Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus pembajakan kapal yang menimpa warga negara Indonesia kembali terjadi. Terbaru, empat WNI dilaporkan diculik di perairan Gabon, Afrika Barat, pada dini hari Sabtu (10/1/2026). Keempatnya berada di atas kapal trawler IB Fish 7 yang saat itu tengah beroperasi. Selain WNI, para pembajak juga menyandera lima warga negara China serta beberapa warga negara Burkina Faso yang bekerja di kapal tersebut.
Insiden ini mengingatkan publik pada salah satu kasus aksi bajak laut paling dramatis dan legendaris dalam sejarah pelayaran Indonesia, yakni pembajakan Kapal MV Sinar Kudus oleh bajak laut Somalia pada 2011. Peristiwa itu menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya kapal berbendera Merah Putih dibajak di perairan internasional.
Pembajakan MV Sinar Kudus terjadi pada 16 Maret 2011. Kapal berbobot 8.911 ton itu sedang berlayar dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara, menuju Rotterdam, Belanda, dengan muatan feronikel milik PT Aneka Tambang (Antam) sekitar 1,5 ton. Dalam aksinya, para perompak Somalia menuntut tebusan lebih dari US$ 4,5 juta.
Saat dibajak, kapal tersebut diawaki oleh 20 orang WNI. Situasi ini langsung memicu respons serius dari pemerintah Indonesia. Presiden SBY saat itu memerintahkan dan mengomandoi langsung operasi militer selain perang (OMSP) untuk memastikan keselamatan seluruh ABK, sembari proses negosiasi tetap berjalan.
Panglima TNI kemudian meminta Kolonel Laut (P) Achmad Taufiqoerrochman menjadi komandan misi. Sebelumnya, Taufiqoerrochman berpengalaman melawan bajak laut. Dalam autobiografinya Kepemimpinan Maritim (2019) dia bercerita pernah berduel satu lawan satu dengan bajak laut di Selat Malaka. Meski sudah ada pengalaman tempur, dia mengaku perencanaan operasi sangat sulit karena keterbatasan informasi intelijen, pergerakan sandera yang terus berpindah, serta fakta bahwa operasi harus dilakukan di wilayah negara lain.
Namun satu keputusan penting segera diambil, yakni mengerahkan kekuatan besar untuk menciptakan efek kejut dan daya gentar.
"Saya menggunakan dua kapal, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 dan KRI Yos Sudarso-353. Saya mengomandoi 480 personel, terdiri dari ABK, Kopaska, Denjaka, Gultor Kopassus, dan Taifib. Pasukan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Somalia pada pukul 18.00 WIB," tulis Taufiqoerrochman.
Setelah berhari-hari berlayar, tibalah pasukan TNI di Somalia. Di sana terpantau MV Sinar Kudus telah lego jangkar di laut dan para ABK kapal kerap dipindah-pindahkan sehingga jumlah sandera tidak pernah berada di satu titik yang sama. Lalu di wilayah itu, terdapat 15-20 kelompok perompak yang masing-masing beranggotakan sekitar 30 orang dan dijaga ketat oleh pasukan bersenjata.
Sejak itu, TNI melakukan perencanaan matang dan akhirnya MV Sinar Kudus akhirnya dibebaskan pada 1 Mei 2011. Mengutip Detik.com, pembebasan dilakukan melalui negosiasi dan pembayaran tebusan oleh pihak pemilik kapal, yakni PT Samudera Indonesia. Namun, dalam fase akhir operasi, terjadi kontak senjata ketika perompak berusaha melarikan diri. TNI pun berhasil menewaskan empat perompak Somalia.
Kasus MV Sinar Kudus hingga kini dikenang sebagai salah satu operasi maritim paling berani yang pernah dilakukan Indonesia, sekaligus menjadi pengingat ancaman pembajakan terhadap WNI di laut lepas masih nyata dan berulang hingga hari ini.
(mfa/mfa)


















































