'Tsunami' Pengangguran Hantam Negara Ini, Kian Parah Usai Rezim Kolaps

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Puluhan ribu pemuda Nepal kini beramai-ramai melamar pekerjaan. Mengutip AFP, Senin (12/1/2026), sekitar 27.000 orang memenuhi kantor polisi pusat, berharap bisa menjadi polisi sementara akhir pekan lalu.

Semenjak penggulingan rezim pemerintah Perdana Menteri (PM) K.P. Sharma Oli di September 2025, data menyebut hampir 15.000 orang kehilangan mata pencarian di negeri itu. Bahkan kerugian mencapai US$586 juta (Rp 9,8 triliun).

Sarika Karki, 20 tahun, misalnya. Ia mengatakan berharap bisa "mendapatkan uang saku".

"Saya generasi Z, tetapi saya tidak punya pekerjaan," katanya.

"Saya berharap pemilihan akan berjalan dengan baik, dan saya dapat membantu dengan cara saya sendiri sebagai petugas polisi sementara," ujarnya.

Hal sama juga dikatakan Nischal Poudel, 30. Ia sebenarnya sempat bekerja di hotel, namun kini menganggur.

"Hanya Tuhan yang tahu apakah saya akan terpilih, tetapi sekarang saya telah melamar dan saya yakin sesuatu yang baik akan terjadi," ujarnya.

Nepal sendiri berencana untuk mengisi 149.090 posisi polisi menjelang pemilihan umum (pemilu) bulan Maret. Setiap rekrutan dibayar sekitar US$280 untuk 40 hari pelayanan.

Sebenarnya, dari data pemantau PBB, jumlah itu sangat kecil. Pendapatan nasional bruto per kapita pada tahun 2025 adalah US$1.404.

"Hari Minggu adalah hari libur nasional, tetapi begitu banyak orang, sebagian besar (dari mereka) kaum muda, mengantre di luar kantor polisi dengan penuh antusias," kata juru bicara polisi Abinarayan Kafle.

"Para petugas sementara akan ditugaskan untuk mengatur antrean di tempat pemungutan suara, membawa kotak suara, dan tugas-tugas logistik lainnya," tambahnya.

"Ada antrean di seluruh 77 distrik untuk mengisi formulir aplikasi pada hari Senin."

Perlu diketahui, lebih dari 839.000 warga Nepal meninggalkan negara berpenduduk 30 juta jiwa itu untuk bekerja di luar negeri tahun lalu. Sebanyak 82% tenaga kerja negara itu berada dalam pekerjaan informal.

Sebelumnya demonstrasi yang dipimpin pemuda, meruntuhkan pemerintahan komunis tahun lalu. Ini awalnya dipicu oleh kemarahan atas larangan singkat pemerintah terhadap media sosial, lalu merembet ke frustrasi yang lebih dalam atas korupsi dan kesulitan ekonomi.

Setelah penindakan polisi menewaskan para demonstran muda, kerusuhan menyebar dan gedung parlemen dibakar, yang menyebabkan runtuhnya pemerintah. Setidaknya 77 orang tewas kala itu.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |