- Pasar keuangan Indonesia masih tertekan, IHSG ambruk ke level terendah setahun dan rupiah kembali cetak all time low.
- Wall Street ambruk berjamaaah di tengah lonjaknya imbal hasil obligasi 30 tahun
- RDG BI, kebijakan pemerintah hingga data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (19/5/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk, rupiah kembali mencetak level penutupan terlemah sepanjang sejarah, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mulai melandai.
Volatilitas di pasar keuangan Tanah Air diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan hari ini, Rabu (20/5/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup di level 6.370,68 pada perdagangan Selasa kemarin. Indeks ambles 228,56 poin atau turun 3,46%. Posisi tersebut menjadi level terendah IHSG dalam satu tahun terakhir.
Sepanjang perdagangan, sebanyak 647 saham berakhir di zona merah. Hanya 117 saham yang menguat, sementara 195 saham stagnan.
Aktivitas transaksi terbilang ramai. Nilai transaksi mencapai Rp25,71 triliun, dengan 43,29 miliar saham berpindah tangan dalam 2,77 juta kali transaksi.
Sementara itu, investor asing tercatat melakukan aksi beli atau net buy sebesar Rp260,1 miliar.
Mengutip Refinitiv, saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard masih menjadi salah satu sumber tekanan besar bagi IHSG. Sejumlah saham tersebut kembali merosot tajam dan memberi bobot besar terhadap penurunan indeks.
Namun, beban terbesar IHSG justru datang dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham BBCA melemah 2,86% dan menyumbang tekanan sekitar 16,39 poin terhadap IHSG.
Selanjutnya, saham-saham yang dihapus dari MSCI seperti Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga ikut menekan indeks. DSSA menyumbang tekanan sekitar 11,46 poin, TPIA sekitar 11,16 poin, dan AMMN sekitar 8,51 poin.
TPIA dan DSSA bahkan tercatat anjlok hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) atau turun 15%. Sementara AMMN sempat mendekati zona ARB sebelum akhirnya ditutup melemah.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah kembali mengakhiri perdagangan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (19/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,31% ke level Rp17.695/US$. Meski sedikit menjauh dari area Rp17.700/US$, posisi ini tetap menjadi level penutupan all time low rupiah.
Pelemahan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pembukaan pagi, rupiah dibuka melemah tipis 0,06% ke level Rp17.650/US$. Tekanan kemudian sempat semakin dalam hingga rupiah menembus level psikologis Rp17.730/US$ pada perdagangan intraday.
Pelemahan rupiah turut membuat pemerintah ikut bereaksi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum terlalu parah.
Untuk saat ini, pemerintah masih mengandalkan dana dari APBN guna mengendalikan sentimen di pasar surat utang negara, dengan nilai sekitar Rp2 triliun per hari.
Purbaya menjelaskan, pemerintah baru akan menggunakan skema Bond Stabilization Fund (BSF) jika tekanan di pasar sudah jauh lebih berat. Skema tersebut turut melibatkan badan layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan.
"Ini baru cash management. Kalau framework nanti saya panggil SMV dan lain-lain untuk ikut. Tapi sekarang belum separah itu, keadaannya masih relatif lumayan lah," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Dari total dana Rp2 triliun yang disiapkan per hari untuk stabilisasi sentimen di pasar obligasi, Purbaya menyebut dana yang baru terserap untuk intervensi SBN baru sekitar Rp600 miliar.
Menurut Purbaya, jumlah tersebut menunjukkan tekanan jual di pasar SBN belum terlalu besar.
Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun ditutup turun 1,05% ke level 6,779% pada perdagangan Selasa kemarin.
Penurunan yield menunjukkan harga SBN mulai naik karena adanya permintaan di pasar obligasi. Kondisi ini sedikit meredakan tekanan di pasar surat utang, meski secara umum pasar keuangan domestik masih dibayangi pelemahan rupiah, koreksi IHSG, dan penantian terhadap keputusan suku bunga BI.
Addsource on Google
















































