Jakarta -
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pandangan Indonesia terkait dengan dinamika ekonomi global saat Asian Leaders Roundtable pada rangkaian acara Tokyo Conference 2026 di Tokyo, Jepang, kemarin. Airlangga juga menyampaikan pentingnya penguatan kerja sama regional di Asia.
"Tatanan global saat ini tengah mengalami perubahan signifikan, ditandai dengan meningkatnya politik berbasis kekuatan, proteksionisme, serta menurunnya kepercayaan terhadap sistem multilateralisme. Kondisi tersebut tercermin dari terbatasnya kemajuan dalam forum global seperti WTO dalam merespons isu-isu baru seperti perdagangan digital dan ketahanan rantai pasok global, serta meningkatnya kecenderungan negara-negara untuk menempuh pendekatan unilateral maupun bilateral," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Kamis (12/3/2026).
Ia menilai situasi geopolitik global yang memanas, termasuk eskalasi konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, turut memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi global. Hal ini terlihat dari lonjakan harga minyak dunia yang melampaui USD 100 per barel dengan fluktuasi yang masih terus terjadi. Kemudian, potensi terganggunya jalur energi global melalui Selat Hormuz menjadi bukti stabilitas dan perkembangan ekonomi dunia dipengaruhi dinamika geopolitik.
Menyikapi kondisi ini, Pemerintah Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional, sejalan dengan arahan Presiden melalui percepatan pengembangan energi berbasis sumber daya domestik. Indonesia saat ini telah mengimplementasikan program Biodiesel B40 dan menargetkan percepatan menuju B50.
Pemerintah Indonesia juga mendorong pengembangan Bioetanol melalui program E10 yang akan dipercepat implementasinya menuju E20. Di sisi energi baru terbarukan, Indonesia juga tengah menyiapkan pengembangan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga sekitar 800 Gigawatt sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat transisi energi dan meningkatkan kemandirian energi nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Asia dinilai berperan penting sebagai kekuatan penyeimbang, yang mampu menjaga stabilitas ekonomi global. Kawasan Asia diproyeksikan akan menyumbang sekitar 52% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada 2050 sehingga penguatan kerja sama regional menjadi semakin strategis.
Airlangga menegaskan Asia perlu tetap berpegang pada prinsip inklusivitas dan multilateralisme berbasis aturan (rules-based multilateralism). Kerja sama regional melalui berbagai kerangka seperti ASEAN, kemitraan ekonomi regional, serta forum multilateral seperti G20 menjadi instrumen penting untuk memperkuat integrasi ekonomi, meningkatkan konektivitas, serta menjaga stabilitas kawasan di tengah rivalitas kekuatan besar dan kawasan lainnya.
Lebih lanjut, Asia juga didorong untuk mencegah fragmentasi ekonomi global menjadi blok blok yang saling bersaing. Sebaliknya, kawasan perlu memperkuat keterbukaan perdagangan, konektivitas ekonomi, serta kerja sama strategis yang saling melengkapi guna mendorong pertumbuhan bersama.
"Arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia sendiri harus ada di tengah panggung ekonomi global karena kinerja ekonomi yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Indonesia juga akan terus melakukan diplomasi non-blok didalam menavigasi ketidakpastian global ini," tutur Airlangga.
Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga menyampaikan, perekonomian indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,4% pada 2026, dengan inflasi yang tetap terkendali dan defisit fiskal yang terjaga. Indonesia juga mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal 2026.
Pemerintah Indonesia juga terus mendorong pendekatan "Indonesia Incorporated", yaitu sinergi antara Pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat transformasi ekonomi nasional dan meningkatkan daya saing global.
Di akhir paparannya, Airlangga menekankan Asia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan stabilisasi dalam perekonomian global apabila kawasan tetap berkomitmen pada keterbukaan, kerja sama regional, serta penguatan sistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
"Jika Asia tetap berpegang pada semangat keterbukaan regional dan menolak pendekatan zero-sum dalam rivalitas kekuatan besar, maka abad ke-21 dapat benar-benar menjadi abad Asia," pungkas Airlangga.
Sebagai informasi, kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida memimpin langsung acara, dengan Co-Chair Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Acara ini dihadiri sejumlah tokoh ekonomi dan kebijakan kawasan, antara lain Mantan Deputi Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat, Mantan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati, Mantan Gubernur Reserve Bank of India Duvvuri Subbarao, Mantan Gubernur Bank of Thailand Tarisa Watanagase, Mantan Sekretaris Jenderal ASEAN Ong Keng Yong, serta Mantan Menteri Perdagangan Malaysia Tengku Zafrul Tengku Abdul Aziz.
Ikut mendampingi Menko Airlangga pada acara Asian Leaders Roundtable tersebut yakni, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso dan Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital, Ali Murtopo Simbolon.
Simak juga Video Puan Sampaikan Kesepakatan MIKTA: Perkuat Multilateralisme-Diplomasi Parlemen
(akd/akd)

















































