Di tengah kehancuran perang di Jalur Gaza, sejumlah penjahit berupaya mempertahankan tradisi pernikahan dengan memperbaiki dan mendaur ulang gaun pengantin lama. Di sebuah bengkel jahit kecil di Gaza selatan, Nisreen Al-Rantisi sibuk membentuk kembali gaun-gaun usang agar tetap layak dipakai di tengah melonjaknya biaya hidup dan kelangkaan bahan. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Keluarga-keluarga di Gaza kini kesulitan mendapatkan gaun pengantin baru. Banyak warga akhirnya mencari bengkel jahit yang masih beroperasi untuk memperbaiki gaun lama maupun pakaian anak-anak. Para importir menyebut keterlambatan pengiriman, biaya logistik yang tinggi, dan pembatasan masuknya bahan seperti kristal penghias gaun menjadi penyebab utama kelangkaan serta kenaikan harga. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Situasi semakin sulit karena banyak bengkel rusak selama konflik berlangsung. Rantisi mengatakan ia terpaksa memanfaatkan kembali gaun lama dengan mencuci, menata, dan memperbaikinya agar tampak baru. Pada awal perang, ia bahkan harus menggunakan mesin jahit bertenaga sepeda akibat krisis listrik yang berkepanjangan. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Menurut Rantisi, harga kain melonjak drastis sejak perang pecah. Sebelum konflik, kain biasa dijual sekitar 120 hingga 150 shekel atau setara Rp900 ribu, namun kini harganya mencapai sekitar 500 shekel atau sekitar Rp3 juta. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada harga gaun pengantin maupun pakaian anak-anak yang semakin sulit dijangkau warga. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Badan militer Israel yang mengatur akses ke Gaza, COGAT, belum memberikan tanggapan terkait kondisi tersebut. Sementara itu, sebagian besar dari lebih dari dua juta penduduk Gaza telah mengungsi dan hidup di rumah-rumah rusak, tenda darurat, atau di atas reruntuhan bangunan setelah dua tahun perang. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Meski berada di tengah krisis, sebagian pasangan tetap berusaha merayakan pernikahan mereka. Pernikahan massal sesekali digelar di Gaza untuk menghadirkan sedikit kebahagiaan di tengah situasi yang suram. Namun para pekerja toko menyebut harga gaun kini tidak lagi masuk akal bagi kebanyakan warga. (REUTERS/Mahmoud Issa)
“Sebelum perang, harga masih terjangkau untuk semua orang. Tetapi sekarang harga gaun pengantin sangat tidak masuk akal,” kata Rawan Shalouf, karyawan sebuah toko gaun pengantin. (REUTERS/Mahmoud Issa)
Calon pengantin berusia 21 tahun, Shahed Fayez, mengaku telah berhari-hari mencari gaun pengantin menjelang hari pernikahannya yang tinggal empat hari lagi, namun belum menemukan yang sesuai. Ia mengatakan harga gaun termurah kini mencapai lebih dari 1.000 dolar AS atau sekitar Rp17,5 juta, sementara seluruh uang mahar yang dimiliki keluarganya bahkan tidak mencapai 200 dolar AS atau sekitar Rp3,5 juta. (REUTERS/Mahmoud Issa)
















































