Jakarta, CNBC Indonesia - Mark Zuckerberg selama ini terkesan menghalalkan segala cara demi memenangkan perlombaan sistem kecerdasan buatan (AI) tercanggih. Berbagai kezaliman telah dilakukan dan merugikan karyawan, mulai dari PHK massal bertubi-tubi hingga pengumpulan data dalam jumlah besar.
Salah satu kezaliman perusahaannya, Meta Platforms, adalah melakukan pengumpulan data karyawan untuk melatih sistem AI. Data-data dikumpulkan dengan memanfaatkan software pendeteksi di laptop kerja untuk merekam data pergerakan mouse, penekanan tombol, dan tindakan lainnya.
Namun, dalam memo internal perusahaan yang dirilis pada Selasa (2/6) waktu setempat, Meta mengatakan telah mengubah beberapa elemen dalam alat pendeteksinya. Hal ini dilakukan setelah berminggu-minggu mendapat protes keras dari para karyawan.
Kontrol baru ini akan memungkinkan karyawan untuk menghentikan sementara pengumpulan data hingga 30 menit dan meminta pengecualian dari inisiatif tersebut, menurut memo yang ditulis oleh Stephane Kasriel, wakil presiden di unit Superintelligence Labs Meta yang mengembangkan model AI.
Kasriel mengatakan tim di balik software pendeteksi tersebut juga telah memperkenalkan beberapa optimasi untuk mengurangi dampaknya pada daya tahan baterai komputer. Pasalnya, para karyawan mengeluhkan software yang mengonsumsi begitu banyak data sehingga menyebabkan penggunaan internet rumah mereka melonjak.
"Meskipun kami tetap yakin dengan perlindungan privasi yang telah kami terapkan sejak peluncuran, yang telah melalui beberapa tahap peninjauan risiko, kami telah mendengar kekhawatiran Anda tentang data pribadi pada perangkat kerja, masa pakai baterai, dan keinginan untuk lebih mengontrol kapan pengambilan data terjadi," kata Kasriel dalam memo tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu (3/6/2026).
Juru bicara Meta menolak memberikan komentar.
Diketahui, Meta mengumumkan pada bulan lalu bahwa pihaknya menginstal software pendeteksi di komputer-komputer karyawan di AS untuk melatih agen AI yang bisa melakukan tugas secara otomatis.
Peluncuran tersebut terjadi di tengah restrukturisasi besar-besaran di Meta, salah satunya melalui PHK massal dengan alasan efisiensi untuk investasi AI. Hal ini memicu reaksi keras dari para karyawan, yang menyamakan Meta dengan "Pabrik Ekstraksi Data Karyawan."
Hal ini dapat memperdalam masalah regulasi Meta di Uni Eropa, di mana perusahaan teknologi menghadapi bentrokan hukum yang sengit tentang bagaimana mereka mengumpulkan dan menggunakan data, seperti yang dilaporkan Reuters.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































