Terungkap Penyebab Kunjungan Wisatawan 'Meledak' di Jogja Saat Nataru

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Ramainya Yogyakarta saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 hingga viral di media sosial bukan terjadi tanpa sebab. Pemerintah menilai fenomena tersebut merupakan dampak lanjutan dari perubahan besar pada pola pergerakan wisatawan. Akses yang makin mudah membuat arus perjalanan di Pulau Jawa melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir.

"Kalau Jawa tidak problem. Jawa bisa naik motor, mobil, kereta, pesawat, semua. Yogyakarta tumpah ruah ya Nataru ini karena apa? Keberhasilan pemerintah untuk membuat program infrastruktur," kata Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ni Made Ayu Marthini di Artotel Jakarta, Senin (19/1/2026).

Pembangunan infrastruktur transportasi telah memangkas waktu tempuh antarkota secara signifikan. Perjalanan darat yang dulunya memakan waktu belasan jam kini bisa ditempuh jauh lebih cepat. Kondisi inilah yang mendorong lonjakan mobilitas wisatawan, khususnya di Jawa.

"Jadi dulu kalau dari Jakarta ke Jogja sebelum adanya tol, mungkin 12 jam kalau enggak 13 jam. Sekarang teman saya yang memang F1 dia ya, 5 jam dia bisa, ngebut," kata Made.

Fenomena serupa juga terjadi pada rute-rute utama lain seperti Jakarta-Surabaya. Tingginya pilihan moda transportasi membuat pergerakan di dalam Pulau Jawa menjadi sangat dinamis. Karena itu, pemerintah relatif tidak mengkhawatirkan pergerakan wisatawan di kawasan ini.

"Nah, ini terjadi. Jakarta ke Surabaya juga. Nah, kalau Jawa kita enggak worry, Jawa. Within Jawa itu pergerakan luar biasa."

Di sisi lain, Kemenparekraf melihat lonjakan wisatawan sebagai peluang ekonomi yang harus dimaksimalkan melalui kampanye terstruktur. Setiap periode libur dinilai sebagai momentum untuk mendorong belanja wisata dan perputaran ekonomi daerah. Pemerintah pun menyiapkan peta promosi pariwisata yang berlapis sepanjang tahun.

"Kami ingin bersama-sama, misalnya Nataru sudah selesai nih, sekarang Imlek nih coming up ya. Setiap libur artinya opportunity untuk berwisata. Setiap berwisata, itu artinya perputaran ekonomi lokal," katanya.

Setelah Imlek, perhatian pemerintah langsung tertuju pada Lebaran yang disebut sebagai pergerakan manusia terbesar di dunia. Besarnya mobilitas masyarakat Indonesia menjadikan momen ini krusial bagi sektor pariwisata dan transportasi. Angka pergerakan jutaan orang setiap musim libur selalu menjadi perhatian utama.

"Move setelah Imlek apa yang besar? Idul Fitri. Wah, this is the biggest perpindahan orang di dunia," ujarnya.

Tak berhenti di situ, strategi promosi juga disiapkan untuk periode libur sekolah hingga masa sepi wisatawan. Pemerintah menilai low season justru perlu diisi dengan kampanye kreatif agar arus wisata tetap terjaga. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menjaga momentum tersebut.

"Nah, ini pas low season, September, Oktober, November, mungkin kita bisa juga nih sebelum nanti Natarunya ya. Ini beberapa hal yang kita ingin offer bersama-sama, kita buat," katanya.

Dalam mendukung semua itu, aspek keterjangkauan tiket tetap menjadi perhatian pemerintah. Kemenparekraf bersama Kementerian Perhubungan dan kementerian terkait berupaya memastikan harga tiket, khususnya pesawat, tetap ramah di kantong saat musim libur. Tujuannya agar mobilitas wisatawan tetap tinggi tanpa menimbulkan beban berlebih bagi masyarakat.

"Dan kita tentu inginnya agar tiket itu tiket pesawat ya terutama, itu affordable ya," ujar Made.

(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |