorang ke keabadiannya itu adalah hal terpenting dalam kehidupan kita," terangnya.

Pandji Pragiwaksono menjalani ritual adat di Toraja, sebagai permohonan maaf dan tanggung jawab pemulihan.Pandji Pragiwaksono menjalani ritual adat di Toraja, sebagai permohonan maaf dan tanggung jawab pemulihan. (Foto: dok. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN))

Pandji Terima Disanksi Adat

Di hadapan masyarakat dan tokoh adat Toraja, Pandji juga menyampaikan permohonan maaf. Dia mengakui kesalahannya sebab membawakan materi ritual adat Rambu Solo yang tidak dia pahami secara utuh.

"Terima kasih banyak, pada kesempatan kali ini, di hari ini, saya menerima semua keputusan yang telah diberikan," ujar Pandji di hadapan masyarakat dan tokoh adat Toraja, Selasa (10/2/2026).

Pandji kemudian berjanji untuk menjadi lebih baik setelah adanya kejadian ini. Dia mengatakan apa yang telah ia lakukan sebelumnya tidak akan diulangi lagi.

"Semoga ini menjadi kesempatan untuk lebih baik dari saya. Dan saya berjanji seperti tadi diminta, bahwa ini adalah untuk terakhir kalinya saya melakukan sesuatu yang serupa dan tidak mengulangi lagi di masa depan," ucap Pandji.

Pandji Jalani Ritual Permohonan Maaf ke Leluhur Toraja

Komika Pandji Pragiwaksono telah menjalani peradilan adat buntut candaannya mengenai budaya Toraja, Rambu Solo, saat stand up comedy. Di hadapan masyarakat dan tokoh adat Toraja, Panjdi mengakui kesalahannya.

Peradilan adat untuk Pandji berlangsung di Tongkonan Kaero Sangalla, Tana Toraja, Selasa (10/2/2026). Pandji hadir mengenakan setelan kemeja biru muda dan celana abu-abu.

Halim adat Toraja, Yusuf menuturkan, Pandji diberi sanksi ringan akibat melakukan pelanggaran karena ketidaktahuannya dan juga telah minta maaf. Pandji didenda satu ekor Babi dan lima ekor sebagai persembahan kepada leluhur di wilayah Pa'buaran Tongkonan Kaero, Sangalla' dan akan menjalani ritual permohonan maaf pada Rabu (11/2).

"Kita tidak berikan sanksi berat karena dia tidak sengaja dan sudah minta maaf. Sanksinya hanya satu ekor babi dan lima ayam. Babi dan satu ayam besok mau dipakai untuk ritual permohonan maaf kepada leluhur. Tadi sudah empat ekor ayam," ujarnya.

Dia mengatakan, selain sebagai pemulihan martabat suku Toraja, ritual adat ma'bua' juga merupakan janji kepada leluhur. Apabila melakukan kesalahan yang sama kemudian hari, pelaku akan dijauhkan dari berkat.

"Ritual besok tidak di tongkonan lagi tapi di Pa'buaran Tongkonan Kaero. Ritual yang kita lakukan singkatnya adalah pemulihan harmonisasi dan janji kepada leluhur. Kalau masih melakukan kesalahan yang sama, orang itu akan dijauhkan dari berkat," ujar Yusuf.

Pandji Ikut Santap Hidangan Hewan Persembahan

Komika Pandji Pragiwaksono menjalani ritual adat Ma'sarrin dan Kadang Tua' atau permohonan maaf kepada leluhur Toraja. Sanksi denda satu ekor babi dan lima ekor ayam yang diberikan kepada Pandji juga disembelih sebagai persembahan.

Ritual ini digelar di wilayah Tongkonan Kaero Sangalla', Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Rabu (11/2/2026). Hewan yang disetor Pandji sebagai persembahan untuk penyucian dan pemulihan harmonisasi yang telah rusak.

Hewan yang sempat dikurbankan kemudian dimasak tanpa bumbu dan dihidangkan menggunakan alas daun pisang. Hidangan ini selanjutnya disantap bersama oleh Pandji, para tokoh adat, dan masyarakat yang hadir di lokasi.

Pandji Pragiwaksono menjalani ritual adat permohonan maaf kepada leluhur Toraja.Pandji Pragiwaksono menjalani ritual adat permohonan maaf kepada leluhur Toraja. (Foto: Ricdwan Abbas Bandaso/detikSulsel)

Pandji mengaku baru kali pertama menjalani sanksi adat. Dia menjadikan kejadian ini menjadi pembelajaran berharga.

"Ini benar-benar pelajaran berharga bagi saya, banyak hal-hal baru yang saya dapatkan, keindahan alam, aneka adat budaya dan keramahan masyarakat. Dan memang, kalau mau tahu Toraja ya harus datang langsung ke Toraja," ujar Pandji kepada wartawan usai ritual.

"Saya anggap ini semacam mungkin jadi ada berkahnya ya, bahwa tanpa kejadian ini mungkin saya tidak akan bertemu tokoh adat dan perwakilan dari 32 wilayah adat," lanjutnya.

Pandji mengungkap, selama dua hari menjalani sidang adat Toraja, tidak ada proses ritual yang membebani dirinya. Begitupun denda adat satu ekor babi dan lima ekor ayam dianggap tidak memberatkan baginya.

"Saya tidak menemukan kesulitan apa-apa, semuanya dipermudah, lancar, diperingkas. Menurut saya prosesnya sangat menyenangkan dan sangat nikmat," tuturnya.

Pandji Nilai Saksi Adat Toraja Adil dan Demokratis

Komika Pandji Pragiwaksono menjalani peradilan adat di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), buntut candaannya terkait budaya Toraja, Rambu Solo saat stand up comedy. Pandji menilai sanksi adat terhadap dirinya adil dan demokratis.

"Saya melihat langsung seperti apa adat dan tradisi Toraja, yang begitu bisa saya katakan adil dan demokratis dalam penyelesaian permasalahannya," kata Pandji di hadapan tokoh adat dan masyarakat Toraja, Selasa (10/2/2026).

Dia mengaku tersanjung dengan kehadiran sejumlah perwakilan adat. Menurutnya, tidak mudah mengumpulkan perwakilan adat dalam satu momen untuk menyelesaikan persoalan.

"Saya juga merasa tersanjung dengan kebersamaan dengan begitu banyak perwakilan dari wilayah adat. Saya bisa asumsikan ini bukan sesuatu yang mudah bahwa kita bisa berkumpul saat ini adalah sesuatu yang luar biasa," bebernya.

Pandji juga mengaku telah mendengarkan pernyataan dari perwakilan adat atas polemik materi stand up-nya. Dia pun berharap masih diterima untuk kembali berkunjung ke Toraja.

"Saya tadi sudah mengikuti dan mendengar pernyataan dari perwakilan adat saya terima dan saya mengerti saya rasa ini akan membantu saya menjadi lebih baik lagi," katanya.

"Dan semoga saya masih diterima untuk kembali lagi karena saya betul-betul sangat menikmati momen berada di sini bersama dengan keluarga di Toraja," lanjutnya.

(kny/jbr)


Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |