Yield Surat Utang Dunia Tiba-Tiba Meledak, IHSG dan Rupiah dalam Bahaya

4 hours ago 4
  •  Pasar keuangan Indonesia kembali babak belur, IHSG ambruk dan rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah
  • Wall Street ditutup beragam, Dow Jones hijau semenatar Nasdaq dan S&P melemah
  • Perkembangan perang, rapat dewan gubernur hingga data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali babak belur pada perdagangan Senin (18/5/2026). Bursa saham ambruk, rupiah kembali mencetak level penutupan terlemah sepanjang sejarah, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tajam.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak dalam tekanan pada hari ini, Selasa (19/5/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin kemarin ditutup turun 1,85% atau 124,08 poin ke level 6.599,24.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.398,79-6.631,28. IHSG bahkan mengawali perdagangan dengan penurunan lebih dari 2% dan sempat ambruk lebih dari 4% pada sesi I.

Sebanyak 647 saham melemah, 129 saham menguat, dan 183 saham stagnan. Aktivitas transaksi terbilang ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp20,47 triliun, melibatkan 29,72 miliar saham dalam 2,54 juta kali transaksi.

Kapitalisasi pasar IHSG juga merosot menjadi Rp11.539 triliun. Adapun investor asing masih melakukan net sell dengan total Rp463,9 miliar.

Mengutip Refinitiv, sektor bahan baku menjadi penekan terbesar IHSG dengan koreksi 6,55%. Setelah itu, sektor utilitas melemah 2,96% dan sektor kesehatan turun 2,75%.

Tekanan besar datang dari saham-saham yang baru saja dikeluarkan dari indeks MSCI. Saham Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi pemberat utama IHSG, dengan kontribusi masing-masing sekitar 13,67 poin dan 13,23 poin terhadap pelemahan indeks.

Sejak pagi, DSSA dan TPIA sudah melemah hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB), atau turun sekitar 15%.

Selain dua saham tersebut, saham bank jumbo juga ikut membebani IHSG. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang tekanan sekitar 12,55 poin, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membebani indeks sekitar 6,26 poin.

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah juga ditutup melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin.

Melansir data Refinitiv, rupiah berakhir di zona merah dengan pelemahan 1,09% ke level Rp17.650/US$.

Level tersebut membuat rupiah kembali menembus level psikologis baru di atas Rp17.600/US$ dan menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Pelemahan rupiah terjadi pada perdagangan pertama setelah libur panjang keagamaan akhir pekan lalu. Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor global, tetapi juga dari sentimen pasar keuangan domestik.

Salah satu tekanan utama berasal dari kekhawatiran pasar terhadap perubahan komposisi indeks MSCI. Dalam review Mei 2026, MSCI resmi mengeluarkan enam saham Indonesia dari Global Standard Index.

Penghapusan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat membuat bobot Indonesia di indeks emerging market menyusut.

Menurut ekonom DBS Radhika Rao, bobot Indonesia di indeks emerging market diperkirakan turun menjadi sekitar 0,5-0,6%, dari sebelumnya hampir 0,8%.

"Porsi Indonesia yang lebih rendah ini akan mendorong investor untuk menyesuaikan kembali portofolio mereka, sehingga berpotensi memicu tambahan arus keluar asing dalam skala moderat," tulis Radhika Rao dalam riset Indonesia markets: MSCI rebalances index, slippery rupiah, dikutip Senin (18/5/2026).

Investor global yang mengikuti indeks MSCI berpotensi menyesuaikan kembali portofolio mereka. Ketika bobot Indonesia turun, kebutuhan untuk memegang saham-saham Indonesia juga ikut berkurang.

Tekanan ini dapat membuka ruang keluarnya dana asing tambahan dari pasar saham domestik. Pada akhirnya, permintaan terhadap rupiah ikut melemah karena aliran dana asing ke pasar saham belum cukup kuat.

Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun ditutup naik tajam 2,12% ke level 6,851% pada perdagangan Senin kemarin.

Kenaikan yield menunjukkan harga SBN sedang turun karena tekanan jual meningkat. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi di saham dan rupiah, tetapi juga merembet ke pasar obligasi pemerintah.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |