Harga Emas Bangkit, Tapi Bayang-Bayang Krisis Malah Menghantui

4 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas naik tipis pada di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) setidaknya membantu menahan tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan kekhawatiran inflasi akibat naiknya harga minyak.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (18/5/2026) ditutup di posisi US$ 4565,09 per troy ons atau menguat 0,6%. Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya ambruk 4,14% dalam empat hari beruntun.

Pada hari ini Selasa (19/5/2026) pukul 06.38 WIB, harga emas menanjak 0,48% ke US$ 4586,86.

Indeks dolar melemah ke 99,128 pada perdagangan kemarin, setelah bertengger di 92,284 pada hari sebelumnya.

Pelemahan dolar membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain karena pembeliannya dikonversi ke dolar AS. Namun, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS diperkirakan akan membatasi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Sebagai catatan, imbal hasil surat utang global melonjak kemarin.

Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 30 tahun sempat naik menjadi 4,17% kemarin, level tertinggi sejak tenor tersebut pertama kali diterbitkan pada 1999.

Yield Bund Jerman tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011, dan yield gilt Inggris tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 1998.

Imbal hasil US Treasury juga melonjak ke level tertinggi sejak 2007.

Kekhawatiran inflasi meningkat karena harga minyak naik akibat perang AS-Israel melawan Iran. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga.

Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya kurang diminati saat suku bunga tinggi, karena investor beralih ke aset dengan keuntungan lebih besar.

Beberapa bank mulai menurunkan proyeksi harga emas jangka pendek. JPMorgan Chase misalnya memangkas perkiraan rata-rata harga emas tahun 2026 menjadi US$5.243 per ons dari sebelumnya US$5.708.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |