Siap-Siap Senyum Lebar! Besok Ada Kejutan Besar untuk RI dan Prabowo

2 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

04 May 2026 15:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 diperkirakan masih solid di atas 5%. Momentum Ramadan dan Lebaran menjadi salah satu pendorong utama karena biasanya mengerek konsumsi rumah tangga, ditambah lonjakan belanja pemerintah yang ikut memberi dorongan bagi ekonomi.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 besok, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga/institusi, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,40% secara tahunan (year on year/yoy). Namun secara kuartalan, ekonomi diproyeksi terkontraksi 1,0% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

Bila sesuai proyeksi maka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022 (5,73%) sekaligus menjadi yang terbesar di era Presiden Prabowo Subianto.

Sebagai informasi, ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 mampu tumbuh 5,38% yoy.

Apabila polling tersebut sejalan dengan hasil pengumuman BPS, maka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 akan tergolong kuat. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis pertumbuhan kuartal I dalam satu dekade terakhir.

Apabila periode pandemi Covid-19, yakni 2020 dan 2021, dikeluarkan dari perhitungan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia setiap kuartal I sejak 2015 hingga 2025 tercatat sebesar 4,99% yoy.

Ramadan-Lebaran Dongkrak Konsumsi Rumah Tangga

Secara historis, PDB Indonesia cenderung mendapat dorongan pada periode Ramadan dan Lebaran karena konsumsi barang dan jasa meningkat. Hal ini menjadi penting karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional.

Untuk diketahui, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53,63% terhadap total PDB Indonesia. Dengan porsi sebesar itu, kuat atau lemahnya belanja masyarakat akan sangat menentukan arah pertumbuhan ekonomi.

Dorongan konsumsi pada periode Ramadan dan Lebaran juga tercermin dari pergerakan inflasi awal tahun.

BPS mencatat inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,55% yoy pada Januari 2026, kemudian melonjak ke 4,76% yoy pada Februari 2026, sebelum melandai ke 3,48% yoy pada Maret 2026.

Secara bulanan, Indonesia sempat mencatat deflasi 0,15% mtm pada Januari 2026. Namun memasuki Ramadan dan menjelang Lebaran, tekanan harga kembali meningkat dengan inflasi 0,68% mtm pada Februari dan 0,41% mtm pada Maret 2026.

Kenaikan inflasi pada Februari dan Maret menunjukkan adanya peningkatan permintaan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Namun, inflasi Maret yang kembali melandai secara tahunan juga menunjukkan tekanan harga masih relatif terjaga.

Kondisi ini cukup penting mengingat harga energi dunia tengah mengalami kenaikan tajam akibat konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Kenaikan harga minyak global biasanya dapat merembet ke inflasi domestik melalui harga BBM, biaya transportasi, hingga harga barang dan jasa.

Kendati demikian, tekanan tersebut masih dapat diredam karena pemerintah masih menahan kenaikan harga energi domestik, termasuk BBM.

Dengan harga BBM yang relatif terjaga, dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap inflasi domestik belum sepenuhnya terasa.

Keyakinan Konsumen Tetap Tinggi

Selain inflasi, indikator lain yang menunjukkan konsumsi rumah tangga masih cukup kuat adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI), keyakinan konsumen sepanjang kuartal I-2026 masih berada di zona optimistis atau di atas level 100. IKK tercatat sebesar 127,0 pada Januari 2026, kemudian 125,2 pada Februari 2026, dan 122,9 pada Maret 2026.

Meski bergerak menurun sejak Februari, posisi IKK yang masih jauh di atas level 100 menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga.

Investasi Masih Mengalir ke Indonesia

Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal juga menjadi bantalan penting bagi ekonomi.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai Rp498,8 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,2% yoy dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp465,2 triliun.

Secara kuartalan, realisasi investasi masih naik tipis 0,4% dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar Rp496,9 triliun. Capaian ini setara dengan 24,4% dari target investasi tahun 2026 yang mencapai Rp2.041,3 triliun.

Dari total tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp250,0 triliun atau 50,1% dari total realisasi investasi. PMA tercatat tumbuh 8,5% yoy.

Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp248,8 triliun atau 49,9% dari total realisasi investasi, dengan pertumbuhan 6,0% yoy.

Tidak hanya menopang pertumbuhan dari sisi pembentukan modal, investasi juga berdampak pada pasar tenaga kerja. Sepanjang kuartal I-2026, realisasi investasi mampu menyerap 706.569 tenaga kerja Indonesia, meningkat 18,9% yoy.

Dari sisi negara asal PMA, Singapura masih menjadi investor terbesar dengan realisasi sebesar US$4,6 miliar. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong sebesar US$2,7 miliar, China US$2,2 miliar, Amerika Serikat US$1,3 miliar, dan Jepang US$1,0 miliar.

5 Besar Negara Asal PMAFoto: BKMP

Belanja Pemerintah Melonjak Tajam

Selain konsumsi dan investasi, belanja pemerintah juga memberi dorongan besar terhadap ekonomi pada kuartal I-2026.

Melansir data Kementerian Keuangan, realisasi belanja negara pada kuartal I-2026 mencapai Rp815 triliun, melonjak 31,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp620,3 triliun.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh belanja barang yang meningkat tajam. Realisasi belanja barang tercatat sebesar Rp111,1 triliun, naik 114,6% dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp51,8 triliun.

Lonjakan belanja barang salah satunya dipengaruhi oleh peningkatan belanja untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Realisasi belanja barang untuk program tersebut naik signifikan dari sekitar Rp700 miliar pada kuartal I-2025 menjadi Rp54,4 triliun pada kuartal I-2026.

Belanja pegawai juga meningkat dari Rp79,5 triliun pada kuartal I-2025 menjadi Rp97,1 triliun pada kuartal I-2026, atau tumbuh 22,2%. Kenaikan ini sejalan dengan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) pada periode Ramadan dan Lebaran.

Sementara itu, belanja modal naik 36,7%, dari Rp25,9 triliun menjadi Rp35,4 triliun. Peningkatan belanja modal menjadi sinyal positif karena berkaitan dengan aktivitas pembangunan dan belanja produktif pemerintah.

Dengan kenaikan belanja barang, belanja pegawai, dan belanja modal, belanja pemerintah menjadi salah satu mesin tambahan yang ikut menjaga laju ekonomi kuartal I-2026.

Ekspor Masih Tumbuh, Neraca Dagang RI Surplus

Sementara neraca perdagangan Indonesia selama kuartal I-2026 terpantau surplus US$5,54 miliar. Surplus tersebut berasal dari surplus Januari sebesar US$0,95 miliar, Februari US$1,27 miliar, dan Maret US$3,32 miliar.

Surplus neraca perdagangan Indonesia untuk periode Maret 2026 tergolong cukup tinggi karena melonjak dibandingkan Februari 2026 yang sebesar US$1,27 miliar.

Apabila dilihat lebih rinci, nilai ekspor Indonesia pada Maret 2026 mencapai US$22,53 miliar atau turun 3,10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, nilai impor Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar US$19,21 miliar atau tumbuh 1,51% secara tahunan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |